Waspadai Doa Jibril yang Diamini Nabi
Suatu hari menjelang bulan Ramadhan, Nabi Muhammad saw meminta para sahabat berkumpul. Kemudian beliau menaiki mimbar. Saat menginjak anak tangga pertama, beliau berucap “Āmīn”. Demikian juga saat di tangga kedua dan ketiga, beliau berucap sama, “Āmīn”.
Tentu saja para sahabat heran. Tidak biasanya Nabi berlaku demikian. Setelah beliau turun, mereka segera bertanya, “Wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.” Nabi menjelaskan bahwa saat beliau melangkah menaiki mimbar tadi malaikat Jibril datang memanjatkan tiga doa dan meminta Nabi mengaminkannya.
Apa isi tiga doa itu? Merujuk hadits shahih riwayat sahabat Ka’b bin ‘Ujrah sebagaimana termaktub dalam Musnad Ahmad dan juga Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, doa pertama yang diucap Jibril ialah “Celaka seseorang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya; doa kedua, “Celaka seseorang yang ketika namamu disebut ia tidak bershalawat kepadamu; dan doa Jibril yang ketiga, “Celaka seseorang yang mendapati kedua orangtuanya atau salah satunya di masa tua tetapi tidak menyebabkan ia masuk surga”. Dan atas ketiga doa Jibril itu, Nabi Muhammad menimpalinya dengan jawaban serupa, “Āmīn”.
Menariknya, doa itu bukan datang dari manusia, tapi dari malaikat. Bukan malaikat biasa, melainkan Jibril, sang malaikat pembawa wahyu. Menariknya lagi, Nabi tidak menolaknya atau berusaha melembutkannya, justru beliau mengaminkannya. Bayangkan, jika yang berdoa malaikat sekelas Jibril dan yang mengamininya seorang nabi selevel sayyidul anbiya’ wal mursalin, Rasulullah Muhammad saw, mungkinkan Allah menolak mengabulkannya?
Pada doa pertama, Jibril mendoakan celaka bagi orang yang mendapati-mengalami Ramadhan tetapi tidak memperoleh ampunan. Frase yang digunakan sangatlah keras, raghima anfu amri’in yang secara harfiah berarti “terhinakan hidungnya”. Dalam tradisi bahasa Arab, ini adalah metafora untuk kerugian yang sangat memalukan.
Mengapa hingga sekeras itu? Karena Ramadhan adalah bulan pengampunan, maghfirah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa di bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Alhasil, Ramadhan ibarat ladang yang sangat subur di mana rahmat tumbuh menyebar dan pahala membiak berlipat ganda. Jika di musim yang subur sedemikian rupa seseorang tetap tidak menuai ampunan, berarti ia keliru dalam menjalani Ramadhan.
Di sinilah hadits ini terasa sangat relevan dengan pengalaman umat Islam hari ini. Ramadhan di banyak tempat tampil sebagai bulan yang sangat meriah. Aktivitas sosial meningkat drastis. Undangan buka bersama berdatangan dari berbagai arah, mulai keluarga, teman sekolah, kolega kantor, komunitas, hingga pesta reunian yang jarang terjadi di bulan-bulan lain. Restoran penuh menjelang magrib, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, dan media sosial dipenuhi unggahan bertema Ramadhan.
Fenomena tersebut tentu tidak sepenuhnya negatif. Ia menunjukkan bahwa Ramadhan masih memiliki daya ikat sosial yang kuat. Orang berkumpul, bersilaturahmi, dan berbagi kegembiraan. Tradisi berbuka bersama, misalnya, sering menjadi ruang mempererat persaudaraan yang lama renggang.
Akan tetapi, persoalan muncul ketika dimensi sosial Ramadhan menjadi jauh lebih dominan ketimbang dimensi spiritualnya. Tak sedikit orang yang jadwal bukanya penuh dengan pertemuan sosial, tetapi justru kesulitan menemukan waktu tenang untuk membaca Al-Qur’an. Malam-malam Ramadhan yang seharusnya menjadi ruang kontemplasi berubah menjadi perpanjangan aktivitas sosial siang hari. Setelah berbuka bersama, acara berlanjut dengan obrolan panjang, foto bersama, unggahan media sosial, lalu pulang dalam keadaan lelah sehingga tarawih pun terlewat.
Dalam fenomena sedemikian, momen Ramadhan perlahan telah bergeser maknanya, dari perjalanan spiritual menjadi semacam festival sosial. Padahal dalam struktur ibadahnya, Ramadhan justru dirancang untuk mengurangi kebisingan “dunia luar”. Puasa menahan makan, minum, dan dorongan fisik agar manusia memiliki ruang untuk kembali mendengar “dunia dalam”, suara batinnya. Malam-malam Ramadhan dihidupkan dengan aktivitas ritual-spiritual, seperti tarawih dan tilawah, agar manusia memiliki waktu lebih lama untuk berjumpa, berasyik-masyuk, dengan Tuhan. Dengan kata lain, Ramadhan adalah semacam retret spiritual tahunan dalam kehidupan seorang Muslim. Maka, sungguh celakalah mereka yang tak serius memanfaatkannya untuk menangguk ampunan sebanyak mungkin.
Doa Jibril yang kedua dalam hadits itu ialah bershalawat kepada Nabi. Dalam kehidupan keseharian muslim, nama Nabi Muhammad saw kerap disebut. Hadits ini mengingatkan bahwa menyebut nama beliau tanpa shalawat adalah bentuk kelalaian spiritual. Shalawat bukanlah kalimat penghormatan belaka. Lebih dari itu, ia adalah wasilah sekaligus cara menjaga hubungan emosional umat dengan Nabinya. Tanpa itu, Islam sebagai agama bisa berubah menjadi sekadar sistem hukum yang kerontang dari cinta.
Adapun doa ketiga yang diucapkan Jibril ialah berbakti kepada orangtua. Menariknya, ampunan Ramadhan, shalawat kepada Nabi, dan bakti kepada orangtua disematkan dalam satu rangkaian. Ini memberi pesan bahwa agama tidak hanya tentang ibadah ritual kepada Tuhan, tetapi juga tentang hubungan kasih-sayang dengan orang-orang terdekat.
Dalam konteks masyarakat modern, pesan doa ketiga itu terasa kian penting. Banyak orang mampu beribadah dengan tekun tetapi justru jauh dari orang tuanya secara emosional. Kesibukan mengejar dunia, berkarir dan berbisnis, mobilitas tanpa henti, dan gaya hidup individual telah membuat hubungan dalam keluarga semakin renggang. Ini seolah menjadi pengingat keras bahwa jalan menuju surga seringkali justru berada di rumah kita sendiri, pada orangtua.
Pada akhirnya, tiga “Āmīn” yang diucapkan Nabi di tangga mimbar itu tak ubahnya laksana alarm peringatan yang terus bergema setiap Ramadhan. Ia seakan mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan Ramadhan kita bukanlah seberapa banyak acara sosial yang kita hadiri di bulan ini, tetapi seberapa dalam perubahan yang terjadi pada diri kita. Karena itu, setiap kali bulan ini datang, pertanyaannya selalu sama: apakah Ramadhan kali ini akan menjadi jalan menuju ampunan atau hanya lewat seperti bulan-bulan lainnya? Apakah setelah melalui Ramdhan hati kita menjadi lebih lembut, lebih mudah memaafkan? Apakah kita lebih berempati terhadap deritan orang lain? Apakah hubungan kita dengan Tuhan menjadi lebih hidup dan akrab?
Jawabannya, tentu saja, berada di hati kita masing-masing. Karena Ramadhan sejatinya adalah undangan untuk kembali kepada diri sendiri. Ia mengajak manusia menarik nafas sejenak setelah 11 bulan yang melenakan. Untuk self recharging, mengisi ulang daya rohani, menjernihkan kembali hati dari kekotoran duniawi. Untuk self resetting, menata kembali arah hidup, mengembalikan ke arah yang benar menuju ridlo-Nya.
Jika setelah sebulan penuh kita memasuki Ramadhan dan kemudian keluar dengan hati yang lebih jernih dan diri yang lebih tercerahkan, maka doa Jibril dalam hadits itu tidak berlaku bagi kita. Namun, kalau Ramadhan berlalu tanpa perubahan apa pun, maka tiga “Āmīn” yang diucapkan Nabi di tangga mimbar itu seolah berubah menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan yang sangat personal: Apakah kita telah benar-benar menjalani Ramadhan ini atau sekedar merayakannya? Hm.[]