Artikel

Santri Dilarang Pacaran!

2

Oleh: Fawaizul Umam*

Tak ada satu pun pesantren yang membolehkan para santri pacaran. Terlarang keras. Ini termasuk salah satu kekhasan pesantren yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan nonpesantren. Larangan pacaran bahkan jadi salah satu penanda konsistensi pesantren memuliakan akhlaq santri di samping memintarkan mereka. Dalam satu hal, larangan ini juga jadi salah satu pembeda pesantren dengan kos-kosan.

Semua pesantren melarang santrinya pacaran, tak terkecuali di YPP Miftahul Ulum. Di sini, pacaran malah masuk kategori pelanggaran berat yang bisa berujung pengembalian santri pelaku kepada wali atau orangtuanya.

Yang dilarang keras itu berpacaran, bukan jatuh cinta. Itu dua hal berbeda. Pacaran itu pilihan, sedangkan jatuh cinta itu anugerah. Mencintai atau jatuh cinta tentu boleh, terutama karena itu given, di luar kendali. Adapun pacaran cuma salah satu manifestasi dari mencinta dan itu sepenuhnya pilihan. Namun, berhubung mudlarat-nya bagi santri jauh lebih besar tinimbang manfaatnya, pilihan tersebut ditiadakan. Santri dilarang keras memilih untuk mengkspresikan cinta dalam rupa pacaran.

Mengapa sih santri dilarang keras berpacaran?

Setidaknya ada dua alasan utama yang lazim. Pertama, tentu alasan syar’i. Mekanisme pacaran tidak dikenal dalam Islam sebagai media mencari jodoh. Pacaran cenderung membuka pintu kemungkinan para pelaku menerabas batas-batas yang dipatok syariat. Dari situlah aneka kemudlaratan bermula. Dalam pandangan pesantren, melanggar syariat adalah hal yang sangat ditabukan. Para santri dilatih serius 24 jam untuk menghindarinya. Dan pacaran berpotensi jadi awalan yang merusak keseriusan itu.

Yang dibolehkan dalam Islam itu ta’aruf. Ini mekanisme yang memungkinkan lelaki dan perempuan saling mengenal sebelum memutuskan memadu diri dalam pernikahan. Dan ta’ruf beda banget dengan pacaran. Keduanya sangatlah berbeda, baik tujuan, cara, dan prosesnya.

Dalam tradisi pesantren, proses ta’aruf antara santri banin (putra) dan banat (putri) atau antara ustadz dan santri putri (jarang sebaliknya, santri putra dengan ustadzah) biasanya difasilitasi oleh pengasuh pesantren, kyai. Oleh kyai, ta’aruf ini lazim diperuntukkan kepada santri-santri senior yang dipandang telah siap mengayuh biduk rumah tangga. Gampangnya, ta’aruf adalah proses penjodohan yang dioptimalkan tidak mencederai syariat. Jangan dibayangkan proses ta’aruf dilakukan dengan membiarkan kedua santri bertemu akrab, saling bertukar pandang, dan berbincang berduaan layaknya orang pacaran. Sama sekali tidak.

Inisiatif ta’aruf bisa dari kyai, bisa pula dari santri bersangkutan yang memohon bantuan untuk dijodohkan. Biasanya, proses ta’aruf diawali kyai dengan shalat istikharah sebelum menjodohkan santri. Jika isyarat istikharah-nya baik, santri bersangkutan dipanggil. Diberitahu calonnya, digambarkan lengkap, saling diperkenalkan dengan pendampingan langsung kyai. Lanjut atau tidak, tidak ada pemaksaan. Namun, santri biasanya mengiyakan jika sudah diputuskan. Kalaupun menolak, sang kyai tidak pernah memaksa. Dan perkara selesai. Akan tetapi, jika kedua pihak oke, sang kyai biasanya langsung menghubungi orangtua si santri dan rencana pernikahan mulai disiapkan. Memang ada orangtua santri yang menolak, meski sangat jarang.

Orang boleh mendebat tradisi ini. Juga bisa menudingnya kolot, tidak gaul, dan lain-lain. Namun, itulah kearifan yang galib diikhtiari pesantren demi menjaga marwahnya sekaligus memastikan santri tetap berada di jalan syar’i selama proses menuju gerbang pernikahan.  

Selanjutnya, kedua, karena pacaran sangat potensial mengganggu fokus belajar dan beribadah santri. Pelarangan itu bermaksud mengawal santri agar tetap fokus belajar. Di dunia pesantren, pacaran dipandang bisa menjerembabkan santri dalam kubang kemaksiatan. Selain dapat mengacaukan fokus, kemaksiatan juga diyakini bakal melemahkan kemampuan mereka dalam belajar.

Tentang korelasi tingkat penguasaan ilmu dengan frekuensi kemaksiatan, ada sebuah kisah inspiratif yang sangat masyhur di dunia pesantren. Disebutkan, suatu ketika Imam Syafi’i merasa kemampuannya mengingat pelajaran mulai melemah, ia pun mengadukan halnya pada Imam Waki’ ibn Jarrah al-Kufi, sang guru. “Agar hafalanmu kuat, hendaknya kamu meninggalkan kemaksiatan (tarkul ma’ashiy). Ilmu itu cahaya Allah SWT dan cahaya-Nya mustahil betah bersemayam dalam diri pelaku maksiat,” demikian kurang-lebih nasihat sang guru.

Selain memudahkan santri dalam memahami ilmu dan kuat menghafal, meninggalkan kemaksiatan juga menjadi salah satu penjamin kemanfaatan dan keberkahan ilmu. Di kalangan pesantren, yang paling menakutkan sebenarnya bukan kebodohan, melainkan dianugerahi ilmu tapi tidak bermanfaat. Maka doa kyai dan para santri terutama bukan agar pintar, tapi berilmu manfaat agar hidup penuh barokah. Dan pacaran serta sekian bentuk kemaksiatan lain diyakini bisa menghijab terkabulnya doa tersebut.

Di luar dua alasan itu, santri dilarang pacaran karena mereka terbiasa diajari mengingat dan bukan melupakan. Sejak madrasah diniyah kelas satu, mereka sudah diajari mengingat dan merawat hafalan. Mereka tidak pernah diajari bagaimana cara melupakan. Jadi, bayangkan jika santri terluka gegara pacaran. Ia akan sulit melupakan luka dan mengabaikan kecewa. Sulit melupakan mantan dan kemudian gagal move on. Bawaannya baper terus. Lalu, bagaimana bisa fokus dalam belajar dan beribadah? Runyam kan?

*Wakil Pengasuh YPP Miftahul Ulum.

+16

JELANG TAHUN AJARAN BARU, Semua Guru Di Refresh

Previous article

MADIN MU ADAKAN TES AL-MIFTAH TAHAP 2

Next article

You may also like

2 Comments

  1. Salfok k foto cover nya 😆

  2. Ya runyam dong

Comments are closed.

More in Artikel