YPP MU Kedatangan Tamu Istimewa dari Makkah Al-Mukarromah, Syekh Muhammad Ali Bin Hilal Al-Hudzali: Saya Tertarik dengan Nama Miftahul Ulum
4 mins read

YPP MU Kedatangan Tamu Istimewa dari Makkah Al-Mukarromah, Syekh Muhammad Ali Bin Hilal Al-Hudzali: Saya Tertarik dengan Nama Miftahul Ulum

15

Penulis: Astutik Maimuna, M.Pd.

Bengkak, MIFUL News – Siang tadi, Senin (15/09/2025) Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Syekh Muhammad Ali Bin Hilal Al-Hudzali. Beliau merupakan penduduk asli Makkah dan lahir di kota mulia tersebut. Beliau adalah pengajar di rushaifah Makkah Al-Mukarromah. Syekh Muhammad Ali ini menjadi tumpuan dan pusaran guru kita semua. Kunjungan beliau ke Bumi Miftahul Ulum ialah silaturahmi karena Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan, M.Pd. merupakan santri Abuya Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Malikiy di Makkah.

KH. Muhammad Hasan bin KH. Abd. Muiz Bondowoso selaku penterjemah Syekh Muhammad Ali berdawuh, “mudah-mudahan kehadiran beliau menjadi suatu keberkahan bagi Miftahul Ulum, santri-santri, dan guru-gurunya.”

Kemudian, Syekh Muhammad Ali memberi banyak ilmu kepada para hadirin yang berada di Masjid Nurul Ulum Bengkak. Beliau memaparkan tentang nama Miftahul Ulum dengan Bahasa Arab yang kemudian diterjemah oleh Kiai Hasan.

Sejak Syekh Muhammad Ali mengetahui akan mampir ke Miftahul Ulum, beliau tertarik dengan nama Miftahul Ulum. Mudah-mudahan para santri dan guru dapat tabarrukan kepada nama Miftahul Ulum yang artinya kuncinya ilmu. Ingat Miftahul Ulum Syekh Muhammad Ali ingat cerita tentang Imam Sattaki. Imam Sattaki adalah tukang kunci, pembuat kunci. Kemudian, Imam Sattaki terus membuat sebuah kitab yang diberi diberi nama Miftahul Ulum. Hal tersebut dilakukan karena beliau tukang kunci (Miftah).

Syeikh Muhammad Ali mengatakan, “pemberian nama Miftahul Ulum oleh pendiri ini sudah tepat dan jelas merupakan tafa’ulan. Miftahul Ulum artinya kunci ilmu. Mudah-mudahan santrinya akan benar-benar menjadi kunci keilmuan. Hal ini juga merupakan hal yang disukai nabi, yaitu tafa’ulan.”

Banyak kisah yang Syekh Muhammad Ali ceritakan tentang Nabi yang cinta dengan tafa’ulan. Beliau bercerita ketika Nabi bertafa’ul dengan nama orang saat Nabi Muhammad akan memeras susu. Beliau tidak mau susu kambing itu diperas oleh sahabat yang memiliki nama dengan arti keras karena hawatir susunya keras. Demikian juga dengan yang arti namanya dingin karena hawatir susunya dingin. Masih banyak lagi kisah yang Syekh Muhammad Ali ceritakan tentang sikap nabi dalam melakukan sesuatu dengan tafa’ulan kepada sebuah nama. Akan tetapi, beliau menegaskan bahwa nabi tidak pernah berprasangka jelek atas nama yang jelek.

“Hal ini juga dilakukan oleh Abuya Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Malikiy di Makkah. Beliau bercerita bahwa suatu hari Abuya Sayyid dalam perjalanan dan di tengah perjalanan ban kendaraan beliau meletus. Kemudian ban ditambal kemudian meletus lagi, ditambal lagi dan meletus lagi, hingga berkali-kali. Sang supir mengatakan kepada Abuya Sayyid dengan prasangka ban mobilnya jelek. Ternyata Abuya Sayyid tidak memperbolehkan prasangka itu karena beliau tidak suka berprasangka jelek,” beber Kiai Hasan menterjemah apa yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Ali

Syekh Muhammad kemudian mengungkap awal mula kenapa beliau bercerita tentang Tafa’ulan Rasulullah. Beliau mengatakan, “saya tertarik dengan nama Miftahul Ulum, mudah-mudahan santri-santri, pengurus, dan guru yang ada di Miftahul Ulum itu menjadi Ihsanul Hal. Orang yang akan menimba ilmu harus bernisbat pada suatu Pondok Pesantren maka apa yang sudah dilaksanakan pendiri pertama Miftahul Ulum itu sudah benar ketika menamaninya dengan Miftahul Ulum (kuncinya ilmu).”

Terakhir, Syekh Muhammad Ali memberi nasihat kepada para hadirin untuk senantiasa menanam kebaikan dan semangat dalam mencari ilmu.

“Barang siapa yang menanam yang benih maka akan memanen. Kita tidak bisa meraih kemuliaan dengan enak-enak, kita harus bersusah payah, mengulang apa yang dipelajari. Membaca dan menghafal itu penting. Akan tetapi, ada yang lebih penting dari keduanya adalah muthola’ah. Jangan malu bertanya akan apa yang belum diketahui. Ingat, kunci menuntut ilmu adalah menata hati agar senantiasa meniatkannya karena Allah semata. Bukan ingin dikatakan alim atau ingin dikatakan yang lain harus ikhlas karena Allah Swt. Membaca sejarah-sejarah para ulama terdahulu sehingga meningkatkan semangat mencari ilmu seperti Imam Nawawi yang bersemangat dalam mencari ilmu. Cerita-cerita seperti ini sangat perlu untuk membangkitkan semangat kita dalam mencari ilmu,” beber Syekh Muhammad panjang lebar dan menutup majelis ilmu siang tadi.

Sungguh merupakan sebuah keistimewaan dan keberkahan untuk Miftahul Ulum dan semua yang hadir. Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan, M.Pd, Pengasuh YPP Miftahul Ulum Bengkak berdawuh, “Mudah-mudahan semua yang hadir dan sabar menunggu kehadiran Syekh Muhammad Ali Bin Hilal Al-Hudzali mendapatkan barokah. Mudah-mudahan Allah membalas dengan banyak kebaikan.” (Miful/AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *