Haul ke-17 KH. Ach. Djazari MQ: Menghirup Kembali Aroma Pengabdian di Halaman Maqbarah
3 mins read

Haul ke-17 KH. Ach. Djazari MQ: Menghirup Kembali Aroma Pengabdian di Halaman Maqbarah

Penulis: Rudi Hantono, S.Pd.I

Bengkak, MIFUL News – Pagi tadi, suasana di sekitar Maqbarah KH. Ach. Djazari MQ dan Nyai Hj. Siti Romlah terasa berbeda. Lebih tenang, lebih damai, dan seakan tanah tempat pendiri Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) beristirahat pun ikut menyambut kedatangan ratusan jamaah yang rindu akan Beliau.

Kegiatan berlangsung tepat di maqbarah, tempat peristirahatan beliau pendiri sekaligus pengasuh pertama YPP MU. Hari Senin tanggal 14 September 2026 pagi, keluarga besar pesantren berkumpul untuk mengenang Haul ke-17 Almarhum Almaghfurlah KH. Ach. Djazari MQ, sosok yang meletakkan benih iman di tempat yang penuh barokah ini.

Suasana dibuka dengan sya’ir-sya’ir shalawat Nabi Muhammad SAW yang mengalun lembut. Namun, menggetarkan jiwa. Kemudian tepat pukul 07.14 WIB acara resmi dibuka oleh pembawa acara, Ust. Abdur Rohman, S.HI. Dengan tutur kata yang santun dan tenang beliau mengajak seluruh jamaah untuk menyadari bahwa pertemuan pagi ini bukan sekadar ziarah dan kenang-kenangan melainkan panggilan untuk melanjutkan amanah.

Rangkaian dimulai dengan pembacaan Fawatih yang dipimpin langsung oleh Abuya Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag. Dengan suara khasnya yang lirih, tapi tegas memandu seluruh hadirin merenung dengan khusyuk bertawassul. Lantunan pembuka ini menjadi tanda hormat sekaligus permohonan rahmat untuk semua masyayikh dan semua keluarga YPP MU.

Tak lama berselang, pembacaan Surat Yasin langsung dipimpin oleh Ust. Nurul Kholiq, diikuti dengan pembacaan Tahlil Sarwah yang dipimpin oleh Ust. Drs. H. Tariyanto. Suasana makin menyentuh saat sesi Dzikir Jama’i dimulai yang langsung dipimpin oleh Ust. Asmoni, S.Pd.I., seluruh jamaah bersatu dalam satu suara, mengulang kalimat tauhid bersama-sama.

Sesi inti acara berisi penyampaian Manaqib dan Biografi KH. Ach. Djazari MQ yang disampaikan oleh Gus Ahmad Faqih Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah As’adiyah. Beliau tak sekadar menceritakan riwayat hidup, melainkan menghidupkan kembali sosok yang sederhana namun luar biasa besar pengabdiannya.

“KH. Achmad Djazari, MQ adalah sosok yang senantiasa dibanggakan oleh Abah saya, karena beliau merupakan guru Abah saya. Selain itu, Abah selalu mengingatkan kepada segenap putra-putranya untuk senantiasa bersambung silaturahmi dan tidak melupakan jasa para guru beliau,” dawuh beliau.

Selanjutnya, taujih dari Pengasuh YPP MU, Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan, M.Pd.I. menyampaikan dengan penuh haru dan ketegasan. Beliau mengingatkan bahwa kita adalah selamanya santri (mazilta tholiban) dengan mengutip dawuh dari guru beliau, yakni Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

“Kita selamanya murid yang terus butuh belajar, jangan merasa sudah jadi ustad tetaplah merasa jadi murid. Ketika guru kita wafat usahakan jangan putus hubungan, sambung dan hormati putra-putrinya. Juga hormati gurunya orangtua kita, meski tak pernah belajar langsung di sana. Itu tali ilmu yang tak boleh putus.”

Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Abuya Taufiqur Rohman, S.Pd.I memohonkan ampunan, rahmat, dan tempat yang paling mulia bagi KH. Ach. Djazari MQ dan para masyayikh YPP MU.

Sebagai penutup yang menyentuh hati, semua Majelis Keluarga YPP MU melakukan prosesi tabur bunga di makam beliau. Bunga-bunga yang disebar hanyalah simbol, jauh lebih berharga adalah niat tulus di hati setiap orang yang hadir: untuk melanjutkan perjuangan, menjaga amanah, dan menjadi penerus yang membanggakan. (Miful/RHn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *