Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

TERIMA KASIH UNTUK DOKTER, TENAGA KESEHATAN DAN PARA ULAMA

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Sejak kemarin sore, perasaan saya nano-nano. Grogi poll, karena harus nge-host di acara yang dihadiri para alim ulama, Kyai Bunyai, Gus Ning, pengasuh pondok pesantren, para dokter dan tenaga kesehatan, juga para santri dan masyarakat. Orang-orang yang sangat saya tadzimi, sepenuh hati.

Ba’da maghrib saya mendapat kabar, peserta sudah banyak masuk zoom. Padahal acara masih akan berlangsung pkl 19.30. Saya menerima foto dari Ust. Rudi Hantono, terlihat Buya Hayatul Ihsan bersama ratusan santri putra YPP Miftahul Ulum Wongsorejo Banyuwangi telah duduk berjajar rapi dalam masjid dengan jarak protokol covid. Dan foto dari Ustd. Nur Hidayati, santri putri MU pun yang siap rapi, menghadap layar LCD di halaman pondok.

“Sholat Isya aja dulu nggih. Yang mau minum atau apa silakan dulu. Ini lama lho, sampai malam”, pesan saya.

Saya agak gupuh, karena Ab Haris Sukamto belum mantuk. Biasanya, beliau yang membantu menyiapkan semua peralatan. Mulai tripod, hape dan laptop cadangan, lampu bulet sampai nyeret kursi. Paling penting, suami kece ini lah yang selalu jaga mood saya selama ngadep kamera, meneruskan kode dari produser TV9 kapan saya masuk, kapan jeda iklan dan kapan saya clossing segmen.

::

Alhamdulillah opening lancar. Santuy, mengalir. Satu-satunya masalah adalah, saya kesulitan membaca titel KH. dr. Muhammad S. Niam, FINACS., M.Kes., SpB-KBD selaku ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama. Juga titel KH.Dr. dr. Zulfikar As’ad MMR, ketua Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama. Hayo, menurut panjenengan itu dibaca fi-nacs atau ef i en a ce es? Dibaca em em er? Untuk amannya, saya sebut saja nama beliau Gus Niam dan Gus Ufik πŸ˜…

Selain beliau berdua ada KH. Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed, ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama, sebuah sayap organisasi PBNU yang khusus menaungi pondok pesantren se-Indonesia.

“Ada berapa pondok pesantren NU yang tercatat dalam RMI, Gus?”

“Ada dua puluh tiga ribu tiga ratus tujuh puluh pondok pesantren NU”

“Terbanyak berapa jumlah santrinya nggih?”

“Ada pondok pesantren dengan jumlah santri 30 ribu, 25 ribu, 20 ribu. Alhamdulillah sekarang agak mudah menemukan pesantren dengan jumlah santri diatas 10 ribu”.

“Lalu selama wabah pandemi ini, bagaimana kondisi pesantren Gus, dan apa peran RMI dalam mitigasi covid?”

Saya lupa. Memberi pertanyaan dobel-dobel begini, mestinya hanya boleh saya lakukan saat Kiswah Interaktif yang waktunya luang untuk satu tamu. Semalam ada 4 tamu, dan masih ada 2 acara inti πŸ˜€

Apalagi saat Gus Luqman ketua Panser NU dan Panglima Gerakan Ayo Mondok mulai ngendikan. Rasanya seperti di WAG, ngepot kanan kiri ples curcol curhat colongan. Jiaaan πŸ™ˆ

Saya sempat nglirik jumlah peserta. Sudah ada 287 akun zoom. Padahal nyaris setiap pesantren atau pengurus cabang NU yang hadir menggunakan layar LCD, nobar dengan puluhan atau ratusan pasang mata. Dan, ada nama pesantren kakak kandung saya, Ning Mufida Ghozaly. Huaaa, saya jadi merasa diawasi malaikat Rokib Atit langsung πŸ™ˆ

::

Sebelum acara inti pembacaan surah Yasin dan Tahlil, dr. Heri Munajib menayangkan 113 nama dokter dan 63 ulama yang wafat selama masa pandemi. Bahkan 3 nama baru ditambahkan menjelang on air karena baru wafat sekian jam sebelumnya. Saya mulai gemetar πŸ™

Lalu saya baca ada nama kakak kandung saya, Gus Wahid Ghozaly dalam deretan yang wafat selama 2020. Ada nama kakak sepupu, ada nama guru dan sahabat saya. Saya mulai terisak tanpa suara. Terbayang wajah mereka semua, kebaikan dan cinta yang sekian tahun ini mereka tebar 😒

Selama pembacaan yasin dan tahlil yang dipimpin KH.Afifuddin Muhajir, Rais PBNU, keharuan menyeruak. Terlebih saat beliau memberi pesan dan ucapan terima kasih pada para dokter. Duh.

Video Ning Alissa Wahid, putri Gus Dur sekaligus pimpinan Jaringan Gus Durian, diputar. Hanya tujuh menit sembilan detik, tapi mampu membuat pertahanan saya ambyar. Saya kembali menangis. Teringat perjuangan para dokter dan tenaga kesehatan. Upaya menyelamatkan para pasien yang berakibat mereka tertular covid, lalu berpulang. Teringat kesabaran para kyai dan bunyai dalam membimbing umat, tapi terhenti lantaran wabah pandemi ini. Beliau semua kembali, meninggalkan kita yang tak pernah tahu kapan musibah ini berakhir.

::

Pkl 21.00 tepat, KH. Mustafa Bisri (Gus Mus) masuk ruang zoom. Saya mulai blank. Semua bisa melihat, pada sesi ini saya benar-benar klakep. Masih terbekap suasana haru, ditambah rasa entah saat memandang wajah teduh kyai kharismatik ini.

Suara beliau adem. Mengalir segar. Ucapan terima kasih pada para dokter dan tenaga kesehatan, pada kyai bunyai dan pesantren, juga pada keluarga semua yang hadir. Kemudian beliau menyampaikan dawuh dengan halus tapi sangat makjleb.

“Selama ini kita terbiasa tidak berjarak dengan dunia… akibatnya kini, kita berjarak dengan keluarga, saudara, tetangga, bahkan berjarak dengan diri sendiri, dan puncaknya ialah berjarak dengan Allah SWT.”

Saya merunduk makin dalam. Menunduk serendah yang saya bisa πŸ˜”

::

Usai beliau salam, saya beranikan nyuwun ijazah doa untuk semua.

“Perbanyak membaca istighfar, minimal 100 kali sehari. Paling tidak 20 kali tiap selesai sholat wajib. Perbanyak baca sholawat, setiap saat. Jangan sampai lisan diam tak melafalkan shalawat ya. Kemudian tiap pagi dan petang, bacalah Bismillahi laa yadzurru ma’as mihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’i wahuwas sami’ul alim.

Dan khusus untuk para doker, mohon sering membaca Ya Qowiyyu Ya Matiin, terutama saat bertugas.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dan mengangkat wabah pandemi ini segera”.

::

Lega. Saya pamit pada pemirsa dan menyerahkan waktu sepenuhnya pada Gus Luqman.

Setelah itu dr. Heri Munajib ngendikan, dr. Badrul, dr. Hakim, dr. Athoillah Isvandary, kyai dari Bali dan beberapa yang lain.

Saya lihat akun zoom Gus Mus masih nyala. Ya Allah, ternyata beliau masih menyimak cerita dan curhat para sahabat dokter. Lalu Gus Mus mengirim pesan di kotak komen, “Para dokter diharapkan tak usah mendengarkan omongan gak jelas…”

Luar biasa. Beliau pasti pirsa betapa lelahnya para pejuang garda terdepan. Bertaruh nyawa, tapi masih harus mendengar tuduhan ini itu. Maka betapa kalimat beliau menjadi penyemangat. Keberpihakan guru mulia ini, saya yakin akan menambah energi yang berlimpah. Maturnuwun sanget, Gus Mus. Mohon pangestu πŸ™

::

Terima kasih untuk para dokter dan tenaga kesehatan. Doa kami untuk panjenengan semua yang telah tiada, semoga Allah mencatat sebagai syahid. Doa kami untuk dokter dan tenaga kesehatan yang masih harus meneruskan perjuangan, semoga Allah menguatkan. Terima kasih kagem para kyai dan bunyai.Terima kasih pada para santri, semua pesantren dan yang telah hadir berperan dalam acara Tahlil Akbar Online semalam nggih. Terima kasih PDNU, RMI NU, GAM dan Panser NU, ARSINU, TV9, Cannel 164. Terima kasih pada semua, semua. Semoga Allah ridla dengan harapan dan ikhtiar kita.

Semoga doa-doa kita mampu menembus pintu langit. Semoga kita semua sehat, selamat, panjang usia dalam keberkahan. Semoga wabah pandemi ini segera berakhir.

Bandar Lampung, 13 September 2020.
.

πŸ“· Wajah saya nggak jelas, nangis bengong saat masih ngadep kamera. Jian nggak oke blas deh.

Eh ada cerita aib, tapi rahasia ya. Karena kelaperan, begitu uluk salam saya segera ke dapur. Manasin sayur. Balik ke zoom, liat hape lagi. Tahu-tahu, asap sudah membumbung, bau gosong menyengat. Mak jegagik saya lari. Dan iyes donk, santen sat, irisan tahu tempe dan sedikit daging, berubah jadi sate. Ngaramel. Sebelum zoom berakhir, cepet-cepet saya makan pake sambel dan krupuk aja. Dan membiarkan panci kecil teronggok tak berdaya

4+

MONGGO BERDOA, TAHLIL AKBAR UNTUK PARA ULAMA, DOKTER, DAN TENAGA KESEHATAN

Previous article

Mari Iktiyar Lahir dan Batin!

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.