Pondok Pesantren dan Rumah Sakit
Penulis: Nur Hidayati, M.Pd.
Warga Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPPMU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi pasti akrab dengan kalimat yang menganalogikan pesantren seperti rumah sakit.
Benar, dawuh alm. KH. Ach. Djazari Marzuqi yang mengibaratkan pesantren seperti rumah sakit sering diulang-ulang oleh majelis keluarga pengasuh ataupun ustaz-ustazah di madrasah.
Pertama, pesantren ibarat rumah sakit dengan kondisi pasien yang berbeda-beda. Ratusan bahkan ribuan santri yang bermukim di pesantren dengan latar belakang yang beragam layaknya pasien yang harus diklasifikasikan. Dalam beberapa hal tidak dapat disamaratakan cara mendidiknya. Sebab antara satu dan yang lain model cara mencari ilmunya berbeda.
Seperti yang dituliskan oleh Kiai Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja Center PWNU bahwa sejak zaman para sahabat, ada tiga model mencari ilmu pada Nabi. Ada yang tipe penghafal seperti Abu Hurairah r.a. Ada juga yang tipe menulis, Abdullah bin ‘Amr. Terakhir, ada yang tipe jalur barokah, yakni Anas bin Malik yang mengabdikan diri kepada Rasulullah dan keluarganya.
Menghadapi tipe yang berbeda, tentu harus dengan penanganan yang beda pula. Oleh karenanya, pesantren diharapkan mampu seperti rumah sakit yang menyediakan jenis obat sesuai dosis yang dibutuhkan.
Untuk pasien sakit kepala ringan, Panadol atau Paracetamol saja cukup. Namun, dalam keadaan tertentu yang butuh dosis tinggi Aspirin lebih cocok. Begitupun kehidupan pesantren, santri dengan sedikit sentuhan motivasi sudah taat dan disiplin maka tidak perlu dipecut. Adapun temannya yang lain mungkin butuh perhatian lebih. Bahkan, ide Kang Dedi Mulyadi untuk mendisiplinkan siswa bermasalah ke barak militer bisa jadi cocok untuk beberapa di antara mereka.
Selanjutnya, keahlian tim medis juga sangat berpengaruh selain kondisi pasien dan jenis obat. Iya, di pesantren akan ada banyak ustaz/ ustazah yang membantu pengasuh untuk mengajar para santri. Masing-masing punya karakter dan keahlian yang berbeda pula, tetapi niat mereka sama, nawaitut ta’alluma lii’laaikalimatillah.
Jika ingin keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat kembali maka hendaknya patuhi saran dokter dengan disiplin konsumsi obat secara rutin. Sama halnya santri, hendaknya taati aturan pesantren dan patuhi bimbingan ustaz dan kiai, in sha Allah boyong dari pesantren dalam keadaan siap guna, berguna untuk keluarga dan masyarakatnya.
Namun demikian, jangan lupakan satu hal. Seperti rumah sakit yang tidak menjamin semua pasiennya bisa disembuhkan, alumni pesantren pun terkadang tidak terselamatkan. Satu hal yang perlu dipahami bahwa tidak ada satupun pesantren yang ingin santrinya menyimpang, tetapi hak memberikan hidayah hanyalah milik Allah swt.
Kok alumni pesantren kelakuannya mursal? Jika ada yang demikian mari kita doakan, semoga Allah memberinya petunjuk kembali ke jalan yang benar.
Kita yang akan masuk atau sedang di pesantren, semoga Allah berikan perlindungan. Keluar nanti dalam keadaan sehat dan hilang semua penyakit jiwa dan raga. Aamiin.