Di Negeri yang Katanya Merdeka, Rakyat Menjerit Tanpa Suara
3 mins read

Di Negeri yang Katanya Merdeka, Rakyat Menjerit Tanpa Suara

13

Oleh : Nur Rindi Apriliyansah*)

Delapan dekade sudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Bendera merah putih terus berkibar, lagu kebangsaan berkumandang di setiap upacara, dan pidato-pidato kenegaraan tidak pernah absen menyebut kata “rakyat”. Akan tetapi, di balik semua itu ada suara yang tidak terdengar, suara mereka yang hidupnya kian terhimpit, yang menjerit dalam diam.

Bulan Agustus lalu menjadi saksi bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya milik semua orang. Demonstrasi besar-besaran pecah di berbagai kota, bukan sekadar aksi jalanan. Ia adalah luapan luka yang telah lama dipendam. Kenaikan gaji dan tunjangan DPR di tengah ekonomi yang tidak stabil dan efisiensi anggaran, tetapi bukan itu satu-satunya sebab. Rakyat sudah lama merasa ditinggalkan dan tidak didengarkan. Banyak masyarakat sipil yang menjadi korban dari sistem yang tidak lagi berpihak pada rakyat.

Sementara itu, pasar keuangan berguncang. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) anjlok hampir 2%, rupiah melemah hingga menyentuh Rp 16.475 per dolar AS. Investor asing menarik modal mereka dan dunia usaha memilih menunggu. Ketidakpastian politik telah menjelma menjadi ketidakpastian ekonomi. Seperti biasa, yang paling terdampak adalah mereka yang tidak punya cadangan dan tidak punya pilihan.

Akhir-akhir ini pemerintah masih berbicara tentang pertumbuhan, tentang stabilitas, dan optimisme. Akan tetapi, bagi warung-warung kecil, rumah-rumah sempit, dan meja-meja makan yang kosong kata itu tidak lagi memiliki makna. Harga beras dan kebutuhan pokok naik, listrik tidak terbayar, dan anak-anak belajar dengan hati kedua orang tua yang dipenuhi kekhawatiran.

Ekonom dari CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Nailul Huda menyebut bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan besar tidak akan tercapai jika situasi politik tidak segera dipulihkan. Ia menyoroti inkompetensi pemerintah dalam menjaga kondusivitas yang berimbas langsung pada daya beli dan kepercayaan publik.

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka adalah ketika rakyat dapat hidup dengan tenang, bersuara tanpa rasa takut, dan menatap masa depan dengan harapan yang nyata. Namun, hari ini suara itu masih terpendam di balik hiruk-pikuk politik dan kebijakan yang tidak menyentuh akar kehidupan rakyat.

Sebagai bagian dari IMAMU MIFUL (Ikatan Mahasiswa dan Alumni Muda Miftahul Ulum) kami menulis ini sebagai bentuk kepedulian dan harapan, bukan kecaman. Kami percaya bahwa bangsa besar bukan diukur dari megahnya gedung parlemen, melainkan seberapa dalam ia mendengar jeritan rakyatnya, seberapa peduli ia terhadap keresahan dan kekhawatiran rakyat.
Harapan sebagian besar rakyat sangat sederhana, yakni agar Indonesia menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Negara yang memiliki pemimpin atau pemerintah adil, baik, dan peduli, negara yang kembali berpihak pada nurani, pada keadilan, dan pada kehidupan yang benar-benar merdeka. Negara yang pemerintah dan rakyatnya memiliki hubungan harmonis, dan negara yang rakyat dengan kekayaan alamnya seimbang sehingga akan makin kuat rasa syukur yang tumbuh dalam hati rakyat ketimbang keresahan dan kecaman.

Kami percaya sunyi pun bisa menjadi gema, asal ada yang mau mendengarkan. Teruslah berbenah Indonesia sehingga kelak akan menjadi bangsa yang baik seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *