SADARI MAQAM, TEMUKAN KESEIMBANGAN
Fawaizul Umam
إرادتك التجريد مع إقامـة الله إيّاك في الأسباب من الشهوة الخفيّة
وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إيّاك في التجريد انحطاط عن الهمّة العليّة
Keinginanmu untuk meninggalkan sebab (ikhtiar), padahal Allah menempatkanmu di level sebab, itu adalah syahwat tersembunyi. Adapun keinginanmu untuk kembali menekuni sebab, padahal Allah telah menempatkanmu dalam level tajrid (terlepas dari sebab), itu adalah kemunduran dari tekad yang tinggi.
Melalui hikmah kedua dalam kitab karyanya, al-Hikam, ini Ibn Atha’illah sedang mengingatkan posisi batin kita dan pentingnya bersadar diri atasnya dalam menjalani hidup. Intinya, jangan salah menempatkan hati. Kalau Allah menakdirkan kita hidup di dunia kerja, berdagang, bertani, jadi pegawai, guru, dan semacamnya, maka jalani itu sebagai sebab, sebagai wasilah mengunduh rezeki. Jangan berpura-pura suci dengan menolak semua sebab, lalu bersembunyi di balik alasan tawakkal. Itu bukan kesalehan, melainkan syahwatyang halus dan samar tersembunyi, yakni hasrat ego untuk merasa lebih mulia dari orang lain.
Sebaliknya, jika Allah sudah melepaskan kita dari kesibukan duniawi dan menempatkan kita dalam maqam tajrid, misalnya dianugerahi Allah keleluasan untuk beribadah, menuntut ilmu, dimudahkan dalam ber-tafakkur, maka jangan tergoda untuk kembali mengejar hiruk-pikuk dunia, bersibuk-sibuk lagi menekuni “sebab”. Itu, menurutnya, adalah tanda merosotnya semangat spiritual, bukan kebesaran jiwa.
Tegas kata, hikmah ini mengajarkan keseimbangan batiniyah. Selalu sadar diri di maqam manakah Allah menempatkan kita, tajrid ataukah asbab. Jadi, bukan perkara “sebab” atau “tanpa sebab”, melainkan bagaimana hati berpasrah pada maqam yang Allah tetapkan. Pada akhirnya, yang terpenting bukan peran apa yang kita jalani, tapi bagaimana hati kita terikat hanya kepada-Nya, apa pun posisi spiritual yang Ia pilihkan buat kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai betapa banyak di antara kita yang gagal menempatkan diri. Ada yang bekerja tanpa henti, yakin betul bahwa nasibnya ditentukan gaji atau jabatan atau pekerjaan. Ia menuhankan sebab. Ia lupa bahwa kerja hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia terjebak dalam “sebab” seolah-olah nasibnya ditentukan sepenuhnya oleh gaji, jabatan atau pekerjaan, padahal rezeki tetap dari Allah. Sebaliknya, ada pula orang yang menolak kerja, enggan berusaha, lalu bersembunyi di balik retorika “Allah pasti memberi”. Ia menolak mengikhtiari “sebab”, padahal ia ditempatkan Allah di dunia yang penuh sebab. Inilah syahwat tersembunyi yang dikritik oleh sang Shohibul Hikam itu.
Kita memang acap salah membaca posisi diri. Kita mengejar yang bukan milik kita atau meninggalkan yang justru jadi jalan kita. Padahal hidup sejatinya sederhana, yaitu berada di tempat (maqam) yang Allah tetapkan dan menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Dalam hal ini, ungkapan masyhur orang Madura patutlah disimak, yakni (1) lakona lakone (kerjakan tugasmu), (2) kennenganna kennengi (tempati tempatmu), dan (3) jhalanna jhalani (jalani jalanmu).
Ketiga frase bijak tersebut mengajari kita tentang pentingnya menyadari maqam diri sekaligus menjalaninya dengan sepenuh hati. Jangan menuhankan kerja, jangan pula menjadikan zikir sekadar pelarian. Jangan terlalu sibuk mengejar cabang, hingga lupa pada akar. Jangan berpura-pura zuhud, padahal hanya menutupi kelemahan diri. Temukan keseimbanganmu. Begitu.