Anak di Pondok Belum Kerasan, Apa yang Harus Dilakukan?
Oleh: Nur Hidayati*)
Salah satu cobaan paling mendasar dan hampir dialami oleh seluruh santri baru adalah rasa tidak nyaman, orang Madura menyebutnya tak perna atau belum kerasan. Banyak sekali dampak perasaan belum kerasan ini terhadap proses pengenalan dan pembiasaan anak di pesantren, tingkatnya pun berbeda-beda levelnya antara santri satu dengan yang lain.
Sebagian besar santri baru mengekspresikan rasa belum kerasan ini dengan banyak menangis. Entah menangis sembunyi-sembunyi di bilik kamar mandi atau bahkan yang terang-terangan di depan teman-temannya. Entah itu waktu tahajud, siang bolong, atau sudah menjelang jam istirahat malam, tangisan mereka bisa tumpah ruah seakan tiada habisnya. Berhenti usai dibujuk dan dirayu teman-temannya, lalu beberapa saat kemudian air matanya kembali menganak sungai. Suara tangisannya juga berbeda, ada yang sesenggukan dan tersengal tanpa kata, ada yang dibubuhi kalimat-kalimat rintihan, pun ada yang sambil mengeluarkan sumpah serapah pada orangtua merasa dirinya ditelantarkan dan dibuang ke pesantren jauh dari rumah.
Lambat laun tangis-tangis itu mereda dengan sendirinya. Frekuensinya semakin jarang. Sesekali saja masih terdengar sisa rengekan-rengekan kecil ketika waktunya dhikanan. Di antara mereka kemudian banyak orangtua berujar, “dhina pokok perna apa bei se e penta e torotana.” (Asal kerasan di pesantren apa saja yang diinginkan santri akan dikabulkan oleh orangtua).
Lebih ekstrem beberapa dari santri yang belum kerasan nekat kabur dari pesantren. Tidak peduli apa bahkan terkadang mereka pergi tanpa rencana hendak ke mana naik apa, jalan saja sejauh kaki melangkah sampai pengurus atau keluarga menemukan dan menjemputnya.
Nah, perasaan belum kerasan tersebut sebenarnya adalah hal wajar pada masa adaptasi. Fase ini juga menentukan seperti apa fase selanjutnya. Santri yang berhasil menyelesaikan perasaan belum kerasannya dengan baik tentu lebih mudah untuk belajar secara efektif. Sebaliknya, santri yang masih terkungkung perasaannya akan cenderung melanggar atau paling tidak akan tertinggal proses belajarnya.
Carilah ketenangan hati.
Langkah yang pertama bahkan bisa dimulai jauh hari sejak anak belum diberangkatkan ke pesantren, tanamkan bahwa nyantri itu merupakan kebutuhan untuk kebaikan masa depan anak bukan semata keterpaksaan untuk mengikuti keinginan orangtua. Sambil lalu mintalah rida dari keluarga, kakek-nenek misalnya dan juga rida dari guru. Orang Jawa masih kental dengan adat suwuk, maka tidak ada salahnya langkah ini juga dicoba. Mintalah air barakah pada guru kiai alim allamah untuk mendoakan ketenangan dan kedamaian hati anak yang akan dimondokkan. Jangan lupa, orangtua juga minta didoakan agar tenang dan jembar juga hatinya. Jika sungkan untuk menghadap kiai secara langsung bisa meminta bantuan pengurus untuk matur.
Ada kisah salah satu santri baru di Asrama Putri Miftahul Ulum Bengkak pada tahun 2017. Sebut saja Ani (nama disamarkan), ia berusia tiga belasan tahun baru lulus tingkat ibtidaiyah. Sejak tiba di asrama, ia cepat membaur dengan teman-teman santri lain, hanya sesekali saja dijumpai matanya berkaca-kaca pastilah karena teringat keluarga di rumah. Kulihat bapak si Ani tidak pernah absen berkunjung setiap hari, bakda Dhuhur di asrama ini memang ada jam istirahat sekitar satu jam. Masih kami maklumi pada pekan pertama, masuk pekan kedua pihak pengurus mencoba memberi saran untuk mengurangi intensitas kunjungan supaya anaknya bisa beristirahat.
Tiga pekan berlalu, Ani sudah ceria tanpa beban. Ia mengikuti semua kegiatan asrama dan madrasah dengan semangat, sama sekali tidak tampak adanya rasa terpaksa atau keberatan. Sayangnya, tiba-tiba hari itu bapaknya datang menjemput untuk membawanya pulang. Berbagai nasihat disampaikan oleh pengurus dan pengasuh, tetapi sekonyong-konyongnya keputusan orang tua itu telah final. Ia tetap bersikeras membawa anaknya pulang karena alasan tidak bisa dijauhkan dari sang anak. Menurut penuturannya, selama Ani berada di pesantren bapaknya tidak bisa tidur barang sekejap karena rasa sakit kepala yang teramat sangat sebab merindukan Ani anak semata wayangnya. Akhirnya Ani pun boyong dan tidak punya kesempatan untuk ngalap barokah sebagai santri.
Begitulah, kemantapan niat dan ketenangan hati dari calon santri dan walinya perlu dipupuk sejak dini. Jangan sampai muncul Ani-Ani yang lain.
Menangislah sepuasnya!
Jangan pernah menahan tangis. Tidak selamanya tangisan itu sebagai bentuk kelemahan. Adakalanya menangis justru menjadi obat untuk semua perasaan yang terpendam. Sesak dan ganjalan di hati terasa lebih lapang setelah diluapkan dalam tangisan. Santri juga manusia, ‘kan? Maka bukan sesuatu yang hina ketika dia meluapkan perasaannya lewat tangisan.
Sebagai pengurus senior yang sering mendampingi santri baru, saya dapat menyimpulkan bahwa santri yang bisa menangis manakala sedang ingat orangtua dan segala sesuatu tentang rumahnya maka ia akan lebih cepat berdamai dengan perasaannya. Santri model seperti ini lebih terbuka untuk menerima lingkungan baru di sekitarnya. Rata-rata tangisan mereka ini mulai melandai di bulan kedua, lalu semakin jarang di bulan ketiga, hingga akhirnya tidak lagi terdengar setelah satu semester berlalu.
Tirakat yang kuat
Tirakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menahan hawa nafsu. Ya, bagi calon santri dan walinya tirakat menjadi salah satu hal yang urgent. Semua harus berlatih menahan hawa nafsunya, termasuk nafsu untuk selalu bertemu atau mengunjungi anaknya yang baru dimasukkan pesantren.
Mungkin ada, tetapi hampir seluruh orangtua pasti tidak tega berjauhan dengan buah hatinya. Hari pertama terpisah jarak dengan anaknya pasti dipenuhi berbagai pertanyaan; sedang apa anakku di pesantren? Sudahkah dia beristirahat dengan nyaman? Apakah masih ada sesuatu yang dibutuhkan tertinggal di rumah? Apakah dia aman dan mendapat teman yang baik? Makan jadi tidak enak, tidur pun tidak nyenyak karena rindu mulai menyusup kalbu. Semua hal ini wajar sekali, sungguh.
Namun demikian, sebagaimana sering didawuhkan oleh guru-guru terdahulu alangkah baiknya anak yang baru diantar ke pesantren tidak dijenguk hingga hari ke empat puluh satu. Why? Ada apa dengan empat puluh satu hari? Supaya anak maupun orangtua dapat melakukan tirakat dalam rentan waktu itu, semisal berpuasa, membaca surah Yasin, atau hal baik lainnya. Diharapkan, setelah empat puluh satu hari berlalu hati masing-masing baik santri ataupun walinya sudah sama-sama lembut, jembar, dan ikhlas serta dapat melepaskan hawa nafsu dan ego dalam dirinya.
Barokah air jeding
Ini mitos, katanya ke katanya bahwa meminum air jeding dapat membantu para santri baru cepat kerasan. Saya masih belum menemukan korelasi antara air jeding dan perasaan hati, kecuali bahwa tangisan dan luapan emosi perasaan seseorang dapat dinetralisir dengan meneguk air segar. Ya, bukan hanya di pesantren, di mana pun air dapat membantu menurunkan tingkat emosional seseorang. Akan tetapi, mitos ini sangat mujarab sekali dan sering berhasil. Namanya mitos ‘kan memang di luar nalar. Selama tidak melanggar syariat tidak ada salahnya dicoba.
Nah, selamat untuk kalian para santri baru di mana pun mondok, khususnya adik-adik santri Asrama Putri Miftahul Ulum Bengkak. Semoga lekas kerasan dan tercapai apa yang telah dicita-citakan.