Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

TIDAK MUDIK

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Sungguh, saya sepakat dengan ngendikan Mbah Nyut bahwa kita bisa bepergian ke mana pun, dan tinggal di mana saja. Tetapi ketika ditanya, ‘dimana rumahmu?’ maka sangat mungkin yang terbayang bukan sebuah tempat tinggal, atau gedung, tempat kita tidur dan istirahat. ‘Rumah’ mewakili sesuatu yang dekat dengan eksistensi kita, mewakili perasaan seperti kenangan tentang kehangatan dan dekapan kasih sayang seorang ibu. Betapapun semarak dan menyenangkannya hidup kita di luar sana, pada suatu waktu, terutama saat terbit perasaan begitu sunyi dan kecil, begitu letih, kita akan rindu untuk pulang ke ‘rumah’, tempat kita mengistirahatkan seluruh gelombang kehidupan dan pasangsurut kehidupan yang sering seakan terasa begitu membebani diri.

Inilah yang membuat kita selalu ingin mudik, pulang. Terutama menjelang Iedul Fitri, waktu istimewa untuk bisa sungkem pada orang tua, sowan guru dan kyai, salim pada semua keluarga dan kerabat, juga bertemu sahabat lama. Tentu sambil napak tilas seluruh kenangan masa silam.

::

Dan Iedul Fitri 2021 ini, adalah kali kedua kami tak bisa mudik karena alasan pandemi. Sedih, tentu. Ketika 1 Syawal kemarin terdengar bedug bertalu dan takbir menggema, hati saya nelangsa. Kedua anak kami di Malang. Makam Abah Umy juga di Malang. Keluarga besar di Malang. Saya sampai mewek nggeru.

Tapi segera saya mencari alasan untuk bersyukur. Tiga tahun pertama pernikahan, kami hidup dalam kemiskinan. Tinggal di pelosok, di gubuk tengah ribuan hektar kebun sawit milik perusahan besar, jauh dari akses. Tanpa aliran listrik, dekat dengan hutan. Jangankan untuk membeli baju baru, untuk makan saja kadang kami kesulitan. Maka mudik menjadi hal yang mustahil.

Alhamdulillah, tahun keempat pernikahan, semua mulai lancar. Kami bisa mudik sebulan sekali, bahkan pernah sebulan dua kali. Jadi, jika lebaran ini harus ngempet kangen menahan rindu, masak sih nggak bisa? Toh masih ada kesempatan pada bulan-bulan berikut, insyaAllah.

Saya terus menghibur diri. Sampai kemudian terdengar ngendikan Gus Baha yang adem, “Untuk teman-teman yang ditaqdir belum bisa ketemu keluarga, yakinlah bahwa “rindu” itu bagian dari kenikmatan. Jadi hendaknya kita berpikir pertemuan itu nikmat, lantaran silaturrahim. Tidak ketemu, harus kita nikmati juga, karena rasa rindu, rasa sayang yang terpendam. Sehingga dalam terminologi Isyq -yaitu semacam cinta- justru barakahnya tidak ketemu itu ada kenikmatan tersendiri dalam kerinduan, dalam membayangkan ketemu, dalam membayangkan masa lalu yang indah … “

::

Leres, Gus Baha. Dalam situasi pandemi ini, tidak mudik bisa menjadi ibadah terbaik. Menghindari mudharat, demi ikhtiar keselamatan banyak orang. Dan benar, menyimpan rindu akan lebih indah saat dibarengi tawakkal. Pasrah kapan waktu pertemuan datang.

Tak apa tidak mudik, asal semua sehat selamat. Tak apa saya tidak bisa memasak ketupat opor dan rendang untuk kedua anak di Malang. Ssst makan mereka lebih sering disantuni kakak, dikirim Mbak Farida, Dik Diyah dan dr. Sasqa. Maturnuwun sanget.

Tak apa belum bisa sungkeman, tapi melihat foto anak-anak sowan para guru kyai, silaturrahim ke rumah saudara dan ziarah makam sesepuh, rasa bahagia saya membuncah. Alhamdulillah.

Masih Syawal, masih suasana lebaran. Dengan tadzim saya ucapkan taqabbalallu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin untuk semua sahabat fesbuk. Saya banyak salah, mohon ridla panjenengan semua nggih.

  • Bandar Lampung, 24 Mei 2021 –
    .
    📷 Kedua anak kami saat sowan saudara dan guru kami, KH. Ahmad Arif Yahya, Gading Pesantren, Malang.
Miftahul Ulum Bengkak

MENERABAS TAKDIR, MUNGKINKAH?

Previous article

YANG TAK BERUBAH

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.