Air Mata di Gerbang Pesantren
5 mins read

Air Mata di Gerbang Pesantren

Setiap musim penerimaan santri baru, ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang di pesantren-pesantren. Seorang ibu menahan tangis saat berpamitan, sedangkan sang Ayah berusaha tampak tegar kendati matanya berkaca-kaca. Sementara si anak memeluk orangtuanya erat-erat, meluapkan tangis, seakan belum siap memasuki dunia yang benar-benar baru.
Beberapa hari kemudian, mulailah berbagai keluhan lazim bermunculan. Ada yang susah makan. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang menangis setiap malam. Ada pula yang berkali-kali ngotot minta dijemput pulang.

Fenomena sedemikian sering dianggap sebagai tanda bahwa anak tidak betah di pesantren, tidak kuat mondok. Padahal kenyataan faktualnya tidak sesederhana itu.

Berbagai penelitian tentang kehidupan santri mengungkapkan bahwa banyak sebab santri baru tidak kerasan di pondok. Salah satu penyebab yang rutin ialah homesickness, yaitu perasaan rindu rumah disertai kecemasan dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Beberapa penelitian terhadap santri baru di sejumlah pesantren menemukan fakta bahwa perpisahan dengan keluarga, perubahan rutinitas hidup, dan kesulitan membangun relasi sosial menjadi faktor utama munculnya ketidakbetahan pada masa-masa awal mondok.

Sebenarnya hal itu sangat manusiawi. Bayangkan seorang anak yang selama bertahun-tahun hidup dalam pelukan hangat keluarga. Setiap pagi dibangunkan ibu. Setiap kali sakit ditemani ayah. Tiba-tiba sekarang ia harus hidup bersama puluhan bahkan ratusan orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.
Di rumah, ia adalah anak kesayangan. Di pondok, ia adalah santri yang harus belajar menjadi pribadi mandiri. Semua hal kini harus ia lakukan sendiri. Mencuci pakaian sendiri, mengatur uang saku, mengantri kamar mandi, mengikuti jadwal yang ketat, dan hidup dengan berbagai aturan yang nyaris serba baru. Tentu tidak semua anak siap menghadapi perubahan besar tersebut.

Faktor kausal lain yang acap lepas dari perhatian ialah belum tumbuhnya rasa memiliki terhadap pesantren pada diri santri baru. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa semakin kuat sense of belonging atau rasa menjadi bagian dari komunitas pesantren, semakin rendah kadar “rindu-rumah” yang dialami santri baru.

Dalam bahasa sederhana, seorang santri akan mulai betah ketika ia tidak lagi merasa sebagai “orang asing” di pondok. Saat ia mulai memiliki sahabat, mengenal para ustadz dan musyrif-musyrifahnya, mulai merasa bahwa kamar asrama adalah rumah keduanya, pada saat itulah proses adaptasi berjalan dengan baik. Dan “penyakit” rindu-rumah perlahan bakal raib, berganti rasa betah dan bahagia berproses di pesantren.

Sebaliknya, pada kondisi tertentu, ada santri yang datang ke pesantren dengan perasaan terpaksa. Ia mondok bukan karena keinginannya sendiri, tetapi lebih karena dorongan orangtua. Dalam kondisi seperti ini, setiap aturan pondok akan terasa sebagai beban, bukan sebagai sarana berproses dalam pendidikan. Pada titik ini, patutlah diingat anjuran para ulama untuk bersabar dalam mencari ilmu, misalnya ungkapan masyhur Yahya bin Abi Katsir dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya An-Nawawi 1/37, “Ilmu tidaklah dapat diraih dengan badan yang bersantai-santai”, لا يستطاع العلم براحة الجسم.

Ungkapan pendek tersebut telah menjadi falsafah pendidikan Islam selama berabad-abad. Tegasnya, tidak ada ulama besar yang lahir dari kehidupan yang serba nyaman. Hampir semuanya pernah merasakan rindu kampung halaman, hidup sederhana, dan berjuang menghadapi aneka kesulitan dan tantangan.

Bahkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengingatkan bahwa salah satu tujuan pendidikan ialah melatih jiwa agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan membangun ketangguhan diri. Pesantren sesungguhnya sedang menjalankan proses menuju itu.

Lalu, bagaimana cara agar santri baru lebih betah mondok dan bersemangat dalam menuntut ilmu?

Pertama, pesantren perlu menjadikan masa adaptasi sebagai program yang serius. Banyak penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya, musyrif-musyrifah, dan pengurus asrama berperan sangat strategis dalam membantu santri melewati fase homesickness itu.

Kedua, pengasuh dan para ustaz seyogianya menghadirkan diri lebih sebagai figur orangtua, tidak hanya hadir sebagai pengajar. Terkadang satu sapaan hangat dari seorang kiai atau pengasuh lebih ampuh daripada seribu nasihat. Banyak santri betah bertahan bukan karena aturan pondok, tetapi karena merasa dicintai oleh gurunya.

Ketiga, orangtua perlu memahami bahwa anak menangis pada minggu-minggu pertama mondok adalah hal yang normal. Kesalahan yang sering terjadi ialah tatkala setiap tangisan langsung direspons dengan menjemput si anak pulang. Akibatnya, proses adaptasinya terhenti sebelum sempat berkembang.

Keempat, santri perlu diajak memahami makna besar di balik kehidupan pondok. Mereka harus dipahamkan bahwa mereka tidak sedang dihukum. Dengan mondok, sejatinya mereka sedang dipersiapkan. Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Hadis tersebut secara tidak langsung menggaransi bahwa kesulitan yang dirasakan santri bukanlah penderitaan yang sia-sia. Setiap kesulitan adalah bagian dari perjalanan santri menuju kemuliaan ilmu.

Akhirnya, ada trend yang rutin berlangsung sebagai ujung dari proses bertangis-tangisan di awal mondok. Biasanya, santri yang dahulu di masa awal mondok paling sering menangis justru sering menjadi santri yang paling betah. Santri yang dahulu berkali-kali bersikeras minta pulang justru menjadi alumni yang paling rindu pada pondoknya. Ini trend menarik yang patut pula diketahui orangtua agar menguatkan diri dalam memasrahkan anak kesayangannya untuk dididik di pesantren. Percayalah, semua selalu ada prosesnya, termasuk membuat betah anak mondok.

Ketahuilah, setiap pesantren memang memiliki cara unik dalam mendidik santri. Ia tidak hanya mengajarkan cara membaca kitab atau beragama secara baik dan benar, tetapi juga mengajarkan cara menghadapi hidup yang fana’ ini. Dan sering kali, pelajaran terbesar itu justru dimulai dari air mata yang jatuh diam-diam di hari-hari pertama mondok.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *