Empat Santri Miftahul Ulum yang Diutus Pelatihan ke Surabaya, Ikuti Pelatihan Online Sebagai Bekal Awal
Penulis: Hanin Syarifah
Banyuwangi, MIFUL News – Pada Ahad kemarin, tepatnya 22 Juni 2025 empat santri Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi dikirim untuk mengikuti pelatihan. Abuya Fawaizul Umam, Ketua I YPP MU (Bidang Pendidikan) mendapat undangan pelatihan dari organisasi Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) dan Women’s Learning Partnership (WLP). Pelatihan semacam ini tentu dimaksudkan untuk perkembangan dan kualitas pesantren.
Pelatihan dengan tema “Understanding Human Rights’ Campaign Strategies in the Digital Era ini dilaksanakan secara offline di Surabaya. Pelatihan dimulai pada tgl 27 sampai 29 Juni 2025. Namun, sebelum pelatihan offline dilakukan pertemuan dan pelatihan online melalui aplikasi zoom. Zoom meeting dilaksanakan selama tiga hari, yakni tanggal 24 sampai 26 Juni 2025.
Pelatihan online dijadwalkan malam hari sejak pukul 19.00 WIB sampai selesai. Hari pertama pelatihan membahas tentang Hak Asasi Manusia. Nara sumber pertama ialah Ibu Siti Nur Jannah selaku direktur WYDII. Selain materi, ada sesi perkenalan dengan 31 peserta lainnya.
“Kami agak kaget karena kita difasilitatori oleh orang-orang hebat yang tentu sudah berpengalaman, sehingga pembahasan yang diberikan tidak kaleng-kaleng”, ungkap Siti Nur Azizah salah satu peserta pelatihan.

Materi pada hari kedua, para peserta membahas banyak dengan Bapak Harli Muin. Salah satu materi yang dibahas tentang kesetaraan gender. “Kesetaraan gender merupakan kondisi dimana seorang perempuan juga laki-laki mempunyai hak ataupun kesempatan juga perlakuan yang sama dengan berbagai aspek kehidupan. Tanpa adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin yang tentunya pas dengan judul pelatihan ini,” beber Bapak Harli tegas.
Sebelum pertemuan diakhiri, para peserta diberikan tugas review terkait video tentang tragedi kanjuruhan yang belum mendapatkan keadilan dan komunitas samin dan samen di rembang. Mereka bukan aktivis, mereka hanya seorang petani biasa yang memperjuangkan haknya. Mereka menolak adanya PT. Semen di wilayah mereka dengan melakukan demonstrasi sampai mereka mendapatkan haknya kembali.
Pertemuan terakhir kami pelatihan, peserta diminta mempresentasikan tugas sebelumnya. “Alhamdulillah, pelatihan online berjalan lancar dan tanpa kendala. Banyak hal yang kami dapatkan sebagai materi awal sebelum kita berjumpa di Surabaya besok,” beber Siti Nur Annisa’ dengan mimik puas dan bahagia.
Selepas pelatihan terakhir, empat santri yang telah diutus bersiap menuju Surabaya. Sebelum berangkat tentunya mereka sowan dan meminta doa ke pengasuh dan majelis keluarga YPP MU. “Semoga kita berempat diberi kesehatan dan kemampuan sehingga kita bisa membawa manfaat untuk Miftahul Ulum tercinta ini,” ungkap Wildan Aminovic Al-Ghifari. (Miful/HS)
Editor: Moh. Kholil