STUDI TIRU
Penulis: Ning Evi Ghozaly
Sejak mendapat amanah menjadi guru sekian tahun lalu, saya rutin membuat jadwal belajar mandiri pada beberapa guru dan berbagai lembaga pendidikan. Dimulai dari saat mengajar praktik tahun 1991 di MIN Malang I, lalu di MTsN I tahun 1995, selalu saya sempatkan sowan beliau-beliau atau ke madrasah mana, sekolah mana dan pesantren mana.
Apalagi pas di akhir bangku PGAN Malang, kebutuhan sinau tentang strategi pembelajaran hingga manajemen lembaga pendidikan makin meningkat karena mulai beneran ngajar formal. Jadi setelah jam sekolah, diniyah atau tugas organisasi selesai, saya silaturrahim munyer begitu. Alhamdulillah sangat bermanfaat. Selalu dapat banyaaak ilmu, meski untuk bisa menerapkannya saya cuma grotal-gratul nyicil.
Setelah di Lampung, jadwal belajar ini lanjut dengan memanfaatkan kesempatan saat tugas keluar atau pas sambang anak-anak. Kunjungan resmi atau tidak resmi. Yang tidak resmi, biasanya saya sendirian atau ditemani keluarga. Kalau resmi, biasanya rombongan dengan mengajak maksimal 6 adik-adik ples romli 4 orang ![]()
Tahun lalu kami ke Bandung. Sowan sekolah Al Irsyad, Mutiara Bunda, Ar Rafie dan madrasah ples pesantren Darut Tauhid. Alhamdulillah dapat kesempatan bertemu dan ngaji pada Aa Gym langsung. Tahun sebelumnya kami ke sekolah kompleks jalan Bandung Tujuh Malang, Trensains Tebu Ireng, Gontor Ponorogo dan Pesantren di Magetan. Hasil kunjungan sudah saya tulis semua ya, Gaes. Pokok semua kereeen dan beberapa poin alhamdulillah bisa kami terapkan.
::
Nah tahun ini kami ke Jogja. Saya selalu mengingatkan adik-adik untuk ‘mengosongkan’ diri ketika sowan-sowan. Bismillah niat silaturrahim dan thalabul ilmi. Niat ingsun nyari saudara dan mengaji. Belajar. Sekolah. Sekaligus kulakan ilmu dan menyimak semua, lalu memilih mana yang bisa kami terapkan.
Maka kami menggunakan istilah Studi Tiru, bukan studi banding lha apanya yang mau kami bandingkan wong kami berangkat dalam kondisi nol, kosong. Maka semua isi kepala tentang pengelolaan lembaga yang kami ketahui, kami pinggirkan dulu. Agar wadah kami untuk menadah ilmu menjadi lebih luas dan lapang. Bismillah.
Empat lembaga pendidikan, tiga sekolah kompleks yang memiliki unit sampai level menengah atas berasrama dan satu sekolah dasar. Semuanya membuat kami tercengang saking kerennya, terkagum-kagum dan ndomblong tiada tara.
::
Hari pertama. Sekolah Al Azhar Jogja dengan 19 unit lembaga termasuk yang pesantren salaf dan yang world class. Memiliki divisi usaha sak ambrah-ambrah dan muwevah. Silakan diliat di gugel ya, Gaes. Terima kasih atas penerimaan yang luar biasa, langsung Bapak Hafidh Asrom yang menjadi wasilah.
Lanjut sowan Sekolah Bumi Cendekia yang dikelola oleh sahabat-sahabat saya. Sekolah baru tapi masya Allah keren. Ramah lingkungan, bangunannya lebih banyak dari kayu dan bambu dengan halaman ditumbuhi pohon jati. Punya 39 jenis ekskul. Penanganan anak spesialnya mantab, bekerja sama dengan psychologi UAD, UGM dan UIN Jogja. Matur nuwun sanget Bunyai Rindang Farihah, Teteh Wiwin Siti Aminah Rohmawati, Tuan guru Hairus Salim.
Trus kami lanjut jalan-jalan ke Pasar Bringharjo yang membuat mata melek sampai malam. Membuat koper kami beranak dua haha. Ditutup dengan nggudeg yang maknyus. Alhamdulillah.
::
Hari kedua. Jadwal pagi kosong karena tidak ada jawaban dari yayasan yang akan kami tuju. Inilah pentingnya punya banyak sahabat ya. Kalau akhirnya nggak ada wasilah gini, ya pasrah haha.
Seorang sahabat dari Jakarta, menyarankan agar saya ke UIN Sunan Kalijaga Jogja. Alhamdulillah kami diterima dengan sangat baik oleh rektor UIN Suka, Prof. Dr. Noorhaidi Hasan. Sowan langsung ke kantornya yang luas dan adem. Alhamdulillah kami dihubungkan dengan lembaga dan orang-orang yang ingin kami sowani. Matur nuwun nggih, Prof.
Lanjut menuju kantor dekan Fakultas Dakwah Prof. Arif Maftuhin dan ketua LP2M Gus Abdul Qoyyum Muhammad. Ditemani Mbak Lailatis Syarifah sahabat di BKS Pusat, dosen UIN Jogja yang sedang mudik dari kuliah di Malaysia. Ohya kampus UIN Jogja tuh luas, Gaes. Gedungnya banyak, tapi sebagian besar terhubung dengan skybridge, jadi nggak capek muter. Eh ada jalan di bawah gedung juga lho, ngerong, menuju kantin yang makanannya enak-enak. Nahkan makanan mulu’ haha.
Alhamdulillah meski singkat tapi bisa diskusi gayeng tentang kerja sama dalam dua bidang. Masih rencana, Gaes. Semoga terlaksana dan bisa melibatkan banyak orang.
Terakhir menuju Fakultas Ushuludin untuk sowan Ust. Fahruddin Faiz, ahli tasawuf Jogja. Materi pengajiannya di yucup dan IG seriiing saya simak nyambi masak atau menjelang tidur, selang seling dengan Gus Baha. Senengnyaaa kami bisa ngaji singkat langsung dan bertanya sembarang kalir.
::
Dhuhur balik ke hotel, ganti seragam langsung cus menuju Madrasah Afkaruna. Lembaga yang didirikan oleh Yai Samsul Ma’arif Mujiharto sembilan tahun lalu ini memiliki TK sampai Aliyah, tentu di bawah naungan Kemenag ya. Berbasis pesantren. Full berbahasa Inggris. Bersih, rapi.
Santrinya dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan ada yang dari Lampung. Saya sempat bertemu dengan putra putri sahabat yang belajar di sini. Termasuk putranya Mbak Olenka Priyadarsani, Bunyai Ala’i Nadjib, dan Gus Ulun Nuha. Alhamdulillah.
Ohya salah satu hasil silaturrahim ke Afkaruna, kami membahas program kerjasama yang semoga bermanfaat untuk para pengelola dan guru di Madrasah. Sementara khusus Madrasah dulu ya, Gaes. Terbataaas dulu. Semoga Allah ridla, bismillah.
::
Hari ketiga. Sekolah Muhammadiyah Sapen. Alhamdulillah juga diterima dengan sangat baik. Saat ini, SD aja ada 2900 murid dan hingga tahun 2030 sudah full calon pendaftar yang inden. Kegiatannya beragam, termasuk kegiatan guru dan karyawannya.
Satu hal yang cukup mengagetkan, sekolah ini (dulu) pertama belajar kurikulum, pengelolaan dan lainnya tibaknyah di MIN Malang I dan MTsN Malang I: sekolah saya, Gaes. Alhamdulillah. Begitulah lembaga pendidikan. Kadang berputar kayak biji tasbih. Maka kita tidak boleh berhenti belajar ya. Laa quwwata illa billah.
::
Terakhir, kesimpulan saya tentang lembaga pendidikan di Jogja yang kami kunjungi 2025 ini sama:
1. Konsepnya kuat. Bisa diterapkan semua warga sekolah masing-masing, tapi selalu memiliki sisi yang unik.
2. Mengikuti perkembangan jaman dan menjawab kebutuhan masyarakat
3. Tidak berhenti belajar. Terbuka pada hal baru.
4. Tawadlu, rendah hati. Bahkan ketika menyampaikan prestasi tingkat tinggi pun, ya biasa saja.
5. Berwawasan global tapi mempertahankan kearifan lokal. Fasih bicara tentang negara luar tapi masih ngaji ndampar, masih rutin menjalankan kegiatan sowan dan stay di pesantren sepuh.
6. Kolaboratif. Bekerja sama dengan banyak pihak. Bahkan selalu ringan membantu, termasuk membantu lembaga lain yang membutuhkan. Jadi masing-masing memiliki semacam sekolah binaan, yang kalau sudah maju dilepas, ganti membina sekolah lain.
6. Masing-masing memiliki SOP penerimaan tamu yang woke banget, joss markojos. Sampai kami jadi salting banget, merasa sangat dimuliakan sekaligus merasa ngrepotiii.
7. Pengelolanya saya kenal dan mengenal saya lantaran fesbuk haha. Saya sampai malu kisinan. Rata-rata sudah membaca status ecek-ecek saya. Putranya sedang nanam jagung ya, Ning? Kok nggak ada tanda-tanda mau ke Jogja? Ohya Ning Evi biasanya nulis kegiatan kalau sudah lewat ya. Jian ampun ![]()
::
Sekian dulu, sudah kepanjangan. Insya Allah masing-masing lembaga yang kami kunjungi akan saya tulis di web bukan di efbi, mohon ijin pada semua pengelolanya ya. Dengan data dan fakta, versi saya, dari semua sudut yang saya kagumi. Tentu sebelumnya saya minta dikoreksi yang mbahu rekso dulu nggih.
Pokoknya matur nuwun sanget. Mohon maaf jika ada dari kami yang membuat kurang berkenan. Rasanya sangat kurang, jadi insya Allah kami akan kembali datang.
Salam tadzim,
Jogja, 12-16 Mei 2025