Bijak Melihat Pesantren di Tengah Ramainya Pemberitaan Negatif
Penulis: Mahrus
Belakangan ini, berbagai pemberitaan mengenai pesantren kembali ramai memenuhi media dan media sosial. Kasus kekerasan, bullying, pencabulan, hingga penyalahgunaan kekuasaan oleh oknum tertentu terus diberitakan secara berulang dan menjadi konsumsi publik setiap hari. Tidak dapat dipungkiri, kasus-kasus tersebut memang perlu mendapat perhatian serius. Media juga memiliki tugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat sebagai bentuk kontrol sosial. Namun di sisi lain, pemberitaan yang terus berulang tanpa diimbangi sudut pandang yang proporsional perlahan membentuk opini bahwa pesantren identik dengan kekerasan dan penyimpangan. Akibatnya, banyak masyarakat mulai melihat pesantren hanya dari sisi buruk yang viral di pemberitaan.
Di era media digital saat ini, berita yang mengandung konflik, skandal, dan kontroversi jauh lebih cepat menarik perhatian publik dibandingkan kabar tentang pendidikan, pengabdian, atau keberhasilan santri. Karena itu, ketika ada satu kasus di pesantren, pemberitaannya bisa terus muncul dari berbagai sudut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sementara ribuan aktivitas positif di pesantren jarang mendapatkan ruang yang sama. Jarang diberitakan bagaimana para kiai mendidik santri dengan penuh keikhlasan, bagaimana santri belajar hidup sederhana, atau bagaimana pesantren membantu masyarakat melalui pendidikan dan kegiatan sosial. Padahal, kenyataannya masih sangat banyak pesantren yang berjalan dengan baik dan tetap menjaga nilai-nilai pendidikan Islam.
Masyarakat perlu memahami bahwa tindakan menyimpang yang dilakukan oleh segelintir orang tidak dapat dijadikan gambaran seluruh pesantren di Indonesia. Sebab pesantren bukan hanya satu atau dua lembaga, melainkan ribuan lembaga pendidikan dengan sistem, budaya, dan pola pengasuhan yang berbeda-beda. Tidak adil apabila seluruh pesantren dipandang negatif hanya karena kasus yang dilakukan oknum tertentu. Apalagi banyak pesantren yang selama ini justru menjadi tempat lahirnya ulama, guru, tokoh masyarakat, dan generasi muda yang memiliki akhlak baik. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap bersikap objektif dan tidak mudah terbawa generalisasi akibat pemberitaan yang terus berulang.
Pesantren tentu tidak anti kritik. Evaluasi dan pengawasan tetap diperlukan agar dunia pendidikan semakin baik dan aman bagi para santri. Namun kritik yang sehat berbeda dengan penghakiman yang terus menggiring opini bahwa seluruh pesantren bermasalah. Jika pemberitaan hanya berfokus pada sisi negatif tanpa menghadirkan keseimbangan informasi, maka lama-kelamaan yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan Islam itu sendiri. Padahal di tengah berbagai kekurangan yang ada, pesantren masih menjadi tempat belajar agama, pembentukan akhlak, dan pengabdian sosial bagi jutaan santri di Indonesia.
Bijak melihat pesantren berarti mampu membedakan antara kritik terhadap kesalahan dan generalisasi terhadap seluruh lembaga. Kesalahan memang harus diperbaiki, tetapi jasa besar pesantren terhadap pendidikan umat juga tidak boleh dihapus begitu saja oleh pemberitaan negatif yang terus diulang. Masyarakat perlu melihat pesantren secara lebih utuh bahwa di balik berita-berita yang viral, masih banyak pesantren yang mendidik dengan tulus, menjaga amanah pendidikan, dan berusaha membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak. Ramainya pemberitaan negatif tentang pesantren hendaknya tidak membuat masyarakat kehilangan sikap objektif. Kasus yang terjadi memang harus menjadi bahan evaluasi bersama, tetapi tidak semua pesantren dapat disamakan dengan tindakan oknum tertentu. Di tengah sorotan negatif yang terus muncul, pesantren tetap memiliki peran besar sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan moral umat. Karena itu, masyarakat diharapkan tetap bijak, adil, dan tidak mudah menghakimi seluruh pesantren hanya dari pemberitaan yang terus berulang di media.