Khidmah Bukan Perbudakan: Memahami Adab Santri kepada Kiai Secara Bijak
Penulis: Rina M.
Belakangan ini, banyak orang salah paham tentang khidmah di lingkungan pesantren. Mereka mengira khidmah adalah bentuk perbudakan atau eksploitasi santri. Padahal, khidmah memiliki makna yang sangat berbeda dalam tradisi pendidikan Islam. Khidmah adalah bentuk pengabdian, penghormatan, dan latihan adab seorang murid kepada guru. Ini bukanlah tindakan penindasan yang menghilangkan hak dan martabat manusia. Pesantren sejak dahulu tidak hanya mendidik ilmu, tetapi juga membentuk akhlak, kemandirian, dan rasa hormat kepada orang yang berjasa dalam pendidikan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara khidmah dan perbudakan secara objektif.
Apa itu khidmah? Secara bahasa, khidmah berarti pelayanan atau pengabdian. Dalam tradisi pesantren, khidmah dilakukan sebagai bentuk penghormatan santri kepada kiai atau guru yang telah membimbing ilmu dan akhlaknya. Khidmah biasanya berupa membantu kegiatan pesantren, melayani kebutuhan sederhana guru, menjaga kebersihan lingkungan, atau membantu aktivitas pendidikan sehari-hari. Nilai utama dari khidmah bukanlah pekerjaan fisiknya, melainkan pembentukan karakter seperti rendah hati, disiplin, tanggung jawab, dan hormat kepada guru.
Dalam Islam, memuliakan guru merupakan bagian dari adab menuntut ilmu. Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkan betapa besarnya penghormatan kepada guru melalui perkataannya yang masyhur: “Aku rela menjadi pelayan bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf.” Ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi perantara datangnya ilmu dan pembentukan akhlak.
Para ulama juga menekankan bahwa keberkahan ilmu sangat berkaitan dengan adab murid kepada gurunya. Khidmah tidak dapat disamakan dengan perbudakan karena keduanya memiliki perbedaan mendasar. Santri melakukan khidmah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan penghormatan kepada guru, bukan karena dipaksa untuk kehilangan kebebasan dirinya. Khidmah bertujuan membentuk akhlak, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Sedangkan perbudakan bertujuan mengeksploitasi manusia demi kepentingan tertentu.
Karena itu, apabila terdapat tindakan kekerasan, penghinaan, atau eksploitasi atas nama pesantren, maka hal tersebut adalah penyimpangan oknum dan tidak bisa dijadikan gambaran seluruh tradisi khidmah di pesantren. Banyak tokoh besar lahir dari tradisi pesantren yang menjunjung khidmah kepada guru. Dari khidmah, santri belajar bahwa ilmu bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga tentang akhlak dan penghormatan kepada orang yang membimbingnya.
Meski demikian, praktik khidmah tetap harus berjalan dalam batas kewajaran, kemanusiaan, dan nilai-nilai Islam yang menjunjung keadilan. Masyarakat perlu bijak membedakan antara tradisi penghormatan kepada guru dengan tindakan zalim yang dilakukan oknum tertentu. Sebab, kesalahan individu tidak dapat dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh sistem pendidikan pesantren yang selama ini telah banyak melahirkan generasi berilmu dan berakhlak.