Penguatan Dakwah Muballighoh: Mewujudkan Islam Rahmatan Lil-‘Alamiin yang Berperspektif Gender
4 mins read

Penguatan Dakwah Muballighoh: Mewujudkan Islam Rahmatan Lil-‘Alamiin yang Berperspektif Gender

12

Oleh: Ismiyati, S.HI *

Di tengah dinamika masyarakat modern, suara muballighoh para dai perempuan semakin penting untuk mewarnai dakwah Islam. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi kekuatan yang menghadirkan wajah Islam rahmatan lil-‘alamin dengan sentuhan yang lebih ramah, adil, dan menyentuh semua kalangan. Dakwah berperspektif gender menegaskan bahwa Islam hadir untuk laki-laki dan perempuan secara setara, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 71: “Laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107) tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat patriarki yang masih kerap muncul dalam masyarakat. Justru dakwah muballighoh berperan membongkar bias-bias gender yang selama ini mengekang ruang gerak perempuan. Melalui sudut pandang yang lebih inklusif, muballighoh dapat menunjukkan bahwa Islam sangat memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya, berdakwah, dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan sosial maupun keagamaan.

Agar peran ini semakin kuat, dakwah muballighoh perlu ditopang dengan penguatan kapasitas, baik intelektual maupun spiritual. Mereka juga perlu memanfaatkan media digital, forum komunitas, hingga ruang publik yang lebih luas. Yang tak kalah penting, sinergi dengan para muballigh laki-laki harus terus dibangun agar dakwah inklusif gender bukan dipandang sebagai persaingan, tetapi kemitraan. Rasulullah SAW telah memberi teladan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya” (HR. Tirmidzi), sebuah pesan bahwa dakwah yang sejati adalah dakwah yang menebarkan penghormatan, bukan diskriminasi.

Isu-isu aktual seperti kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan anak, hingga kesetaraan pendidikan dapat menjadi materi dakwah yang sangat relevan bagi muballighoh. Dengan pendekatan rahmatan lil-‘alamiin, pesan agama bisa dikemas lebih lembut, persuasif, dan menyentuh hati. Hadis Nabi SAW menegaskan: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut terhadap istrinya” (HR. Ahmad). Artinya, dakwah yang berperspektif gender justru memperkuat nilai keimanan dan kemanusiaan.

Selain isi dakwah, keteladanan muballighoh juga menjadi faktor penting. Kehadiran mereka dengan akhlak santun, konsistensi dalam amal, serta kemampuan menyeimbangkan dakwah lisan dan perbuatan, membuat pesan agama lebih mudah diterima. Allah menegaskan: “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21). Ketika muballighoh meneladani akhlak Nabi, dakwah mereka akan membumi dan menginspirasi.

Keberadaan muballighoh juga berfungsi sebagai teladan nyata. Ketika muballighoh hadir dengan akhlak yang santun, konsisten dalam amal salehah dan mampu mengimbangi dakwah bil lisan dengan dakwah bil hal, masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang dibawa. Keteladanan tersebut menjadi medium efektif untuk menunjukkan bahwa Islam yang sejati adalah agama yang menebar rahmat, bukan yang mengekang atau menindas satu gender atas gender lainnya. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya dakwah muballighoh belum mendapat apresiasi yang posistif di tengan masyaraat, karena ruang gerak perempuan masih terbatas, sebagian masyarakat terutama kaum laki laki beranggapan suara dan existensi perempuan adalah aurat sehingga perempuan di anggap penyebab adanya kejahatan pelecehan seksual memandang perempuan adalah mahluk yang lemah.

Dengan demikian, penguatan dakwah muballighoh berperspektif gender merupakan langkah strategis dalam mewujudkan Islam rahmatan lil-‘alamin. Dakwah yang ramah, adil, dan inklusif tidak hanya memperkuat eksistensi muballighoh, tetapi juga membuka jalan bagi terciptanya masyarakat yang lebih berkeadilan gender, harmonis, serta berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Inilah wajah dakwah masa kini yang tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga membebaskan manusia dari segala bentuk ketidakadilan.

Pada akhirnya, penguatan dakwah muballighoh berperspektif gender adalah langkah strategis untuk menghadirkan Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘alamin. Islam yang adil, ramah, dan membebaskan manusia dari ketidakadilan, baik laki-laki maupun perempuan. Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 13 menegaskan: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, agar kamu saling mengenal.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa dakwah harus membangun jembatan kemanusiaan, bukan tembok perbedaan bahwa laki laki dan perempuan mempunyai hak dan esempatan yang sama dengan.

*) Penulis merupakan Guru PKn di MTs Miftahul Ulum Bengkak dan saat ini aktif sebagai mahasiswi S2 Universitas Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi

2 thoughts on “Penguatan Dakwah Muballighoh: Mewujudkan Islam Rahmatan Lil-‘Alamiin yang Berperspektif Gender

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *