Features

Kantor RAJA 46: Setelah Tiga Bulanan Bertahan dalam Keterbatasan

0

Penulis: Ust. Rudi Hantono, S.Pd.I

Debu menempel di dinding jendela berkawat tua, tampak seseorang mengibaskan kemucing di dalam ruangan yang beratap genting rapuh. Lantunan ayat-ayat suci al-Qur-an mengiringi langkah seorang anak menuju ruangan tempat mereka belajar.

Kicauan burung di depan sebuah rumah bertingkat dengan desain minimalis, setiap pagi, selalu mengiringi langkah kecil ustad-ustadzah menuju asta pendiri Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU), almaghfurlah KH. Achmad Djazari. MQ dan Nyai. Hj. Siti Romlah. Hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang dan lantunan ayat suci al-Qur-an serta pancaran sinar mentari di pagi hari yang cerah semakin menunjukkan suasana syahdu dan menenteramkan di Raudlatul Athfal Khadijah 46 (RAJA 46).

Di tengah riuh ramai anak-anak bercengkarama dan bermain, terlihat seorang ustadzah dengan sebuah sapu dan cikrak yang dipegangnya. Ia sibuk menyapu untuk membersihkan sampah yang berserakan di halaman sekolah dan kantor. Nampak wajahnya yang sumringah menatap seorang anak kecil yang sedari tadi bermain-main di hadapannya. Kesumringahannya menyempurnakan raut wajah gembira asatidz lain yang terpancar walaupun sehari-hari mereka hanya bernaungkan sebuah kantor beratapkan asbes bocor dan jendela berkawat tua nan berkarat. Tampak sebagian dari mereka berdiri dengan seragam rapi yang membalut tubuh di depan gerbang sekolah dengan senyum indah di wajah, menyambut anak didik yang berdatangan sambil bersalaman.

Ustad-ustadzah yang mengabdi bertahun-tahun di YPP MU itu tak sedikit pun membersit di raut wajah mereka kesedihan dan muka kusam. Pengalaman hidup mendidik anak-anak dengan segala suka-dukanya telah kian mematangkan mereka. “Tangisan, rengekan manja dari anak-anak bukanlah sebuah masalah bagi kami. Bagi kami, itu semua menjadi suatu nyanyian yang selalu dirindukan, bahkan sebagai pondasi awal ladang pahala dan barokah,” ungkap Ustd. Rika Febriyanti, S.Pd.I, salah satu ustadzah RAJA 46. Apalagi hanya menghadapi keterbatasan fasilitas berupa kantor yang tak cukup layak huni, tentulah bukan masalah berarti yang bisa mempengaruhi spirit berkhidmah mereka.

Ustadzah Rika memang mengakui bahwa para asatidz dan staf RAJA 46 tengah mengalami sejumlah kesulitan terkait keterbatasan kondisi kantor yang kurang kondisif tersebut. Kurang nyaman dan layak untuk tempat bermusyawarah, menyimpan dokumen penting, dan melindungi alat-alat pembelajaran yang lain. “Selama tiga bulan ini, kita memang kesulitan untuk mendapatkan kantor yang layak dan bersih dari debu, terhindar dari kebocoran akibat hujan, dan terlindung dari terpaan angin yang menerjang. Kondisi kantor darurat ini telah menyulitkan kami dalam mencegah debu yang setiap hari rutin menempel di meja, laptop, buku, dan lain-lain,” sambungnya seraya tersenyum kecut.

Ungkapan senada juga diungkapkan oleh Wakil Kepala Bagian Kurikulum Ustd. Kholifatur Rosyidah, S.Pd.I. Ia menyatakan kekhawatirannya, terutama ketika hujan turun. Menurutnya, atap yang bocor dan jendela berkawat yang hanya tertutup kain itu tentu akan tembus apabila terkena air. “Buku pedoman pembelajaran, RPPH, dan arsip lainnya tentunya juga akan basah dan rusak jika terkena air hujan,” tambahnya.

Kerisauan serupa juga diungkapkan Ustd. Siti Nurfiyah, S.Pd.I yang juga Wakil Kepala Bidang Kesiswaan RAJA 46, terutama ketika di siang yang terik dan panas mengepung kantor. “Memang di kantor RAJA 46 susah untuk dapat kenyamanan. Ketika kami bermusyawarah untuk menyiapkan pembelajaran esok hari, misalnya, kami selalu merasa gerah kepanasan, juga debu dan angin selalu mengganggu aktivitas kami di kantor,” ucapnya dengan mimik muka tetap ceria bersemangat.

“Namun, dengan keadaan seperti ini, kami selaku Kepala merasa bangga dan haru terhadap semangat guru-guru RAJA 46. Keluh-kesah mereka tak tertampakkan di raut wajah mereka yang penuh pengabdian, yang tulus, meskipun kami hanya berteduh di kantor yang tak layak ini,” sambung kak Ros, sapaan akrab Ustd. Rosyidah, S.Pd.I, Kepala RAJA 46.

Alhamdulillah, tak lama menunggu, kabar baik dan membanggakan kini menghampiri asatidz RAJA 46 dan seketika kian membuncahkan semangat mereka. Setelah tiga bulanan bertahan di tengah keterbatasan, kini mulai minggu ini, dengan difasilitasi oleh YPP MU, RAJA 46 sedang memulai ikhtiar membangun kantor baru. Bertempat di lantai dua gedung RAJA 46, sebuah kantor baru sedang dibangun megah guna memenuhi kerinduan para asatidz akan kantor yang nyaman, layak, dan kondusif bagi jalannya seluruh proses kependidikan di lingkungan RAJA 46.

Semoga harapan dan kerinduan tersebut bisa segera terealisasikan. Keberadaan kantor yang layak dan bebas dari debu, kerasnya terpaan angin, dan kebocoran ini sungguh bukan keinginan semata, tapi lebih merupakan kebutuhan niscaya. Keberadaannya penting bukan hanya agar aktivitas pembelajaran dan kependidikan di RAJA 46 tidak terganggu, tetapi juga penting untuk melindungi buku-buku dan dokumen penting lainnya. Oleh karena itu, dukungan semua pihak, para stake holders, sangatlah penting bagi penyegeraan realisasi harapan tersebut. Semoga Allah swt memudahkan dan memberkahi ikhtiar ini. Amin.

IMDA I, BANIN RUNTUHKAN DOMINASI BANAT

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Features