Artikel

Bermukim di Ketenteraman Jiwa

0

Penulis: Ust. Syukriyanto, S.Pd.I*

Tidak semua orang mampu berlama-lama menempati wilayah “sakinah” (ketenteraman) di kedalaman jiwa,apalagi sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu hingga mencapai 40 hari. Siapa saja yang bisa duduk di dalam ketenteraman jiwa selama 40 hari akan muncul pada dirinya keajaiban-keajaiban yang memukau iman.

خُذِي السَّكِيْنَةَ وَمَنْ يَسْكُنُ السَّكِيْنَةَ اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فَظَهَرَتْ اَلْكَرَامَةُ وَالْفَضَاءِلُ عَلَي نَفْسِهٖ

Artinya: Ambillah ketenteraman dan barang siapa yang menetapi ketenteraman selama 40 hari maka nampaklah kemuliaan dan beberapa keutamaan atas dirinya.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar dapat masuk ke wilayah ”al-sakinah” dan tenteram menetap di sana, yaitu (1) mengurangi dan menghilangkan ketertarikan kepada materi yang berlebihan, (2) membasmi dan membuang angan-angan kepalsuan, (3) tidak banyak bicara kecuali ada kepentingan dan dibutuhkan, dan (4) mengikat diri dengan dzikrullah (mengingat Allah Swt.).

Dengan menjalankan beberapa langkah di atas, kita akan merasakan elastisitas dan stabilisasi kehidupan dengan arah yang lebih baik. Secara perlahan namun pasti seiring rahmat Ilahi nuansa hati kita akan berubah menuju perbaikan yang opitimal melewati keserakahan sekaligus menepis keegoisan. Sifat tenggang rasa akan tumbuh subur lagi makmur dan pada akhirnya kita akan memasuki wilayah “muthmainnah” (ketenangan hati) sebagai pintu gerbang utama memperoleh nikmat ”al-sakinah”. Qs. Yunus ayat 67 menegaskan:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِتَسْكُنُوا۟ فِيهِ وَٱلنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Artinya: Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda ( kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.

Malam sebagai naungan keteduhan mendatangkan makna istirahat pada lafadh “liyaskunu” yang memiliki arti asal “ketenteraman”. Nuansa malam berselimut kenyamanan dan ketenangan dan isitrahat yang baik tentu tidak terpisah dari keadaan tersebut. Lafadh tersebutjuga berarti supaya kita bersesuaian dalam lingkaran keadaan dan juga bisa berarti diam dalam kedamaian. Sleanjutnya, potongan ayat “wa al-nahara mubshira” mengandung maksud pemantauan dan pengawasan yang bijak dalam menyikapi segala yang terjadi sekaigus mengontrol hal-hal yang dihadapi. Dalam Qs. Al-Rum ayat 21 disebutkan :

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia telah menciptakan bagi kalian istri-istri dari jenismu sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang; sesungguhnya di dalam hal itu niscaya terdapat tanda-tanda bagi kaum  yang berfikir.

Ada beberapa poin menarik dari ayat tersebut yang bisa kita renungkan lebih lanjut. Pertama, lafadh “khalaqa” dan “ja’ala” memiliki keterkaitan arah tujuan walau berbeda dalam pantauan. Penciptaan telah terjadi dalam qadla’ sedang kejadian berlangsung dalam ranah qadar. Kedua, jiwa yang telah tertanam “al-sakinah” akan menimbulkan kasih dan sayang; kendati pada mulanya berkarakter keras sang pemilik jiwa akan luluh oleh sebab pengaruh dari ketentraman jiwa. Kemudian, ketiga, al-sakinah adalah puncak ketenangan yang bisa dicapai di puncak wilayah nikmat hidup dalam  ruang celupan rahmatullah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِهَذَا اللَّفْظِ.


Artinya: Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah di mana mereka membaca kitabullah (al-Qur’an) dan mengajarkannya di antara mereka kecuali diturunkan pada mereka “al-sakinah” (ketenteraman jiwa); mereka diliputi rahmat dan dikelilingi Malaikat, dan Allah menyebut mereka pada pribadi yang ada di sisi-Nya (HR. Muslim).

Oleh karena itu, hendaklah kita pandai-pandai mencuri kesempatan untuk memperbanyak aktivitas ibadah, baik secara personal kala sendirian maupun dalam halaqah atau saat di tengah keramaian.[]

*Penulis adalah Guru MI Miftahul Ulum dan Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi.

+4

Mimpi Pengganggu Hati

Previous article

RAJA DAN RAMU TOREHKAN PRESTASI DI APGURAINDO

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel