Guru, Masihkah Dihormati?
Oleh: Rudi Hartono, S.Pd.I, M.Pd.
Semua profesi terlahir dari seorang guru. Guru adalah pondasi utama dalam mencetak dan membangun karakter serta kecerdasan generasi millenial. Tugas utama seorang guru ialah mentransfer ilmu. Selain itu, guru juga dituntut untuk membentuk kepribadian yang positif dan menjadi uswah bagi murid untuk terus bersemangat dalam mencari ilmu.
Sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), “Guru adalah orangtua kedua. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mendidik jiwa. Kehormatan guru adalah cerminan dari akhlak anak didik dan orangtua.” Ungkapan ini tentunya mengingatkan kita bahwa menghormati guru bukan sekadar etika, tetapi bagian dari membangun masyarakat yang beradab.
Guru terdahulu diibaratkan cahaya dalam kegelapan. Mereka didengar ucapannya, disegani, dan dijadikan panutan. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi tempat bertanya soal kehidupan, moral, dan budi pekerti. Bahkan kalau di desa, guru sering diminta memberi nasihat dan saran karena dianggap memiliki nilai luhur yang dapat mengajak masyarakat menuju jalan yang diridloi Allah Swt.
Berbanding terbalik dengan saat ini. Jika dulu guru dipandang sebagai sosok yang sangat disegani dan dihormati. Kini sebagian besar wali murid menganggap dan memperlakukan seorang guru layaknya pelayan pendidikan. Bahkan banyak dari mereka yang mengkritik guru secara terbuka dan tak beretika, mencibir guru melalui media sosial, hingga membuat peran guru semakin di pandang sebelah mata oleh masyarakat. Tidak jarang juga sudah banyak kasus guru yang dilaporkan atas tindak pidana.
Faktor pemicunya ialah keterbatasan komunikasi antara guru dan wali murid yang menjadi penyebab keruhnya situasi, luasnya akses informasi sehingga membuat sebagian orangtua merasa lebih tahu dan lebih memahami daripada guru. Mereka menjadikan media sosial sebagai tempat mengkritik guru tanpa konfirmasi.
Seorang guru yang tulus dan berdedikasi akan menyayangi anak didiknya sebagaimana mereka menyayangi anak mereka sendiri, mengajar dengan sepenuh hati, menghargai setiap keluh kesah dan karya anak-anak, setra kehadirannya akan selalu dinantikan oleh anak didiknya. Di tengah pengabdiannya, wali murid kerap memberikan kritik pedas terhadap guru. Kritik disampaikan tanpa mempertimbangkan tantangan yang dihadapi oleh guru, baik secara langsung maupun melalui media sosial, sehingga menimbulkan luka batin, stres, dan kekecewaan yang mendalam.
Dalam membangun karakter dan masa depan anak-anak, guru dan wali murid adalah dua pihak yang harus saling melengkapi satu sama lain. Oleh karenanya, sangat penting bagi wali murid untuk membuka komunikasi yang bijak, dilandasi rasa hormat, pengertian, adab, dan niat yang baik.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pernah menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menghormati guru: “Janganlah engkau meremehkan seorang guru, sebab melalui lisannya Allah membuka jalan ilmu yang menyinari hatimu.”
Guru adalah perantara datangnya ilmu dan hikmah yang diberikan oleh Allah. Maka menghormati guru berarti sama halnya menjaga keberkahan ilmu yang didapatkan.