Belajar
Penulis: Ning Evi Ghozaly
Sejak anak-anak memasuki usia remaja sampai kini beranjak dewasa, selalu ada sebagian tumbuh kembang mereka yang “gagal” saya pahami. Meski hanya satu dua, tetap saja membuat deg-degan.
Karena ada saatnya saya salah tafsir. Ada kalanya saya keliru menduga. Ada waktunya saya tidak tepat mengambil keputusan. Beruntung semua masih bisa dibicarakan, meski yang bulan lalu berujung perdebatan.
“Nuwun sewu ini diskusi ya, Nak. Boleh dibantah, pareng tidak sepakat. Ng, bagaimana kalau nanti Mas Lavy dan Adik Dany di Lampung dulu. Nanti lho, tidak sekarang. Sampai semua tertata, sampai ada yang meneruskan…”
Si sulung protes, “Mohon maaf, mohon maaf. Bukankah selama ini Umi yang kasih semangat agar kami terus belajar, sejauh apapun. Berikhtiar untuk menjadi bermanfaat bagi keluarga dan sesama. Lakukan perjalanan bermanfaat dengan senang, merantaulah. Kok sekarang Umi jadi mundur? Selama ini Umi tidak pernah intervensi pada rencana dan cita-cita kami lho. Ayolah, Umi. Mohon doakan kami saja nggih. InsyaAllah kami tidak merepotkan kok.”
Anak ragil pun matur, “Kami tahu Abi dan Umi ingin menolong kami. Tapi soal yang ini, biarkan kami mandiri. Sudah bukan waktunya kami disupport dengan uang atau materi. Doakan saja Allah kasih jalan agar yang selama ini kami upayakan makin lancar, dan kami mudah menempuhnya.”
Iya, dua anak ini memang sudah “mandiri” sejak beberapa tahun lalu. Dimulai dari tidak pernah minta uang jajan, lalu belajar jualan dan ngajar, kerja lepasan di star up, sampai bekerja kantoran. Terus kok sekarang saya nggandoli gini?
::
Makplas. Seketika saya merasa menjadi emak yang mbuh. Ingin membantu tapi ternyata keliru. Ingin mendampingi tapi ternyata malah ngribeti. Tiba-tiba saya juga takut “kehilangan” mereka, meski selama ini saya selalu kemeruh tiap seminar dengan menyitir, “Anakmu bukan anakmu. Anakmu adalah anak kehidupan…”
Terus tiap seneng mereka pulang, selalu terselip getun pas mereka mau pamit balik ke tempat masing-masing. Padahal ya episode begini kan wajar tho. Kami aja dulu juga cul-culan poll. Kayaknya aneh deh, dengan dalih tidak ingin anak susah kayak ortunya, padahal justru malah bikin anak nggak ngadeg jejeg.
Eits. Akhirnya saya mengerti mengapa ada politik dinasti, atau orang tua yang buru-buru mengkader anak cucu. Pasti alasannya karena sayang. Sayang beneran dan sayang jika hasil usahanya selama ini ‘dilanjutkan’ orang. Kalau perlu, ubah aturan agar keturunan bisa melenggang. Saya maklum, banget. Ya, karena itu yang tiba-tiba saya rencanakan dan hendak saya putuskan. Dengan alasan menjaga dan meneruskan. Tapi ternyata, niat saya kandas dan terhempaaas *ala Pepo-
::
Maka momen tiga pekan bersama anak-anak saya manfaatkan betul untuk belajar. Belajar menerjemahkan bahasa mereka, belajar memahami keinginan mereka, belajar mengerti harapan dan cita-cita mereka. Saya juga belajar menahan diri, menekan ego. Alhamdulillah, Abinya selalu bisa menjadi jembatan. Menjadi perantara komunikasi. Terutama saat saya nyaris ngambeg karena kalah argumen dengan anak-anak haha.
Kesempatan barengan ternyata juga jadi terbukanya aib dan kekurangan saya. Bahkan untuk hal paling dasar.
“Ayo sholat dulu, Abi Umi. Ini ada masjid.”
“Umi milih jamak ta’khir aja, Nak. Kan udah lebih 80 km.”
“Lho, menurut kitab bla bla, 80 sekian kilo meter itu dua marhalah atau enam belas farshah. Bukan total jarak tempuh tapi angka jarak kita mukim dengan kita berada saat ini. Lagi pula kan kita tidak buru-buru ya, Um. Dan selama perjalanan kita mudah ketemu masjid. Jadi kalau bisa tidak gampang jomak jamak nggih…”
Saya diem, cep. Adiknya nyela, “Ssst Mas, minta maaf dulu kalau mau berbeda pendapat dengan Umi…”
Ya Allah, segitu arogannya saya sampe dianggap nggak mau beda pendapat? Saya mau nelangsa. Buru-buru Abinya ngelus kepala saya sambil bisikin, “Alhamdulillah. Ikhtiar kita mendidik anak-anak sudah ada hasilnya. Biaunillah. Jangan dirusak lagi ya, Um. Ayo turun yuk.”
Begitulah aslinya saya. Beda dengan ketika manggung ngomongin trik mendidik anak kan? Kenyataannya saya memang makjelas, embuh banget 😅
- Natar, 04 September 2023 –
.
📷 Nyicil ngajak anak-anak sambang kebon ini itu 😀
.