Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

CORONA DAN PRASANGKA BAIK

1

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Seorang sahabat mengirim pesan di group WA, “Jangan gedhubrakan. Corona itu hanya makhluq, takutlah pada sang Khaliq”.

Saya dan anggota lain terdiam. Tak ingin menjawab dengan kalimat apapun sebab kami tahu saat ini bukan waktunya eyel-eyelan.

Ketika berita valid disiarkan ada sekian korban Covid-19 di negri ini, bahkan ada mentri dan pejabat tinggi dinyatakan positif terkena, masak sih kami mau berdebat? Semalam informasi datang bertubi, istri Pak X kena, dokter Y panas dua hari panas gagal nafas. Duh, Gusti Allah :'(

::

Memang, kita harus yakin bahwa tak ada kejadian di bumi yang menimpa kita kecuali telah tertulis di Lauful Mahfudz sebelum kejadian itu menjadi nyata. Maka ya, harus tawakkal.

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Ma’idah: 23)

Tapi, bukankah kita juga diajarkan untuk berikhtiar? Sebab tawakal yang benar adalah tawakal yang disertai dengan ikhtiar (usaha). Sunnatullah bahwa segala sesuatu memiliki sebab dan akibat. Allah memerintahkan bertawakal dan Allah juga yang memerintahkan untuk mengambil sebab. Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang atau suatu kaum jika mereka tidak berusaha mengubahnya sendiri.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’du: 11)

Maka dalam hal ini, monggo kita dengarkan saja ahlinya. Toh semua saran para dokter atau pakar kesehatan terkait pencegahan corona, telah diajarkan pula oleh agama kita.

::

Nuwunsewu, ijinkan saya nyontek cerita tentang Khalifah Umar bin Khattab ini ya.

Tahun 18 Hijriyah. Hari itu Khalifah Umar bin Khattab ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti didaerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha’un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yg akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan. Dialog yang hangat antar para sahabat, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah. Umar yang cerdas meminta saran Muhajirin, Anshar, dan orang yang ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat.

Bahkan Abu Ubaidah ra menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT?

Lalu Umar ra menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing, ada 2 lahan yang subur dan ada yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain.

Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf ra mengucapkan hadist Rasulullah SAW,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Umar ra merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya, Abu Ubaidah ra. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Namun Abu Ubaidah ra, tetap ingin bersama rakyatnya, hidup dan mati bersama rakyatnya. Umar ra pun menangis membaca surat balasan itu.

Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha’un dinegeri Syam.

Total sekitar 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu..

Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Karena Allah, lantaran kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini.
 
Amr bin Ash berkata:
Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung..

Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

::

Dari cerita diatas , kita bisa menyimpulkan bahwa ada ikhtiar yang harus kita lakukan saat menghadapi merebaknya virus mematikan seperti corona ini.

Pertama, jangan mendatangi kota atau tempat yang terindikasi virus.

Kedua, menghindari kontak yang tidak perlu. Termasuk jabat tangan atau cipika cipiki.

Memang ada sih yang menyayangkan, “Salaman penuh berkah kok dilarang”. Tenang, Gaes. Ini sementara. Sampai semua aman saja.

Ketiga, hindari kerumunan massa.

Lha, Mekkah Madinah saja, pusat ibadah umat Islam ditutup sementara lho. Munas NU yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa juga urung. Bahkan dari video kiriman seorang guru yang mukim di Kuwait, muadzin mengubah kalimat azan dari ‘hayya ‘alasshalah’ yang berarti mari kita sholat, menjadi ‘shollu fi rihaalikum’ yang bermakna: sholatlah kalian di rumah.

Maka wajar kalau kampus-kampuspun juga sudah menutup aktifitas sementara. Kuliah online. Sekolah juga memutuskan untuk menyelenggarakan belajar di rumah, sesuai instruksi Mendikbud.

::

Apalagi yang bisa kita lakukan?
Menjaga kesehatan dan kebersihan. Sering berwudlu dan cuci tangan. Berjemur matahari dari teras rumah, menjaga sirkulasi udara.

Apa lagi? Berdoa. Ya, ini kuncinya, berdoa. Saya termasuk yang percaya ngendikan guru kyai bahwa taqdir itu masih bisa dinego. Salah satunya dengan berdoa, memperbanyak baca shalawat thibbil qulub, dan doa lain yang diijazahkan para guru kyai kita. Banyak, macem-macem, mau baca yang mana monggo.

Kemarin para kyai berdoa serentak, mendoakan kita semua. Bahkan semalam para bu nyai dan santri sholat sunnah hingga 100 rakaat, membaca Rattib Haddad dan Istighosah. Memohon sehat dan selamat pada Yang Maha Menyelamatkan, untuk keluarga dan seluruh umat.

::

Maka, pada keadaan yang serba tak menentu ini ayo hindari saling menyalahkan ya. Apalagi mencibir, menyinyir, dan memaki.

Untuk panjenengan yang sudah memiliki rasa tenang, jangan meremehkan yang masih gelisah. Monggo membantu menenangkan yang lain dengan cara yang baik. Yang memiliki waktu dan ilmu untuk berikhtiar, ayo mengajak yang lain dengan cara yang ahsan. Tak perlu menyindir.

Saatnya kita introspeksi bahwa sebesar apa pun kita, ternyata bisa kalang kabut dengan ciptaan Allah yang sangat kecil dan tak terlihat bernama virus. Ini kesempatan untuk kita berempati dan peduli. Berbagi apa pun yang kita punya untuk sesama: ilmu, pengetahuan, dan doa.

Saatnya kita menaati pimpinan dan arahan ulama. Saatnya kita merendahkan hati serendah yang kita mampu, agar kebaikan dapat kita sesap sebanyak mungkin. Semata demi ridlo Ilahi.

Terakhir, yuk kita hadapi global pandemik Covid-19 ini dengan tetap berprasangka baik pada ketetapan Allah. Prasangka baik ini yang membuat kita tetap tenang. Bukankah ketenangan akan bisa menjaga kita untuk selalu berpikir baik dan melakukan yang terbaik?

Bismillah. Semoga kita semua sehat, selamat, dan panjang umur dalam ketaatan.

Bismillahilladzi laa yadlurru ma’asmihi, syay’un fil ardhi walaa fissamaa’ wa huwassamiul ‘alim

“Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak berbahaya. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

Wallahu a’lam.

  • Bataranila, 16 Maret 2020 –
17+

K.H.R AZAIM IBRAHIMIY: Makna Silaturahmi, Muhasabah Dan Ujian

Previous article

SANTRI ITU HARUS SERBABISA

Next article

You may also like

1 Comment

  1. Siap, ikhtiar harus tetap dulakukan

Comments are closed.