Terpaksa Menjadi Terbiasa: Cara Belajar Menjadi Disiplin
3 mins read

Terpaksa Menjadi Terbiasa: Cara Belajar Menjadi Disiplin

13

Oleh: Nur Hidayati, M.Pd.

Ada yang bisa karena terbiasa, ada pula bisa karena terpaksa.

Ini berlaku untuk semua hal baik, misalnya mengajari anak salat tepat waktu. Pada umur tujuh tahun anak harus diajari dan diajak salat (tahap pembiasaan). Selanjutnya, umur 10 tahun anak boleh dipukul (pukulan yang sifatnya mendidik), apabila anak melanggar dan melalaikan salat.

Entah karena terbiasa ataupun terpaksa, melakukan kebaikan tetap bernilai baik. Semisal, santri baru yang belum terbiasa bangun dini hari untuk melaksanakan salat Tahajud. Akan tetapi, dia terpaksa bangun dan ikut salat karena takut dita’zir oleh pengurus.

Berarti tidak lillahita’ala? Tidak jadi mendapat pahala. Tidak begitu juga.

Sebagaimana yang diterangkan oleh Imam al-Ghazali bahwa seseorang yang tidak memiliki sifat baik secara alami maka harus memaksakan dirinya untuk berbuat baik hingga ia terbiasa. Jadi, berbuat baik meskipun sebab terpaksa tetap dianjurkan.

Contoh lainnya adalah membiasakan diri tepat waktu. Dunia pesantren dalam siklus hariannya telah mengajarkan kedisiplinan tingkat tinggi. Schedule harian disusun sedemikian rupa me-manage waktu dengan baik, mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Setiap keterlambatan selalu ada konsekuensinya, dita’zir pengurus atau bahkan dilaporkan ke pengasuh dan walinya.

Sayangnya, kedisiplinan ini kadang dipatahkan oleh jadwal kegiatan di luar rutinitas harian, seperti acara pengajian, diklat, rapat, dan lain sebagainya. Jam karet alias molor dari waktu yang telah ditetapkan menjadi hal biasa dalam acara semacam ini.

Mirisnya, celah kecil kebocoran waktu itu yang justru meninggalkan jejak sehingga kebiasaan terlambat terus mengakar dimana-mana. Padahal, bukannya tidak bisa tepat waktu, tetapi hanya belum terbiasa dan tidak terpaksa.

Di Jepang, jangankan peserta rapat penting bahkan seorang driver bus saja disiplin waktunya sangat ketat. Hari ini rombongan tour Smartways Travel #20 Japan Autumn Golden Route bergeser dari Hotel Mystays Shin-Osaka menuju Shirakawa-Go. Jarak tempuh antara keduanya sekitar 4-5 jam. Saat hendak starter, si driver mempermaklumkan bahwa tiap satu jam setengah bus akan berhenti di rest area. Penumpang yang hendak ke toilet diberi waktu 15 menit.

Orang Indonesia, apalagi didominasi ibu-ibu, keluar dari bilik toilet di rest area rasanya ada yang kurang kalau belum melipir ke pertokoan dan itu biasanya lama. Masih membanding-bandingkan harganya dengan pusat perbelanjaan di kota asal atau dengan toko kelontong sebelah rumah. Herannya, ketika di Jepang scene itu tidak ada, mereka yang mampir sekadar beli kebutuhan dan segera kembali naik ke bus. Dalam waktu 15 menit yang ditentukan oleh sopir semua penumpang sudah duduk rapi dan siap melanjutkan perjalanan.

Kenapa bisa begitu? Sebagian mungkin sudah terbiasa tepat waktu. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian yang lain juga merasa terpaksa sebab jika tidak ikut aturan maka ada konsekuensi yang ditanggung, entah ditinggal oleh rombongan atau dimarahi supir.

Keteraturan seperti ini memang tidaklah mudah dibentuk. Butuh kesadaran dan action nyata dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, lalu keluarga, lalu lingkup terdekat seperti teman kerja, tetangga, dan lainnya.

Ayo, bisa disiplin sejak hari ini mulai dari diri sendiri. Santri Miftahul Ulum Bengkak harus bisa, berawal dari terpaksa jadi terbiasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *