Abuya Hayat: Jejak Kesederhanaan dan Keistiqamahan
Oleh: Rudi Hartono, M.Pd.
Di tengah riuhnya zaman yang serba modern dan cepat, sosok Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan atau yang biasa dikenal dengan Abuya Hayat hadir sebagai penyejuk hati dan penuntun jalan bagi santri dan masyarakat. Beliau adalah sosok yang istiqamah menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan dan pengabdian.
Lahir dari pasangan mulia KH. Ach. Djazari Marzuqi dan Nyai Hj. Siti Romlah, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang penuh nilai ketawadhuan, keilmuan, dan keikhlasan. Abuya Hayat menghabiskan masa kanak-kanaknya di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum dan memulai menapaki perjalanan pendidikan dasar di MI Miftahul Ulum Bengkak yang berada di kompleks pesantren.

Perjalanan Abuya Hayat dalam menuntut ilmu merupakan kisah yang panjang dan penuh perjuangan menuju keberkahan. Abuya memantapkan hati dan memberanikan diri mendalami ilmu agama dengan ngabdi dan ngaji di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Pesantren besar yang didirikan oleh KHR. Syamsul Arifin bersama KHR. As’ad Syamsul Arifin, banyak ulama-ulama kharismatik lahir dari pesantren tersebut. Di sana, beliau dididik dalam kedisiplinan ilmu dan akhlak serta mendalami arti sebuah pengabdian.

Sebelum melanjutkan mondok ke Makkah, beliau terlebih dahulu menimba ilmu di Pesantren Darussalam Simokerto Surabaya yang diasuh oleh KH. Muhyiddin Noer. Di sana, beliau juga berguru sekaligus mengabdi kepada KH. M. Ihya’ Ulumiddin, salah satunya dengan menjadi pengantar dakwah menggunakan sepeda motor ketika beliau berdakwah di wilayah Kota Surabaya. Kedua guru tersebut merupakan santri (alumni) dari Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Malikiy di Makkah Al-Mukarramah.
Melalui kedekatan dan keberkahan dari para gurunya inilah, Abuya Hayat kemudian mendapatkan jalan untuk melanjutkan mondok, mengaji, dan mengabdi langsung kepada Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Malikiy. Beliau di sana menyelami kedalaman ilmu ketuhanan (tasawuf), hadis, serta kecintaan kepada guru dan Rasulullah Saw.
Tak cukup hanya menancapkan fondasi keilmuan keagamaan. Setelah kembalinya Abuya dari Mekkah, beliau menyelesaikan program sarjananya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (IAI IBRAHIMY Sukorejo), memperoleh gelar Magister (S2) dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini, beliau sedang menempuh program Doktoral (S3) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah wafatnya Abah beliau, KH. Ach. Djazari Marzuqi, Abuya Hayat menerima amanah untuk melanjutkan kepengasuhan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bengkak. Amanah tersebut telah beliau jalankan dengan istiqamah selama 17 tahun hingga saat ini. Abuya Hayat juga menjabat Khodimul Majelis Taklim, Sholawat, dan Dzikir Jama’i Banyuwangi. Peran ini sudah dijalani oleh beliau sejak tahun 2018. Ini menunjukkan komitmen beliau dalam memupuk keimanan dan ketakwaan umat. Kepemimpinan beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin umat yang penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Di hati para santri dan alumni, Abuya Hayat dikenal sebagai pribadi yang sabar, rendah hati, dan istiqamah.

“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut menjadi cerminan perjalanan hidup Abuya, yang penuh dengan hal-hal posituf dan konsisten, tak pantang menyerah dalam membimbing santri demi mendapatkan ridla Ilahi.
Abuya tak pernah menjadi sorotan. Dalam diamnya, tersimpan ilmu. Dalam senyumnya, ada kelembutan yang menyejukkan hati. Dalam setiap langkahnya, terdapat kemuliaan seorang guru yang sejati. Beliau merupakan teladan dalam hal pengabdian kepada para gurunya, sehingga menjadi uswah yang menginspirasi untuk para santri dalam meneladani langkah-langkah beliau.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya, serta memberikan kesehatan dan kekuatan kepada Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan dalam melanjutkan pengabdian dakwah dan pendidikan. Semoga ilmu dan bimbingan beliau menjadi amal jariyah yang tak pernah putus dan terus mengalir pahalanya serta membawa keberkahan bagi para santri yang akan menjadi generasi masa depan. Semoga milad ke-55 tahun ini menjadi pintu keberkahan yang lebih luas dan semakin mengokohkan langkah perjuangan beliau.