Rindu yang Tak Pernah Usai: Ziarah Cinta ke Makam Gurunda
1 min read

Rindu yang Tak Pernah Usai: Ziarah Cinta ke Makam Gurunda

25

“Cuaca di Mekkah saat ini sedang Indonesia sekali,” kelakar seorang jamaah.

Iya, suhunya pas untuk penduduk tropis seperti Indonesia. Tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, sangat mendukung untuk kelancaran ibadah maupun tour. Maka sore kemarin, (29/12/2025) usai salat Asar berjamaah di Masjidil Haram alih-alih pulang ke hotel, Abuya Hayat memilih meleburkan rindunya.

Di antara ribuan batu penanda makam di Ma’la, beliau bersimpuh di dekat pusara Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani. Satu di antara orang-orang mulia ahli surga, jasad Abuya Sayyid Muhammad masih tetap utuh hingga kini. Tidak heran manakala Abuya Hayat mengungkap berziarah ke makamnya terasa seperti sowan pada sang guru di masa hidupnya.

Abuya Hayat duduk dengan tenang, meresapi rindu dan cintanya. “Abuya (Sayyid Muhammad) selalu menganggap dan memperlakukan murid-muridnya selayaknya anak sendiri,” ungkap Abuya Hayat mengenang sosok guru yang beliau rindukan.

Abuya Hayat sadar betul bahwa cinta dan kasih sayang sang guru sukses mengikat erat jalinan batin dengan para murid termasuk dirinya.

Sambil menyapu pandangan pada sederet hotel megah di depannya, Abuya Hayat meyakini bahwa ada satu hal yang sangat membahagiakan dan berharap dapat terus terulang lagi, lagi, dan lagi, yakni kenikmatan berziarah ke makam gurunya. “Selain ibadah umroh, keinginan untuk ziarah ke makam Abuya Sayyid Muhammad adalah salah satu alasan terbesar saya ingin selalu ziarah Haramain, setidaknya sekali dalam setahun,” ungkapnya.

Bagi Abuya Hayat, menziarahi sang guru serupa berziarah para orangtua. Seperti seorang anak yang merasakan ketenangan ketika mengunjungi makam orangtuanya, begitu pula bagi Abuya Hayat ketika menghabiskan sore di dekat makam Abuya Sayyid Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *