Tumbuhkan Jiwa Entrepreneur Santri, Miftahul Ulum Hadirkan Owner HR Cabe Mas
5 mins read

Tumbuhkan Jiwa Entrepreneur Santri, Miftahul Ulum Hadirkan Owner HR Cabe Mas

Oleh: Rukmatika Khofifah, S.Pd.

Menjadi santri bukan berarti membatasi diri untuk berkarya dan berwirausaha. Justru, bekal ilmu agama yang dimiliki dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun usaha yang kreatif, inovatif, dan berkarakter. Semangat inilah yang mewarnai Workshop Entrepreneur Kewirausahaan yang diselenggarakan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak, Wongsorejo, Banyuwangi, pada kamis pagi tadi (29/10/2026).

Para peserta mulai berdatangan, berbagai macam ekspresi para santri mewarnai Aula YPP MU Bengkak. Semangat, senang, bahkan penasaran terlihat sebelum kegiatan dimulai. Kegiatan ini rutin diselenggarakan menjelang haul tanpa biaya apapun alias gratis. Kegiatan ini memang dirancang untuk para santri mendapatkan ilmu, pengalaman, dan wawasan tentang dunia kewirausahaan.

Peserta pada entrepreneur kali ini adalah murid kelas XI Madrasah Aliyah Miftahul Ulum (MA MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi dan murid kelas X SMK Ibrahimtukat Bengkak Wongsorejo Banyuwangi. Pemilihan peserta dari jenjang kelas X dan XI bukan tanpa alasan. Usia tersebut dinilai sebagai masa yang ideal untuk membentuk karakter, mengembangkan potensi diri, serta menanamkan keterampilan yang dapat menjadi bekal menghadapi masa depan. Melalui pelatihan ini, para santri diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan akademik dan keagamaan, tetapi juga keberanian untuk menciptakan peluang usaha.

Ustadzah Ilmi Jazilah, S.Pd., selaku pembawa acara membuka kegiatan dengan mengantarkan para peserta memasuki rangkaian workshop. Suasana kegiatan semakin bermakna ketika Gus Ahmad Alif Saiful Alif, M.Ag, pemangku Ma’had Al-Miftah Lil ‘Ulum menyampaikan pesan tentang pentingnya pelatihan kewirausahaan bagi para santri. Beliau berdawuh, “Pelatihan ini sangat penting karena akan menjadi pengalaman hidup dan bekal bagi para santri. Setelah ada pelatihan ini, maka harus ada tindak lanjut. “

Pesan tersebut menegaskan bahwa kewirausahaan tidak cukup dipelajari melalui teori, tetapi perlu dilanjutkan dengan praktik nyata. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan mampu mendorong santri untuk mulai merintis usaha, sekecil apa pun langkah awalnya.

Ust. Moh. Rosul, S.Pd., selaku panitia mendorong semangat para santri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar dalam kegiatan ini. Beliau menyampaikan bahwa workshop ini menjadi pembuka kegiatan rangkaian Haul Majemuk tahun ini. Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.

“Kegiatan ini mengawali rangkaian Haul Majemuk tahun ini. Saya harap semua peserta dapat mengikuti dan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik,” tutur ketua Ikatan Santri, Simpatisan, dan Alumni Miftahul Ulum (IKSSAMU) memberi semangat.

Untuk memperkaya wawasan peserta, YPP MU Bengkak Wongsorejo Banyuwangi menghadirkan Bapak Heri Kuswanto, S.Si., pemilik usaha HR Cabe Mas, sebagai narasumber. Kehadirannya memberikan kesempatan kepada para santri untuk mengenal lebih dekat dunia usaha melalui pengalaman seorang pelaku bisnis. Dalam penyampaian materinya, Bapak Heri menyambut positif ketertarikan santri terhadap kewirausahaan. Menurutnya, santri memiliki modal penting untuk membangun usaha, yakni bekal ilmu agama yang baik.

“Saya sangat setuju jika ada santri yang senang dalam berwirausaha. Santri itu sudah memiliki modal utama, yaitu ilmu agama yang baik karena itu adalah kunci dalam segala hal” ungkapnya sebelum memulai pemaparan materi.

Namun, modal ilmu saja tidak cukup. Seorang wirausaha juga dituntut mampu melahirkan gagasan baru, menemukan ciri khas produknya, serta mengembangkan ide melalui tindakan kreatif dan inovatif. Di samping itu, konsistensi menjadi salah satu kunci penting agar usaha dapat terus bertumbuh.

“Selain itu, hal yang menjadi modal awal bagi seorang wirausaha adalah mampu menciptakan hal baru dengan ciri khas tersendiri melalui tindakan kreatif dan inovatif. Yang terpenting dalam berwirausaha, kita juga harus konsisten,” imbuhnya.

Dari materi tersebut, para santri diajak memahami bahwa membangun usaha bukan semata-mata tentang memperoleh keuntungan. Ada proses panjang yang membutuhkan kemauan untuk belajar, keberanian mencoba, kreativitas dalam menghadapi tantangan, dan ketekunan untuk terus berkembang.

Antusiasme peserta menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Bagi mereka, workshop kewirausahaan bukan sekadar agenda pelatihan atau agenda rutin belaka, melainkan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru dan membayangkan peluang usaha yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.

“Alhamdulillah, kami dapat mengikuti kegiatan Entrepreneur ini. Semoga ilmu yang kami dapatkan dapat menjadi bekal bagi kami untuk membuka sebuah usaha,” ungkap salah satu peserta.

Harapan tersebut menjadi gambaran bahwa tumbuhnya jiwa kewirausahaan dapat dimulai dari langkah sederhana: mengenal potensi diri, berani mencoba, dan mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh.

Melalui Workshop Entrepreneur Kewirausahaan ini, YPP Miftahul Ulum menunjukkan upaya dan langkah nyata untuk membekali santri dengan keterampilan yang relevan dengan kehidupan di luar lingkungan pendidikan pesantren. Santri diharapkan mampu memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kreativitas, inovasi, dan kemandirian ekonomi. Sebab, menjadi santri tidak hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesantren bukan lagi tempat menimba ilmu yang kolot. Akan tetapi, pesantren adalah wadah untuk menempa diri dan membangun jiwa para santri. Dari pesantren, semangat berwirausaha ditanamkan; dari ilmu dan pengalaman, langkah menuju kemandirian mulai dibangun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *