Miftahul Ulum: Pohon Besar yang Terus Menaungi
Oleh: Rudi Hartono, M.Pd.
Menjalani enam puluh tiga tahun bukanlah hal yang mudah. Jika kita membayangkannya sebagai perjalanan hidup seseorang, angka ini mencakup berbagai masa. Dari masa kanak-kanak yang penuh tawa dan tangis, masa muda yang dipenuhi semangat, hingga fase kematangan yang tenang dengan kebijaksanaan. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kepada Ilahi Rabbi atas umur panjang yang diberikan kepada Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak hingga kini.
Bagi kami, milad ke-63 ini bukan hanya sekadar perayaan. Ini adalah waktu untuk berhenti sejenak, mengingat masa lalu, dan melakukan muhasabah. Kami merenungkan apa yang sudah kami tanam dan mempersiapkan apa yang akan kami wariskan kepada generasi mendatang.
Tahun ini, YPP MU melangkah dengan semangat baru: “Khidmah Ilmu Berkah, Taat Ilmu Manfaat.” Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam, terutama bagi mereka yang pernah menuntut ilmu di sini.

Jika kita melihat sejarah, kita akan menemukan pengorbanan dan ketulusan luar biasa dari gurunda Abina KH. Ach. Djazari Marzuqi. Pesantren ini berdiri bukan karena kemewahan materi. Ia berakar dari cinta dan cita-cita luhur Kyai Djazari. Beliau bertekad untuk menjaga amanah gurunya, KHR. As’ad Syamsul Arifin, agar pendidikan agama bisa menjangkau masyarakat luas, khususnya yang kurang mampu. Sesuai dengan visi pesantren, mencetak generasi muslim yang berilmu, beramal, dan berakhlakul karimah.
Berawal dari bangunan kecil yang sederhana, kini YPP MU telah bertransformasi layaknya pohon besar dengan akar yang kuat. Dahan-dahannya menjalar luas, memberikan keteduhan bagi para santri dari zaman ke zaman. Hingga kini, YPP MU tetap setia menjaga kemurnian sanad keilmuan yang terhubung dengan empat kiblat besar: Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Nurul Haromain Malang, dan Ma’had Rusyaifah di Makkah Al Mukarromah.
Tema milad kali ini sengaja dipilih sebagai pengingat bagi santri dan alumni. “Khidmah Ilmu Berkah” mengajarkan bahwa seberapa tinggi pun ilmu kita, keberkahannya hanya akan muncul melalui pengabdian. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki pernah menekankan bahwa ilmu didapat karena tekun membaca, berkah diperoleh melalui khidmah, dan manfaat hadir karena restu guru. Sayyidina Ali ra juga pernah mengatakan betapa beliau sangat menghargai seorang guru meski hanya mengajarkan satu huruf.
Di sisi lain, “Taat Ilmu Manfaat” mengingatkan kita tentang adab. Di lingkungan pesantren, ketaatan kepada guru adalah kunci utama agar ilmu tidak hanya menjadi hafalan, tetapi juga memberikan manfaat. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa tanpa rasa hormat kepada guru, seseorang akan sulit meraih manfaat dari ilmunya. Di dunia modern yang bebas ini, adab adalah benteng terakhir kita agar tidak kehilangan arah.
Kini, peran YPP MU telah teruji oleh waktu. Alumninya telah menyebar ke berbagai bidang, ada yang menjadi ulama, pendidik, pengusaha, hingga birokrat. Refleksi 63 tahun ini mendorong kita untuk tetap teguh menjaga tradisi, tetapi juga membuka diri terhadap kemajuan teknologi. YPP MU harus terus memberikan kesejukan bagi masyarakat yang haus akan spiritual.
Harapan besar Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan adalah menjaga amanah perjuangan ini tetap setia pada garis arahan para muassis. Beliau adalah sosok yang mendorong inovasi tanpa melupakan prinsip luhur pesantren. Bagi beliau, setiap program di Miftahul Ulum adalah jembatan untuk menyebarluaskan warisan dakwah dan ilmu yang diterima dari para guru.
Semoga Allah senantiasa menyelimuti Miftahul Ulum dengan keberkahan, menjadikannya rumah yang nyaman bagi para pencari ilmu, dan terus memberikan manfaat bagi umat. Jaya terus, Miftahul Ulumku.