Bekerjasama dengan Polresta Banyuwangi, Ikhtiar Miftahul Ulum Ciptakan Lingkungan Aman dan Bebas Perundungan (Bullying), Narkoba, Rokok, dan Minuman Keras
Oleh: Rukmatika Khofifah
Senja mulai menghilang, azan magrib mulai terdengar dari pengeras suara Masjid Nurul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi. Malam itu, para santri berbondong-bondong mendatangi masjid tidak hanya membawa sajadah dan kitab wirid, tetapi juga buku. Ternyata selain untuk menunaikan salat magrib berjamaah, mereka menyiapkan diri untuk mengikuti pelatihan dalam bentuk sosialisasi. Ada sebuah ikhtiar bersama yang sedang dibangun agar Pesantren tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri banin (putra) dan banat (putri). Dihadiri langsung oleh Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi. Selepas salat magrib berjamaah tepatnya pukul 18.45 WIB, kegiatan sosialisasi pun dimulai. Kegiatan kali ini bertujuan untuk mensosialisasikan hal yang sangat penting, yakni pencegahan perundungan (anti-bullying), bahaya narkoba, merokok, dan minuman keras di kalangan santri.
Miftahul Ulum hadir bukan hanya sebatas membagikan ilmu agama saja, tetapi juga menjaga akhlak, membangun karakter, dan menciptakan lingkungan yang sehat. Bagi Miftahul Ulum, hal tersebut merupakan bagian penting dalam proses pembentukan seorang santri. Oleh sebab itu, tak tanggung-tanggung dalam hal ini, YPP MU Bengkak Wongsorejo Banyuwangi bekerjasama dengan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyuwangi.
Pengasuh YPP MU Bengkak menegaskan bahwa semua hal di atas adalah tanggungjawab bersama.
“Tujuan diadakannya sosialisasi ini adalah agar Miftahul Ulum benar-benar menjadi tempat yang aman, tentram, dan nyaman. Jangan sampai tempat yang baik ini di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak baik, maka penting bagi kita untuk menjaga keamanan dan ketertiban,” dawuh Abuya K.H. Moh. Hayatul Ikhsan, M.Pd. dalam sambutannya.
Materi sosialisasi disampaikan oleh Bapak Dika dari Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polresta Banyuwangi. Dengan bahasa sederhana, tetapi mengena beliau menjelaskan banyak hal terkait dampak narkoba dan minuman keras. Beliau mengatakan, “Narkoba, minuman keras, dan bullying itu dapat merusak cita-cita. Oleh karena itu, kita sebagai santri harus bisa menjaga kehormatan dan muru’ah kita. Bagaimana caranya? Caranya hanya satu, yakni dengan selalu taat terhadap peraturan yang ada di pesantren”.
Bapak Dika juga memaparkan tentang bullying atau perundungan. Beliau menegaskan bahaya perundungan yang dapat menyebabkan luka batin yang mendalam. Karena itu, beliau mengajak para santri untuk membangun rasa percaya diri yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
“Perundungan merupakan perilaku yang dapat merusak mental. Lalu, bagaimana cara menghadapi bullying? Pertama, kita harus menanamkan fondasi percaya diri. Jadi, kita harus percaya bahwa di balik kekurangan kita, pasti terdapat kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh orang yang merundung kita,” imbuh beliau.
Sementara itu, Bapak Safaat menekankan pentingnya keberanian dalam menghadapi perundungan. Menurutnya, diam bukanlah solusi ketika melihat orang lain menyakiti sesama.
“Hal yang harus dilakukan jika ada yang melakukan perundungan adalah menegurnya. Jika takut untuk menegur, kita harus melaporkan tindakan tersebut. Maka menjadi penting, jika di lingkungan pesantren untuk dibentuk satgas atau tim keamanan untuk membasmi perundungan,” ucapnya.
Acara sosialisasi malam itu bukan sekedar penyampaian materi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi forum nyata sekaligus penguatan nilai bahwa pesantren tempat bertumbuh, penuh kasih sayang, saling menghormati, saling menjaga, dan lingkungan yang aman.
Harapannya dengan adanya sosialisasi ini, seluruh santri tidak hanya memahami bahaya bullying, narkoba, rokok, dan minuman keras, tetapi juga mampu menjadi pelopor kebaikan serta sadar untuk menghentikan perilaku buruk guna menjaga muruah dan martabat di tengah kehidupan bermasyarakat.