Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

YANG TAK BERUBAH

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Alhamdulillah, Senin 24 Mei 2021 saya mendapat kesempatan bertemu kembali dengan Gus Yaqut dan Ning Eny Yaqut setelah puluhan purnama berlalu. Pertemuan terakhir di Rembang saat itu, menyisakan tekad, “Pokok harus ketemu lagi ya.”

Lalu beliau ditaqdir menjadi Ibu Menag mendampingi cintanya yang mendapat amanah menjadi Mentri Agama. Saya paham kesibukan beliau di posisi itu. Maka saya tidak berharap banyak, yang penting saya bisa mengejar ke Palembang untuk mengurai rindu pada perempuan cerdas bermata bening ini. Sebentar saja, lima sampai sepuluh menit cukuplah. Diantar teman, saya benar-benar hanya berniat untuk bertemu sak nyu’an saja. Khawatir mengganggu agenda beliau.

Jika pun tidak bisa bertemu, saya tak akan kecewa. Ada Prof. Suyitno dan Bu Kibtiyah sahabat baik saya. Jadi paling enggak, saya masih bisa mendapat pahala silaturrahim gitu 😊

::

Tiga setengah jam perjalanan Lampung – Palembang. Begitu sampai, ternyata acara akan dimulai. Beliau mengirim WA, menyilakan kami menunggu di ruang transit rektorat UIN Raden Fatah Palembang. Saya mohon ijin agar bisa menunggu di perpustakaan saja.

Usai semua dhahar, saya naik, menuju sisi luar ruangan. Agak menjauh dari kerumunan. Begitu beliau lewat depan saya, “Ning Eny…..” Suara saya tertahan. Beliau menoleh, spontan, “Umiiiik. Abah, ada Umik. ” Kami salim jauh, masih pandemi ya.

Gus Yaqut menangkupkan kedua tangan, khas salam beliau ketika bertemu siapapun, menunduk tadzim. Lalu berfoto. Saya kira sudah. Saya mau langsung pamitan. Ternyata, “Ibu bersama Mbak Evi saja ya, saya melanjutkan acara ke Kanwil,” ngendikan Gus Yaqut. Saya melongo.

::

Setahu saya, aura pejabat dengan segala protokolernya, akan membuat banyak hal berubah. Tapi ternyata tidak, beliau tetap hangat dan akrab. Saya diajak turun dalam satu lift. Begitu sampai drop zone, saya diajak memasuki mobil yang sama. Saya menolak.

“Acara resmi saya sudah selesai, Umik. Pembinaan DWP sudah tuntas. Ini acara non formal, jadi kita bisa bersama. Abah yang acaranya padet. Pisah sementara. Nanti gabung lagi di River Side.”

Saya manut. Masuk mobil, ngobrol segala macam, lalu Ning Eny mengajak siaran langsung di fesbuk. Turun di Kriya Sriwijaya, saya kembali menjauh. Pokok saya tidak berani mendekat, meski dalam beberapa kesempatan, beliau memanggil saya. Mengajak foto, mengenalkan pada satu dua orang dan menyilakan saya makan. Tetap dengan keramahan yang kadarnya sama pada siapapun. Tetap dengan senyum yang tak lepas, kadang menyeletuk ala embok emban. Tetap dengan laku dan bahasa tubuh yang membumi tapi bermartabat. Tetap dengan gaya bicara yang santun dan bernas. Tetap dengan binar mata ceria dan menyejukkan. Ah, Ning Eny …. panjenengan tidak berubah.

Bahkan hobinya melepas sepatu dan nyeker, masih lho. Menolak dibawakan tasnya, menolak ditaktir belanja, menolak diperlakukan istimewa. Menolak segala macam perlakuan yang “biasanya” wajar diterima pejabat.

“Beliau juga selalu menolak menerima sangu, menolak menerima honor di luar yang resmi diterima ketika berkunjung ke daerah,” kata seorang sahabat. MasyaAllah, luar biasa.

::

Begitulah sosok Ning Eny dan Gus Yaqut dari dekat. Saya bukan orang yang tahu segala hal tentang beliau. Saya juga yakin beliau memiliki satu dua kekurangan. Tapi sebagai pejabat, ada banyak hal mulia dari beliau yang bisa dijadikan teladan. Dan sebagai sahabat, beliau tak pernah berubah.

“Tapi kalau ada yang mau titip-titip kepentingan, nanti dulu ya,”. Haha aman, Ning. Satu-satunya yang saya maturkan hanya, “Mohon berkenan saya wawancara untuk TV9 nggih, Gus.”

Sebelum kapal merapat di dermaga bawah sungai Musi saya pamitan, “Semoga Allah menguatkan panjenengan berdua nggih. Semoga Allah selalu melindungi dan menyelamatkan panjenengan berdua.”

“Tetap disamping saya nggih, Umik.”

Pertemuan yang semoga barakah. Maturnuwun sanget, Gus. Maturnuwun sanget, Ning ❤️
.

  • Bataranila, 26 Mei 2021 –
    .

catatanpersahabatan

perjalanan

Miftahul Ulum Bengkak

TIDAK MUDIK

Previous article

Mengabdi dan Mengaji

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.