Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

MASA DEPAN PENGHAFAL AL QUR’AN

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly


Salah satu potensi besar umat Islam Indonesia yang belum tergarap secara maksimal adalah banyaknya kader muslim penghafal Al Qur’an, yang dihasilkan oleh pesantren-pesantren atau lembaga khusus penghafal Al Qur’an. Jumlah penghafal Al Quran yang ribuan atau bahkan puluhan ribu dan tersebar di seluruh negeri ini masih belum sebanding dengan kontribusi dan peran yang dimainkan dalam kehidupan sosial. Padahal jika mereka diberdayakan secara optimal, tentu akan menjadi kader muslim potensial yang tidak saja mampu memahami ajaran Islam secara komprehesif, tetapi juga dapat mengkontekstualkannya dalam menjawab kebutuhan dan tantangan umat Islam dewasa ini.

Inilah yang mendasari keinginan KH. Hasyim Muzadi allahu yarham untuk membangun sebuah lembaga khusus penghafal Al Quran. Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran Al Hikam (STKQ), dibawah Yayasan Pesantren Al Hikam.

::

Gus Arif Zamhari, salah satu menantu KH Hasyim Muzadi yang kini juga mengelola Al Hikam Jakarta, mengatakan bahwa potensi kekuatan para penghafal Al Quran yang berusia rata-rata 18-23 tahun ini, umumnya memiliki tingkat kesalehan yang tinggi. Modal kesalehan ini sangat penting terutama jika disertai dengan modal kecerdasan dalam bingkai keilmuan.

Disamping itu, para penghafal Al Quran memiliki daya ingat yang sangat kuat. Hal ini sangat dibutuhkan bagi proses pembelajaran berbagai macam ilmu keislaman yang tidak saja mengandalkan olah nalar tapi juga potensi daya ingat.

Kesalehan yang dimiliki para penghafal Al Quran inipun, sejatinya dapat menjadi modal untuk berjuang dengan penuh keikhlasan untuk kepentingan masayarakat dan agama.

Namun demikian, menurut peraih gelar PhD dari Department Anthropology, Asian Pacific College, The Australian National University (ANU) yang kini meneruskan perjuangan Abah Yai bersama keluarga dan ustadz yang lain ini, terkadang kemampuan menghafal mereka masih bersifat tekstual. Sayang sekali jika pada usia mereka yang masih muda, tidak diberi kesempatan untuk mendalami teks Al Quran secara lebih luas, sekaligus mendalami kitab-kitab lain peninggalan para ulama ahli sunnah wal jamaah.

Maka perlu dibuka peluang bagi mereka untuk meneruskan pendidikan formal ke jenjang lebih tinggi, dengan dukungan penuh.

::

Untuk itu, STKQ bekerja sama dengan PBNU mengundang para santri yang telah berhasil menghafal Al Quran 30 juz dari berbagai wilayah di Indonesia. Bagi santri yang lolos seleksi, diberi beasiswa penuh untuk menjalani proses pembelajaran selama empat tahun.

Gratis. UKT, uang asrama sampai uang makan.

Syaratnya? Ya harus hafal Al Quran 30 juz. Mau belajar kitab turatz dan mengikuti proses perkuliahan sebagaimana seharusnya. Kewajiban lain, mahasiswa harus mengabdi pada masyarakat sekitar pondok pesantren Al Hikam dengan menjadi pengajar Al Quran, sebelum kemudian dilepas untuk mengabdi di tempat yang jauh.

Pengabdian selama satu tahun penuh ini dilaksanakan di daerah 3T: tertinggal, terdepan, terluar. Tersebar dari Sabang sampai Merauke.

::

Tantangan yang dihadapi apa aja, Gus?

Banyak. Mulai sejak proses perkuliahan sampai saat pengabdian. Ada masalah serius, ada yang lucu juga.

Tiap angkatan terdiri 40 mahasiswa saja, sementara permintaan untuk menerima mahasiswa pengabdian dari daerah selalu mengalir deras. Sering, daerah yang telah menerima, sulit melepas peran dakwah mereka.

Maka banyak mahasiswa pengabdian yang akhirnya mendapat waqaf tanah, masjid bahkan dicarikan jodoh oleh masyarakat setempat agar tetap mau tinggal. Ahahaha bathi, rek.

Beruntung program santri pengabdian seperti ini juga dimiliki oleh pesantren NU lainnya. Hingga pembelajaran Al Quran dan kitab kuning kini bisa menyentuh masyarakat di pelosok.

Bahkan beberapa perguruan tinggi negri pun, saat ini telah memiliki program penerimaan mahasiswa penghafal Al Quran ya. Alhamdulillah.

::

Meski tentu saja, jumlah penghafal Al Quran muda di Indonesia masih banyak yang belum mendapat fasilitas pembelajaran kitab dan materi lain di lembaga formal. Masih banyak juga masyarakat di daerah terpencil yang menunggu peran mereka untuk mempelajari Al Quran dan mendalami ilmu agama lain.

Jadi yuk, dukung program ini ya. Ikuti juga ngobrol Kiswah Interaktif nanti sore, bersama Gus Arif Zamhari di TV9, Ahad 30 Agustus 2020, pkl 16.30-17.30.

Semoga bermanfaat.

.
Sumber: hasil wawancara dan wali sanga online.

9+

NGAJI BARENG KASYFUL GHAMMAH, JAMAAH PADATI MUSHALLAH

Previous article

Melalui PROTA, YPP MU Terus Berusaha Berbagi dan Bermanfaat

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.