MAULID NABI
4 mins read

MAULID NABI

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Ada seorang Badui datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Ya Nabi, kapan kiamat akan datang?” Nabi tidak menjawab, malah balik bertanya, “Apa yang sudah engkau siapkan untuk hari kiamat?” Orang Badui itu menjawab, “Aku bersiap dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasul bersabda: “Sesungguhnya engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Imam Anas ibn Malik yang menyaksikan ini pun berkata: “Aku tidak pernah merasa gembira seperti gembiranya aku mendengar hadits Rasulullah saw. Tersebut. Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya dan kepada Abu Bakar dan Umar meskipun aku belum bisa beramal seperti mereka :: ~

Seperti sering kukatakan, rindu itu seperti kenang: ia menyusup diam-diam ke relung hatimu, mengingatkanmu pada sesuatu yang jauh sekaligus dekat. Seperti saat engkau mengenang orang-orang yang kau sayangi namun ia jauh di sana, atau ia sudah tak ada lagi di muka bumi. Perasaan dekat dan sayang namun tak mampu menjangkaunya dalam alam ini sering membuat perasaanmu bergelombang: antara perih dan bahagia, antara duka dan bahagia tak terkira.

Tetapi sekarang coba engkau bayangkan begini: sosok yang tak pernah kau kenali betul, yang tak pernah kau lihat, apalagi sentuh, dan terpisah jarak ribuan kilometer dan terpisah waktu ribuan tahun, sosok yang hanya kau dengar namanya dan kisah-kisahnya yang diceritakan dari mulut ke mulut, dari buku ke buku, namun sosok itu membuatmu menangis hampir tiap malam, sebab entah mengapa engkau merasa begitu dekat, begitu disayangi, begitu diperhatikan dan begitu nyaman bahkan ketika hanya menyebut namanya atau mengingat kisakisahnya. Apakah kau pernah bertanya-tanya: kerinduan macam apa ini? Betapa anehnya, merindukan sosok yang hanya kau dengar dari cerita dan nama. Sekarang kau tentu bisa membayangkan sosok macam apa kanjeng rasul Muhammad saw itu, yang mampu membuat milyaran manusia mengikuti jejaknya, membuat ratusan juta orang menangis merindukannya, membuat begitu banyak orang menciptakan syair-syair yang bahkan saat hanya membacanya saja membuat kerinduan kita membuncah. Dan kau tahu, kerinduan kepadanya, sering membuat orang melakukan atau mengalami halhal yang tak pernah kau bayangkan.

Perayaan Maulid adalah ekspresi cinta yang sulit didefinisikan sebab orang-orang bisa mencintai kanjeng Nabi sedemikian rupa meskipun tak pernah melihatnya, tak pernah berjumpa secara fisik, tak pernah mendengar suaranya. Namun, sebagaimana orang-orang yang mabuk asmara hatinya akan bergetar gembira ketika nama kekasihnya disebut, demikian pula orang-orang itu gemetar hatinya dan basah matanya ketika nama yang mulia Muhammad sallallahu alaihi wassalam disebut-sebut. Mereka adalah orang-orang yang berharap termasuk orang-orang yang dirindukan oleh kanjeng Nabi:

“Ya Abu Bakar, aku sangat rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku,” dawuh kanjeng nabi pada suatu ketika. Majelis pun menjadi hening. Hadirin seperti berpikir sesuatu. Sayyidina Abu Bakar memberanikan diri bertanya, “Ya Rasulallaah, apa maksudnya. Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Kanjeng Nabi menjawab, “Kalian semua adalah sahabatku …” Seorang sahabat bertanya, “Namun bukankah kami juga saudaramu, ya Rasulallaah?”

Kanjeng Nabi tersenyum, “Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman kepadaku dan mencintaiku melebihi cinta mereka kepada anak dan orang tua. Mereka adalah saudaraku dan mereka bersamaku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntung pula mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka belum pernah melihatku.”

Kanjeng Nabi melanjutkan, “Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka membaca al-Qur’an dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan kandungan al-Qur’an. Mereka membelaku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.”

Demikianlah, pancaran kasih-sayang yang tanpa batas ruang dan waktu itu sampai ke hati orang-orang yang beriman dan berharap benar bisa meneladani akhlak beliau. Sekarang, jikalau kanjeng Nabi merindukanmu, mengapa engkau tak merindukannya? Jikalau kanjeng Nabi ingin bertemu denganmu, mengapa engkau tak bergegas menyambutnya dengan mengucapkan shalawat dan salam sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada beliau yang bahkan ketika hendak kembali ke hadhirat Ilahi, beliau berucap umatku, umatku, umatku? Jikalau nabi begitu mencintaimu, mengapakah engkau tidak menyambut cintanya?

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli wa salim wa barik alaihi 😢

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *