KDM
5 mins read

KDM

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Saya kok sepakat ya dengan beberapa ide KDM. Terlepas dari caranya yang kadang mengundang kontroversi, tapi lega banget menyaksikan pemerintah hadir melakukan banyak hal berdampak. Apalagi untuk masalah yang selama ini mbundet ndet.

Kasus ‘kenakalan’ anak-anak yang dulu hanya kita temui di level SMA dan terjadi hanya satu dua, sekarang sudah banyak dilakukan anak SMP bahkan SD. Yang pernah, atau saat ini menjadi guru di sekolah formal atau lembaga pendidikan lain pasti sering ngadepi kasus-kasus amboi.

Bullying, minuman keras, pornografi, nge-genk, tawuran, malak, nge-punk bahkan ada yang berani melakukan tindak kriminal. Bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi tentu sudah pada taraf mengganggu lingkungan.

::

Memang ya, ada orang tua yang paham ilmu parenting dan mampu mendidik dengan baik. Tapi banyak yang tidak tahu caranya mengasuh anak, kebingungan ketika anak mulai berulah dan hanya bisa pasrah saat menyaksikan anak melakukan perlawanan atau kesalahan berulang.

Sekolah juga demikian. Banyak murid yang menganggap remeh aturan, ringan membantah bahkan menantang guru. Guru mau tegas, kadang justru dianggap salah bahkan bisa dilaporkan orang tua ke polisi. Kalau diabaikan, ya akibatnya makin parah kan.

Pondok pesantren? Untuk anak tertentu nggak cocok, Gaes. Harapan orang tua yang mengirim anak ke pondok pesantren setinggi langit, sistem dan upaya ustadz sudah maksimal eh ternyata anak merasa dibuang. Masya Allah, astaghfirullah. Selalu ingin nabrak peraturan, nggak mau mengikuti kegiatan dan berujung kabur tiap pekan. Pokok terus membuat kasus, dengan tujuan agar segera dikeluarkan.

Ya insya Allah bisa sih anak bertahap menjadi baik dan pintar lantaran di pesantren, biidznillah dengan ridla Allah, sabar, bertabur doa dan kerja sama yang baik. Tapi untuk kasus tertentu, kami juga give up. Kami lho ya, kan sekolah dan pondok pesantren kami banyak keterbatasan.

Karena ada anak yang dialus nggak bisa, ditangisin nggak mempan. Lagi pula, di pondok pesantren dan sekolah kan nggak boleh ada ‘ketegasan’ apalagi kekerasan?

::

Maka yes, apa yang dilakukan KDM jadi salah satu solusi jitu. Anak dikirim ke barak militer. Di sana anak-anak akan ‘terpaksa’ mengikuti aturan. Dibiasakan menjalani jadwal yang padat dan ketat. Tidak ada lagi waktu rebahan santai berjam-jam main HP atau begadang yang tak ada juntrungnya, diganti dengan kegiatan positif yang dapat memenuhi kebutuhan gerak dan ketrampilan lain. Tidak ada lagi bisik-bisik merencanakan tawuran, diganti dengan latihan fisik terstruktur. Tidur dan bangun tepat waktu. Ibadah ritual bersama-sama. Makan pada jam-nya dengan lauk yang katanya enak. Alhamdulillah.

Terkadang, upaya penyadaran harus didahului dengan ‘keterpaksaan’. Untuk kebaikan, kadang butuh tahapan terpaksa, lalu terbiasa dan menjadi budaya. Kadang, jodoh-jodohan. Kadang lho ya, atinya tidak semua, tidak gebyah uyah. Tidak berlaku untuk sembarang kalir.

::

Maka Mbak Retno dan Mas Luthfi, perlu duduk bareng ya. Diskusi sangat perlu, tapi tindakan nyata (yang segera) juga penting.

Monggo turun, segera lengkapi data dengan info kasus terkini dan dampaknya. Setelah itu dalami program pembarakan ini. Ayo kita berikan saran yang pas. Misal nih ya:

1. Buat kriteria ‘kenakalan’ yang wajib masuk barak militer. Jangan asal anak dikata ‘nakal’ otomatis blung masuk. Ada instrumen dan alat ukur yang jelas.

Kalau kemarin langsung angkut, bisa dimaklumi. Kadang di lapangan, keputusan harus dibuat sat set gerak cepet. Meski ujungnya bikin kamitenggengen sih.

Ini juga menghindari orang tua asal mengancam, ketika anak berbuat salah dikit trus, “Awas nanti dikirim ke barak militer lho.” 🙈

2. Kerja sama dengan sekolah untuk mendata anak-anak yang ‘bermasalah’, jenis masalah, termasuk apa saja upaya yang sudah dilakukan orang tua dan sekolah. Jadi jangan sampai hanya memindahkan tanggung jawab begitu saja ke Pak Mil.

3. Ada batasan waktu dan target lulusan barak militer. Info yang saya baca di sosmed ada yang 3 bulan tapi ada juga yang hanya beberapa hari.

Kalau saya bilang harus ada kurikulum yang jelas, kok kesannya saya keminter 🫢

4. Orang tua dan sekolah disiapkan untuk menerima kembali murid agar hasil latihan berdampak dan tidak kembali ambyar. Bisa dengan program smart parenting dan pelatihan pengasuhan.

Sepertinya asyik juga kalau lulusan barak diajak menjadi peer educator. Menjadi agen perubahan untuk teman-teman sebaya.

5. Ada psycholog, guru bimbingan konseling dan ustadz yang mendampingi selama proses maupun pasca sekolah di barak militer. Karena tentu, ada kebutuhan lain dalam sisi kejiwaan dan ruhiyah anak.

6. Beri nama program ini dengan yang sesuai, misal pelatihan kepemimpinan atau apa gitu. Keren kan? Nanti, pengurus Osis juga bisa ikutan. Jadinya, lulusan program ini akan terkesan ‘istimewa’, bukan dipandang hasil hukuman semata. Karena di tempat kami biasanya pekan pertama MOS ya jadwalnya pelatihan begini, menghadirkan om TNI. Sekalian kami nunut. Biayanya mahal nggak sih ini?

Segitu dulu usul saya. Silakan bagi yang mau nambahi.

Cuman tadi ada teman yang negur saya, “Biasa kampanye mendidik dengan cinta kok setuju dengan pendidikan ala militer sih?”

Lho, cinta kan nggak harus selalu diungkapkan dengan lemah lembut cie. Bisa dengan ketegasan seperti ini. Pendidikan ala militer juga, tidak membuang cinta. Justru lewat cara ini, semoga hati anak-anak dapat disentuh. Bismillah. Laa quwwata illa billah.

::

Ngapunten, semua tulisan di atas hanya mungguh saya ya. Bisa jadi pendapat saya banyak salahnya, mohon maafkeun. Semoga Bapak Aing terus menginspirasi dan di ujung jabatan tidak kesandung masalah. Salam buat Egi ya, Kang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *