Tes Diagnostik di SD, untuk apa sih?
Oleh: Evi Ghozaly
Hari-hari ini, semua sekolah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk tahun pelajaran baru 2026 ya. Perangkat kurikulum, manajemen kelas, sampai sebaran jam mengajar.
Ini juga yang dilakukan di beberapa sekolah kami. Termasuk, membagi HRT dan menempatkan murid pada kelas yang tepat.
Hasil observasi untuk calon murid 2026 pada tahun lalu memang bisa jadi modal pengetahuan awal kami dalam mengenal kondisi anak-anak calon murid kelas 1 SD ini.
Tapi tentu, ada hal lain yang perlu kami fahami dan kami lakukan:
1. Kemampuan dasar literasi dan numerasi.
Karena tidak semua anak pernah belajar di TK. Ada anak yang tidak mengenal abjad dan angka, apalagi huruf hijaiyah.
Sementara di semua SD kami, ada pelajaran Bahasa Arab dan tahsin tahfidz.
2. Memetakan kemampuan membaca menulis dan mengukur kesiapan berhitung.
Tidak semua TK mengajarkan baca tulis dan berhitung. Maka dari laporan kemarin, banyak anak yang hanya tahu satu dua huruf saja. Ada yang tahu huruf, tapi kalau sudah dirangkai jadi satu kata, bingung. Ah ini mah insya Allah tidak apa-apa.
Ada yang kenal angka 1 sampai 10, begitu menulis angka 2, 4 atau 5 terbalik hadapnya. Kewalik. Ini juga tidak apa-apa banget.
Tumbuh kembang masing-masing anak kan beda ya. Maka kami harus tahu kondisinya, agar pas dalam menentukan treatmentnya.
3. Mencegah ketertinggalan belajar sekaligus menemukan murid yang belum siap mengikuti kurikulum kelas 1 agar bisa diberikan intervensi dini.
Ssst, kurikulum nasional kita sudah bagus lho. Lengkap. Memang anak-anak nggak boleh tinggal kelas, harus tuntas belajar.
Tapi ya tidak boleh dibiarkan begitu saja ya, hingga pada jenjang berikutnya kerepotan ngikuti pelajaran karena konsep dan materi pada level sebelumnya belum dikuasai.
Ingat video anak SMP tidak bisa menjawab pertanyaan perkalian dasar yang harusnya dikuasai sejak SD kan?
Nah itu. Jadi harus ada pemetaan, analisis mendalam lalu ada pendampingan. Harusnya ya.
4. Memetakan gaya belajar anak.
Tentu, agar guru bisa menyesuaikan dengan gaya mengajar. Ada anak yang lebih mudah menyerap materi lewat gambar, mendengar atau praktik bergerak.
Pemahaman gaya belajar murid yang visual, auditori atau kinestetik ini juga akan memudahkan guru dalam memilih pendekatan, metode atau model pembelajaran yang pas.
5. Mendeteksi kesiapan emosi dan sosial.
Saya mendengar langsung penjelasan guru yang bertugas mengobservasi dan memberikan penilaian tes diagnostik kemarin.
“Ananda B sudah menguasai kemampuan dasar X, ketrampilan dalam bidang Y sangat bagus. Tapi belum optimal dalam kerja sama, kurang sabar, masih terlontar kata kasar bahkan makian sampai 3x dalam 5 menit. Dan terakhir sempat memukul temannya.”
“Menurut penjelasan orang tuanya begini. Hasil rekomendasi dari dokter tumbuh kembang begitu. Jadi sebaiknya, ananda kita tempatkan pada kelas X karena ada dua teman TK nya di sana. Agar merasa nyaman. Untuk komunikasi guru sebaiknya menggunakan pendekatan seperti ini.”
Ohya selama proses ini, hindari anak mendengar kata tes atau ujian ya. Biar mereka seperti bermain aja.
::
Selanjutnya?
Selain kami punya bahan untuk menentukan strategi pembelajaran, jadi lebih gampang dalam manajemen kelas. Lebih efektif.
Iya, deteksi keseimbangan motorik dan sensorik kan sangat berguna untuk bahan penataan denah duduk. Siapa duduk di depan, lalu pekan depan di rolling bagaimana dengan susunan bangku diubah seperti apa.
Manajemen perilaku, penyebaran karakter dan data kemampuan regulasi diri yang kami dapat dari hasil observasi dan tes ini juga akan menjadi modal kami untuk rekam jejak awal.
Diskusi dengan orang tua bisa lebih enak, jadi ajakan kerja sama bisa lebih fokus pada poin apa.
Dengan demikian, perkembangan anak pada 3 bulan pertama bisa dilaporkan dengan data valid.
Pas momen ini tuh, seneeeeng banget. Tiga bulan yang blink-blink. Apa sih yang lebih membahagiakan guru selain bisa mengikuti langsung proses tumbuh kembang murid dan menyaksikan hasilnya yang masya Allah.
::
Tentu saja kami tidak bisa sendirian ya. Harus ada kerja sama dengan orang tua murid, pihak terkait seperti psycholog dan dokter: untuk anak spesial. Pasti, dengan pertolongan Allah. Bismillah. Laa quwwata illa billah.
Jadi begitulah. Tulisan panjang ini dibuat dalam rangka berdamai dengan jadwal pesawat yang delay sampai tiga jam. Juga, untuk ngisi rubrik rutin Risalah Cinta EG. Selamat mendidik dengan cinta untuk semua guru, terutama guru kelas 1 SD yang kereeen, di mana pun berada. Matur nuwun semua.
– Soetta, 18 Juni 2026.
Masing-masing guru kelas 1 menyampaikan laporan hasil observasi dan tes diagnostiknya.