Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

GURU TAK PERNAH LIBUR

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Sejak pengumuman resmi belajar di rumah untuk menghindari penyebaran virus corona, orangtua mulai heboh. Beragam kesan dan komentar terungkap di group WA atau efbi. Hari pertama masih ada lucunya ya, “Asyik tuh, para guru keturutan bisa merdeka mengajar. Nggak papalah sesekali kami bisa puas main bareng anak”.

Hari kedua muncul keluhan, “Aduh, kuwalahan nih. Cucian belum selesai, rumah berantakan, masak belum mateng, peer anak-anak juga belum kelar. Gurunya ini gimana sih, ngasih pertanyaan kok sulit banget”.

Hari ketiga mulai ada kesan kesal, sebal, dan kemarahan, “Tadi pagi saya sampai khilaf, Um. Saya bentak dan cubit anak kedua saya. Mengganggu adiknya terus. Nggak mau mengerjakan tugas, membantah, ngomong jorok lagi. Pasti ini ketularan teman-temannya. Ke mana saja gurunya selama ini?”

Dan pagi ini, saya tertegun membaca press release Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), “Pembelajaran Daring Dikeluhkan Orangtua, Guru Gagal Paham Home Learning”.

See? Guru terus kan yang salah, Gaes?

::

Padahal begini ya. Jadi guru itu nggak pernah libur. Sejak sebelum tahun pelajaran baru, guru sudah harus menyiapkan perangkat pembelajaran, mulai bedah standar kompetensi, membuat RPP hingga menentukan angka KKM dan membuat bank soal. Itu pun masih harus membagi kelas, menyusun absen, merapikan kelas, menyiapkan segala kelengkapan ruangan dan alat tulis. Untuk guru SD malah amboi, harus menghias kelas, nabung sebanyak mungkin permainan dan menyiapkan kartu nama untuk murid baru, Gaes.

Gitu itu ya, pas mulai masuk sekolah, kami bukan hanya sibuk mendampingi murid lho. Namun, juga menghadapi orangtua murid. Khusus kelas 1 sampai kelas 3 SD, yang sekolah bukan hanya anaknya. Biasanya orangtua juga ikut sekolah ya. Untuk itulah kami harus punya bekal strategi komunikasi, paham manajemen kelas, dan juga stok kesabaran tanpa batas.

Bayangkan nih. Saat pekan pertama sekolah, orangtua kan masih boleh nganter masuk sekolah tuh. Mulailah sidak, “Kok tempat sampahnya kecil? Itu rak sepatunya terlalu tinggi. Anak saya jangan boleh lari-lari ya, Bu. Kalau wudlu jangan sampai seragam anak saya basah, awasi ya Bu. Oh ya, tadi saya bawakan bekal lengkap, tolong ingatkan agar sayurnya dimakan ya. Jangan boleh duduk dekat si A teman TK dulu, anak saya pendiam nanti dikepruk. Eh, hari ini saya terlambat jemput ya, titip anak saya dulu”.

Huaaaaa. Tarik nafas, hembuskan pelan 😊

Ini belum protes pada ranah akademik lho. Tak ada pe-er, salah. Ada pe-er juga salah. Berbeda penjelasan dengan guru kursus, guru ditegur. Guru mengupayakan pembelajaran menyenangkan, dikira tak serius menyampaikan materi. Ketika sungguh-sungguh menerapkan kurikulum, eh malah dituduh membebani anak.

Begitulah, Gaes. Menjadi guru memang luar biasa yo. Susah? Tentu. Repot? Pasti. Makanya, tak semua orang bisa tahan lama jadi guru.

::

Eits. Ini bukan narsis lho. Dianggap curhat bolehlah. Atas nama pribadi ya, saya tidak membawa lembaga mana pun saat nulis ini.

Kemarin saya dapat WA protes lain, “Nggak adil kalau guru dibandingkan dengan orangtua saat seperti ini. Kalau orang tua kuwalahan ngajar anak di rumah, ya memang profesinya bukan guru kok. Lagian kan saya punya kerjaan utama, Um. Belajar di rumah ini benar-benar merepotkan. Harusnya kan daring (dalam jaringan, online) lebih disiapkan, yang kreatif gitu”.

Oke, sip. Begini ya, Bunda. Kejadian corona ini kan di luar dugaan tho. Mendadak. Jadi jika materi daring ada sedikit kekurangan, mohon dimaklumi. Tapi saya yakin, semua guru sudah berupaya optimal. Menyiapkan jadwal belajar online, membuat tutorial, memberi tugas dan menilainya, juga membuat laporan dan catatan harian. Semua guru, pada semua sekolah.

Meski murid belajar di rumah, bukan berarti guru berleha-leha kan? Semoga ini hanya 14 hari saja, agar jangan sampai seperti yang ditakutkan Ami Habibi Muhammad, “Anak jadi sadar cara ngajar emaknya lebih horor dari gurunya”.

::

Maka, ayolah kesempatan dua pekan ini kita manfaatkan dengan baik. Orangtua menjadi lebih dekat dengan anak. Orangtua menjadi lebih paham kebiasaan anak dari pagi hingga pagi lagi, juga perkembangan sikap perilaku dan kemampuan anak. Tapi, orangtua juga bisa mengajarkan pada anak tentang tanggung jawab di rumah kan ya.

Yang terpenting, melalui kesempatan ini kita jadi bisa berempati pada guru lho. Iya, kita hanya menghadapi satu, dua atau tiga anak di rumah. Guru harus mendidik 24 atau 30 anak dalam satu kelas. Sementara jadwal per hari bisa sekian kelas. Itu pun, guru bukan hanya transfer ilmu, tapi lebih dari itu harus menanamkan karakter terbaik pada semua anak.

Jadi, tugas guru itu nggak bisa bim salabim abrakadabra. Mendampingi anak agar paham semua pelajaran sekaligus menanamkan akhlak mulia itu butuh proses yang panjang. Tak boleh berhenti. Tak ada libur. Bahkan ketika tanggal merah pun, guru harus tetap bisa menjadi teladan.

Maka selain upaya lahiriyah, guru harus terus belajar dan memperbaiki diri, ada ikhtiar batin yang tak boleh ditinggal oleh setiap guru yaitu riyadlah. Tirakat dan mendoakan murid setiap saat.

::

Terakhir, guru itu penyampai ilmu dan pembimbing jiwa ya, Bunda. Jika Bunda telah menitipkan putra-putri Bunda pada seorang guru, maka percayakan sepenuhnya. Kalau ada hal yang salah atau membuat Bunda kurang berkenan, sampaikan baik-baik pada guru atau sekolah. Mother iyes (mbok yao) jangan protes di sosmed atau bahkan lapor KPAI talah.

Yuk Bunda, kita ajarkan pada ananda untuk selalu ta’zhim dan memuliakan guru agar mendapat ilmu bermanfaat dan barokah ya. Sebab menyitir ngendikan Ning Uswah yang disadur dari kitab Washoya, “Sesungguhnya durhaka kepada orangtua masih bisa bertaubat dan meminta maaf kepada mereka, dan orang tua pasti memaafkan karena orangtua adalah murabbiljasad. Namun, ketika seorang murid menyakiti hati guru, maka cahaya ilmu akan padam seketika dari dada seorang murid sebab guru adalah murobbirruh”.

  • Rajabasa, 20 Maret 2020 –

6+

PESANTRENKU KEREN

Previous article

AKREDITASI MADRASAH Tim Asesor Sidogiri Datangi MADIN MU

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.