Zona Nyaman
3 mins read

Zona Nyaman

14

Oleh: Moh. Kholil Ar-Rosyid *

Kita sepakat bahwa kalimat “zona nyaman” memiliki makna negatif pada penggunaannya, sehingga ada kalimat lain yang berbunyi “keluar dari zona nyaman”. Padahal setiap dari kita bekerja, berusaha, bersusah payah untuk apa? Ya, untuk berada di “zona nyaman”.

Mungkin sebagian dari kita sudah berada pada zona nyaman masing-masing, nyaman dengan keluarga, nyaman dengan pasangan idaman kita, nyaman dengan lingkar persahabat kita, nyaman dengan mata pencaharian kita saat ini, kalau sudah ada di “zona nyaman” tersebut, ngapain harus repot-repot keluar? Capek kalau kita harus memulai dari nol lagi kan? Sulit untuk beradaptasi dari awal lagi, butuh effort yang besar untuk kita kembali berada di titik “zona nyaman”.

Lantas kenapa “zona nyaman” memiliki konotasi negatif pada setiap penggunaannya?

Mungkin, ini masih mungkin loh ya, karena setiap dari kita berada di zona nyaman yang salah atau bahasa lainnya kita sedang berada pada kebiasaan buruk. Kita tidak sadar atau mungkin belum sadar, bahwa pada lingkungan yang nyaman baik di keluarga, relationship, persahabatan, pekerjaan, ada satu hal berat yang yang harus kita jaga, apa itu? Tanggung jawab, responsibility. Misal dalam keluarga, kita ambil contoh seandainya kita lahir dari rahim seorang mama Gigi kita punya ayah namanya Raffi Ahmad, kurang nyaman apa coba? Pasti tidak berlaku tuh kalimat “perintis bukan pewaris”, karena pasti warisannya sudah banyak itu, bukan hanya harta (kita kesampingkan dulu yang satu ini) tapi juga ada warisan semangat dari kedua orang tuanya, etos kerja yang gila-gilaan, warisan relasi, lingkungan yang mendukung untuk kesuksesan keturunannya kelak, kalau kita (seandainya) sudah berada di zona nyaman yang seperti ini, ngapain kita harus keluar? Gak perlu, jangan gila deh. Namun, dari zona nyaman menjadi anak Raffi Ahmad dan mama Gigi ada beban besar yaitu tanggung jawab. Kalau saya menjadi Rafatar, mungkin saya gak mampu menanggung tanggung jawab sebesar itu, untuk stay humble, merawat keharmonisan keluarga, menjaga pertemanan atau relasi dari ayah atau ibu, menjajankan harta di “jalan yang benar”, berat deh pokoknya (jangan dilihat enaknya saja).

Nah, tanggung jawab inilah yang membedakan kita sedang berada di zona nyaman atau zona kebiasaan buruk. Ketika pertanggungjawaban kenyamanan ini tidak bisa kita pikul, maka kita akan terjebak di zona kebiasaan buruk. Ketika kita terlahir di keluarga kaya raya, hedon adalah salah satu kebiasaan buruknya. Ketika kita memiliki pasangan yang nyaman-nyaman saja, perselingkuhan adalah kebiasaan buruknya. Ketika kita memiliki lingkar pertemanan yang nyaman, lupa waktu adalah kebiasaan buruknya. Banyak deh hal-hal yang kadang kita lupa bertanggung jawab atas kenyamanan tersebut, sehingga kita ikut andil dan bersalah atas konotasi negatif dari “zona nyaman”. Kemalasan, kecerobohan, kesombongan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk kita lainnya yang harus kita ubah sebagai bentuk tanggung jawab dari zona nyaman kita saat ini.
Jangan keluar dari zona nyaman, tapi harus bertanggung jawab atas zona nyaman. Karena memuali dari nol tidak semudah itu.

Mungkin sebagian dari kamu ada yang memulai dari nol, keluar dari zona nyaman, bagus, salut, kamu adalah pejuang, good job. Tapi apakah semua harus memulai dari nol? Menurut saya tidak. Karena legacy yang ditinggalkan untuk kita adalah perjuangan mati-matian pendahulu kita. Maka menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dan berkomitmen atas zona nyaman kita saat ini adalah pilihan yang bijak sebelum kita memutuskan mengambil pilihan terakhir untuk keluar dari “ZONA NYAMAN”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *