Pulanglah, Wahai Santri
3 mins read

Pulanglah, Wahai Santri

14

Penulis: Rudi Hartono, M.Pd.

Rindu yang tak pernah usai dan kenangan indah yang terukir abadi, Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi kembali memanggil anak-anaknya untuk kembali pulang ke pangkuan. Bukan sekadar meluapkan kerinduan, bukan pula hanya bernostalgia. Ini adalah panggilan ruhani, sebuah undangan nyata untuk menyambung silaturahmi, memperkokoh kembali ikatan batin, dan menyemai doa dalam haul sang guru tercinta, Almarhumain KH. Ach. Djazari Marzuqi dan Nyai Hj. Siti Romlah.

Harus tertanam dalam hati satu pertanyaan pemecut gejolak. Kapan terakhir menapakkan kaki di tanah penuh berkah itu? Kapan terakhir menangis di depan nisan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian itu?

Bumi yang penuh dengan harapan para penghuninya, di mana suara ngaji dan dzikir menggema dari spiker Masjid Nurul Ulum, kenangan makan bersama, senda gurau yang menyatu dengan tawa para santri, malam-malam panjang yang diisi dengan belajar dan hafalan, serta tempat menempa diri dengan sebuah harapan indah dan cita-cita.

Miftahul Ulum bukan sekadar lembaga pendidikan tempat kita nyantri, melainkan rumah yang telah membentuk karakter kita, memperkaya batin, dan mengajarkan nilai kehidupan yang hakiki. Kini, rumah itu kembali memanggil. Bukan karena kesepian, tetapi karena rindu yang mendalam. Rindu pada anak-anaknya yang telah tersebar di berbagai sudut negeri, membawa ilmu dan akhlak yang diajarkan kiai sebagai warisan.

Kiai Djazari (Mbah Kae) dan Nyai Hj. Siti Romlah (Mbah Nyai) adalah orangtua ruhani bagi seluruh santri. Mbah kae dikenal sebagai sosok yang sabar, doanya tak pernah putus untuk para santri, dan ilmunya terus mengalir hingga saat ini. Mbah nyai sosok yang tegas, disiplin, tangguh, istiqomah, dan memiliki semangat juang yang luar biasa. Meski beliau berdua memiliki karakter yang berbeda, tetapi beliau berdua merupakan sosok yang sama-sama sangat menyayangi santri-santrinya.

Haul beliau bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk mengirimkan hadiah terbaik dengan doa dan kehadiran. Masihkah kita mau berpaling dari panggilan beliau?

Datang di acara haul adalah bentuk birrul walidain, bentuk bakti kepada orang tua ruhani. Langkah lelah menuju pesantren adalah saksi cinta kita kepada beliau. Yakinlah, keberkahan akan menyertai siapa pun yang hadir. Reuni tak hanya tentang bertemu teman lama. Ini tentang menghidupkan kembali semangat pengabdian, tentang menyambung sanad keilmuan, dan tentang meneguhkan kembali komitmen kita sebagai alumni Miftahul Ulum.

Jadikan ajang haul dan reuni ini sebagai titik balik. Titik di mana kita kembali mengingat siapa kita dan dari mana kita berasal. Mari pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara ruhani. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita isi kembali suasana pesantren dengan tawa dan kebahagiaan. Mari kita hidupkan kembali semangat Miftahul Ulum dalam diri kita. Mari kita doakan guru kita, dan mari kita buktikan bahwa cinta dari para alumni tidak pernah pudar. Miftahul Ulum menanti. Kiai dan Nyai menanti. Keberkahan pun menanti. Semoga kita berhak mengaku dan diaku sebagai santri beliau berdua. Aamiin (MIFUL/RHr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *