Muhalaqah Internasional Gerakan Ayo Mondok, menjelang pembukaan Muktamar NU ke 35 di Jombang, Jawa Timur
5 mins read

Muhalaqah Internasional Gerakan Ayo Mondok, menjelang pembukaan Muktamar NU ke 35 di Jombang, Jawa Timur

Penulis: Evi Ghozaly

Sepanjang pengalaman menjadi host, kegiatan kemarin itu yang paling membuat grogi. Sebelumnya memang sudah fix susunan dan pengisi acara, tapi lalu ada perubahan beberapa poin. Jadi saya memutuskan mengambil jadwal zoom dengan salah satu kampus luar pulau.

Ternyata Kamis 27 Agustus 2026 pkl 00.10 saya ditilp Gus Hans, didhawuhi untuk kembali jadi host. Duh dalem nggak berani kalau Ning Luluk Farida selaku ketua panitia dereng merintah, Gus. Oke kita tilp bareng ya. Kami diskusi bertiga. Dan keputusannya fix balik ya. Sami’na wa atho’na saya manut.

::

Berangkat ke Jombang, pkl 03.00 dini hari. Saya dijemput Dik Cholis beserta adik ipar, Dik Izzah dan putrinya Syahnaz. Tujuan pertama ziarah makam Hadrotus Syech KH. Hasyim Asyari, Tebu Ireng. Lalu sowan ndalem sahabat di PP. Mambaul Hikam, Diwek. Lanjut ke PP. Darul Ulum, Peterongan, baru ke lokasi Muktamar NU ke 35 di PP. Tambak Beras.

Hanya tidur 3 jam, sepanjang jalan bingung mikir mana ini yang didahulukan. Belajar materi zoom atau persiapan ngehost. Maklum sudah sepuh, kapasitas otak sudah terbatas ya 😀

Riset tentang 8 calon pembicara, menjadi lebih mudah lewat Mbak AI. Alhamdulillah dibantu Mbak Meta juga. Age-age nyusun profi pembicara dan pertanyaan seputar siapa, dari pesantren mana, studi dan karir di luar negeri, peran dan pengabdiannya di NU, info beasiswa bla bla bla. Ada tambahan pertanyaan sesuai tema: ilmu tanpa sekat, akhlak tanpa jeda, santri siap mewarnai dunia. Tentu ada yang nyerempet kasus di beberapa pesantren akhir-akhir ini ya, meski saya nggak yakin bisa tersampaikan semua karena keterbatasan waktu.

Pkl 07.40 saya ngisi seminar lewat zoom sampai pkl 09.00 di dalam mobil. Hanya membuka 2 pertanyaan, pamit salam dadah. Lalu lariii menuju Gelora Abi Asad Unipdu, PP. Darul Ulum. Ganti jilbab seragam, titip koper di sekretariat, mbungkus sepatu, nyangking ke depan. Bismillah.

::

Prof. Nadirsyah Hosen, pakar hukum yang menjadi pengajar di Univ Melbourne, pernah menjadi ketua PCI NU Australia dan Selandia Baru, saya persilakan menuju panggung. Beliau bikin deg-degan karena berkali ngendikan, mohon maaf saya harus geser ke tempat lain pkl 11.00 ya. Gimana coba, sementara kalam sambutan dan sambitan sebelumnya ada beberapa. Untung Ketua GAM Gus Luqman At Tarmasi saat ngendikan, sempat memberikan kode, jadi saya lega nggak perlu memberi batasan waktu.

Lalu, beliau KH. Mukhlason Jalaluddin, ketua PCI NU Mesir sekaligus local staff di KBRI Cairo, Mesir. Ust. Abdul Sakir, ketua PCI NU UK. Saya langsung matur nderek titip anak saya yang akan berangkat ke Inggris ya, mohon dibimbing agar studi, ngaji dan ngen-Ow lancar, sukses, barakah.

Ada Dr. Ahmad Ghozali, ketua PCI NU Jepang. Dr. Subhan Ghozali, ketua PCI NU Maroko. Dr. Saiful Mustofa, Univ King Abdul Azis Saudi sekaligus pimpinan Yakareem Center. Eh ini adik tingkat saya pas kuliah zaman hong dulu. Alhamdulillah, sedanten hadir offline.

Semuaaa memberikan inspirasi yang dahsyat. Beasiswa yang bisa diakses, bantuan bla bla, kemudahan ini itu, informasi tantangan dan alternatif solusi sampai begini lho agar tetap bisa lancar studi tapi juga aktif di organisasi NU di luar negeri.

Mas Ainun Najib, santri keren yang sekarang mukim di Singapura. Pendiri situs independen Kawal Pemilu 2014 dan 2019, juga platform suka rela Kawal Covid, yang pernah diminta Presiden Jokowi untuk pulang membangun NKRI tapi menolak balik. Iya bener, orang-orang pinter kalau belum siap banget dan faham permainan politik sebaiknya memang jangan pulang dulu. Apalagi akan dijadikan apa atau apa. Mengabdi untuk negeri bisa dari mana saja, ntar kalau aman pulang yak. Itu batin saya ding. Direncanakan mengisi materi lewat zoom.

Terakhir Gus Zahrul Azhar Hans. Beliau intinya sih: sebagai tuan rumah, Sekjen Gernas Ayo Mondok, pengasuh asrama Queen Al Azhar PP. Darul Ulum dan wakil rektor Unipdu, Jombang. Beliau juga host nasional program religi dan edukasi pesantren di Metro TV dan TV One, yang ini beda 8 angka dengan TV tempat saya pernah menjadi host, TV-9. Eh satu lagi, pernah jadi jubir Gubernur Jatim Mbak Khofifah Indar Parawansa dan sempat nyalon wagub Jatim berpasangan dengan Mbak Risma 😀

::

Asliiii saya grogi. Ada 500 peserta lebih, wakil dari seluruh Indonesia. Semua Bunyai dan Yai. Terus saya harus berdiri di depan gitu? Masya Allah laa quwwata illa billah. Semoga tidak suul adab. Semoga tidak sampai nglunjak. Semoga bisa hati-hati menjaga lisan dan gerak tubuh yang biasanya pecicilan ini.

Alhamdulillah, selesai pkl 12.00 tepat. Matur nuwun sanget kagem semua nggih. Gus Hans dan Unipdu, keluarga besar Darul Ulum, Ketum dan Sekjen GAM, Ning Luluk dan Ning Malikah Saadah, sedanten Bunyai, Yai, Ning dan Gus panitia yang sangat keren, semua peserta yang luar biasa, para santri dan pengurus, pendukung acara yang membantu memberikan door prize sekian banyak, konsumsi, dan semuaaaa. Pokoknya matur nuwun sanget.

Terima kasih sampun kersa memberikan kesempatan kece untuk menjadi host pada saya yang hanya remahan rengginang ini. Mohon maaf jika ada kurangnya nggih. Salam tadzim.

EG, di Jombang: 27.08.2026.

📷 Saya mlipir di pojok pas Gus Nadir dicekrek usai memberikan hadiah pada penanya. Nah lalu saya dipanggil diajak foto. Klik 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *