Dzikir Jama’i Nasional: Abuya Hayat Diminta Berikan Testimoni Tentang Dzikir Jama’i
Penulis: Putri Nura Wati, M.Pd.
Gresik, MIFUL News – Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) kembali menghadiri Dzikir Jama’i Nasional (DJN). DJN kali ini digelar di Kabupaten Gresik Jawa Timur. Sejak pagi, Sabtu (28/06/2025) Stadion Joko Samudro Gresik ramai dipadati jamaah yang datang dari berbagai daerah.
Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh Persyarikatan Dakwah (Persyada) Al Haromain di bawah bimbingan Abina KH. Ihya’ Ulumiddin. DJN umumnya dilaksanakan pada awal bulan Muharram atau bertepatan dengan tahun baru Islam, di lokasi yang telah disepakati secara bergilir. DJN IX sebelumnya diselenggarakan di Bangkalan, Madura, dan insyaallah tahun mendatang akan dilaksanakan di Banyuwangi.

Berbeda dari tahun sebelumnya, YPP MU mengikuti kegiatan Dzikir Jama’i Nasional X kali ini bersamaan dengan kegiatan Ziarah Wali Lima dan Madura. Selepas menyelesaikan ziarah seperti yang diberitakan sebelumnya, rombongan bertolak kembali menuju Gresik. Rombongan beristirahat di Masjid Agung Gresik dan tepat pukul 07.00 WIB tadi rombongan berangkat ke lokasi DJN.
Ust. Abdul Ghofur mengucapkan permohonan maaf dan rasa terimakasih kepada ribuan jamaah yang hadir. Beliau juga mengutarakan harapannya atas kegiatan DJN ini. “Kami berharap kegiatan ini bisa menambah keberkahan untuk kita semua, khususnya untuk Kabupaten Gresik,” ucap Ust. Ghofur selaku ketua pelaksana.
Beberapa alumni diminta memberikan testimoni tentang Dzikir Jama’i. Salah satunya ialah Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan, M.Pd. pengasuh YPP MU. Abuya Hayat menyampaikan salah satu keutamaan Dzikir Jama’i adalah melembutkan hati (ta’liful qulub). Beliau juga menyampaikan bahwa banyak membantu orang lain dengan menggunakan bacaan yang ada di Dzikir Jama’i.

Pada inti acara, selepas pembacaan Dzikir Jama’i Abina KH. Ihya’ Ulumiddin membeberkan betapa pentingnya mencari guru dengan benar dan mujahadah. Abi Ihya’ bahkan memberikan tips dalam memilih guru dan cara bermujahadah yang tertuang dalam buku Tausiyah DJN X yang berjudul “Berguru, Mujahadah, dan Berjamaah”.
“Mudah-mudahan kita semua masuk dalam golongan orang yang mengamalkan 10 persen agama sebagai modal meraih keselamatan pada musim fitnah di era akhir zaman ini,” doa beliau untuk para jamaah.
Selain itu, beliau juga memberikan ijazah khusus untuk anak cucu kita agar terhindar dari golongan kholfun, yakni generasi yang lalai dalam menunaikan salat dan tenggelam dalam kesenangan duniawi yang tiada ujungnya, sebagaimana dijelaskan oleh Abi Ihya’. (Miful/PNW)
Editor: Rudi Hartono, M.Pd.
Barokallah,,,🥰🥰🥰