Satu Murid, Satu Guru, Sama Berharganya
Oleh: Evi Ghozaly
Tahun 2006 lalu. Saya pamit untuk pindah dari satu rumah sakit swasta A ke rumah sakit swasta B, sebelum tindakan operasi besar yang harus saya jalani. Direktur A sampai ke kamar rawat inap untuk klarifikasi alasan saya pindah. Datang dengan simpatik dan bertanya dengan santun,
“Apakah karena pelayanan kami kurang baik, Bu? Mohon saran dan masukan ya.”
Ini RS besar yang terkenal memberikan layanan terbaik, profesional dan menyenangkan. Jadi soal pelayanan, sama sekali bukan menjadi alasan.
Saat itu, asuransi dari kantor suami mengcover semua kebutuhan berobat dan kebutuhan kesehatan. Jadi alasan dana, juga tidak masuk.
Meski akhirnya saya tetap pindah dengan alasan sejujurnya, saya mendapat pelajaran penting.
Satu saja pasien pindah rumah sakit, Direktur sampai turun untuk mencari tahu langsung sebab sebenarnya. Mendengar, mencatat, sebelum melepas satu pasien dengan sama-sama lega.
Ya. Hanya saya seorang, padahal hari itu semua kamar telah penuh dengan ratusan pasien.
::
Harusnya, di dunia pendidikan juga begitu ya. Setiap lembaga harus memberikan pelayanan terbaik. Sesuai SOP, dengan komunikasi yang baik dan sepenuh hati.
Terus mengevaluasi diri, tidak berhenti berbenah.
Satu saja murid menyatakan keluar dari sekolah, harus kita ketahui penyebabnya. Jika bukan karena pelanggaran aturan besar hingga sampai batas sudden death di pakta integritas, mungkin saja karena pelayanan kita yang kurang. Bisa jadi karena kesalahan kita, yang tidak kita sadari.
Lha tapi yang 99,9 persen masih bertahan. Jadi nggak ngaruh kan?
Ini bukan sekedar soal prosentase. Bukan semata soal angka.
Komitmen untuk memberikan yang terbaik adalah kunci.
Memang tidak ada sekolah yang sempurna, tapi membiarkan ada lubang -sekecil apapun- suatu saat bisa menjadi bumerang.
::
Begitu juga dengan guru dan karyawan. Jika ada guru yang sudah lama mengabdi lalu resign, perlu kita ajak diskusi. Bicara dari hati ke hati.
Tentu, ini berlaku untuk guru baik yang tidak pernah bermasalah. Yang telah bersama lebih dari 5 tahun, dan pamitnya bukan karena mau daftar ASN atau P3K.
Bukan hanya agar kita punya data, tapi juga untuk peta: apa yang harus kita perbaiki.
::
Nah. Cerita di atas saya sampaikan sebagai pembuka rapat zoom semalam. Bersama semua pimpinan YPP Miftahul Ulum, Bengkak, Wongsorejo, Banyuwangi.
Ada Gus Fawaizul Umam selaku pengasuh yang baru dapat hadiah sepatu mahal dari Mas Inung. Yang semalam masih mengenakan seragam ikhlas beramal hingga larut. Ada semua pengurus bidang Dikjar dan seluruh pimpinan unit.
Ada satu saja yang kameranya nutup, nuwun sewu pasti saya panggil namanya. Semua harus open kamera di layar, karena monolog dan bicara lama dengan orang yang nggak terlihat wajahnya itu nggak enak tahu haha.
Mohon maaf ya jika ada penyampaian saya yang membuat kurang berkenan. Terima kasih sudah berkenan tumbuh dan berkembang bersama, dengan segala hawer-hawernya. Semoga Allah ridla dengan semua langkah kita 😊🩷
.
📷 Senja di Taman Kepompong, Banyuwangi, Juni 2026
Sareng Ning Nadz, Ning Bida, Umik Nung, Ustd Rodyidah, Bu Ismi.