ASAL GELAR KIAI DJAZARI
Oleh: Ust. Syukriyanto, S.Pd.I
Membaca atau menceritakan sosok pilihan seorang yang dikenal dengan kesabaran, ketelatenan, dan keteladanannya mampu menyuburkan benih-benih kebaikan. Merupakan hal yang tak pernah habis dan senantiasa mendatangkan semangat baru untuk mengulang kembali kenangan-kenangan semasa hidupnya. Demikian pula halnya dengan sosok teduh KH. Ach. Djazari, pengasuh pertama Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi; namanya selalu menimbulkan getar rindu dan hati pun tergerak untuk kembali berbagi kisah pribadinya, sosok yang tangguh, teguh memegang teguh aqidah. Namun, penuh kasih menyayangi umat.
Beliau lahir dari zuriah agung, keturunan bertraih Rasulullah SAW, dari jalur Raden Ahmad Jerongoan, Pamekasan Madura, beliau merupakan anak cicit Sunan Drajat putera Raden Rahmatullah yang lebih dikenal dengan julukan Sunan Ampel. Sebagai anak yang lahir di lingkungan pesantren, beliau dapat menikmati hidangan ilmu agama dengan baik, lalu menambah keberkahan ilmunya di Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan Jawa Timur.
Beliau tidak berhenti di Sidogiri. Rasa haus akan keberkahan ilmu mendorongnya untuk menyempatkan diri mengikuti kajian kitab di berbagai pondok pada setiap bulan Ramadan setelah pulang dari pondok. Setelah menimba ilmu selama sebelas tahun, beliau pun pamit dan membantu penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, hingga akhirnya diutus oleh Kiai As’ad ke daerah Bengkak untuk menebar kebaikan.
Beliau merintis pesantren itu dari nol. Diawali dengan membangun tempat mengaji yang lebih dikenal dengan sebutan langar (mushalla) hingga terbangun bangunan sekolah untuk pendidikan dasar (Madrasah Ibtidaiyah) dan berlanjut membangun asrama pondok agar anak-anak yang datang dari jauh, maupun mereka yang ingin memudahkan proses pendidikannya dapat belajar dengan maksimal.
Sejak kedatangannya, panggilan “Ustadz” selalu menyertai namanya. Beberapa tahun berikutnya, beliau mendatangkan guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri. Pada masa itu, guru yang ditugaskan adalah Ustadz Yusuf Abdullah, yang berasal dari Pulau Bawean Gresik. Atas inisiatif Ustadz Yusuf Abdullah panggilan “Ustadz” untuk pengasuh pesantren dianggap kurang pantas. Gagasan ini beliau sampaikan langsung kepada penulis dan penulis pun menyambut baik usulan tersebut. Maka atas anjuran Ustadz Yusuf itulah para santri mengubah panggilan dari “Ustadz” menjadi “Kiai Djazari”.
Hal ini merupakan bukti nyata bahwa panggilan “Kiai” untuk beliau bukanlah hasil permintaan maupun rekayasa pribadi. Ini juga membuktikan bahwa Kiai Djazari bukanlah orang yang mengejar kedudukan atau haus akan gelar. Bahkan, panggilan “Kiai” tidak mengubah keteduhan hati maupun ketegasan sikap beliau. Keistiqomahan beliau dalam menjaga shalat berjamaah tetap terjaga hingga saat beliau jatuh sakit, yang kemudian membawanya pulang ke rahmatullah.
Sebagai penutup tulisan ini, penulis menyajikan pesan beliau kepada salah satu santri awal (Bapak Satra’i) “Tang santre kodhu padena oreng se ajual paracangan” (Santriku haruslah lengkap, serba ada, sebagaimana seorang pemilik warung atau pedagang sayur). Semoga kita semua para santri beliau maupun para simpatisannya senantiasa mendapat limpahan berkah dari jiwa yang murni ini dari KH. Achmad Djazari Marzuqi. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.