Senandung

BELAJAR MEMAHAMI

0

Penulis: Ibnu Sulaim

Dalam beragama
Akidah yang dijaga
Mengemban dengan sabar memapaki jalan
Usah risau dalam perjalanan

Itulah arti dalam kehidupan
Mengikat tali persaudaraan
Satu kebanggaan
Satu kemerdekaan
Usah melirik arti perbedaan

Itulah kenapa adanya perbedaan di dunia harus ada. Karena yang dibutuhkan adalah kerukunan, dan itu pun ternilai bukan karena persamaan, melainkan adanya kerukunan yang disatukan dalam bentuk perbedaan. Bukan malah saling membenci adanya perbedaan, tapi saling memahami arti dan pemahaman yang memang tak sejalan.
Dalam beragama itu sama halnya dengan kita memakai pakaian. Cocok, ya, kita pakai. Cocok harga, ya, kita beli. Tidak cocok ya, jangan dibenci, apalagi sampai mencaci-maki. Itulah arti dalam hidup yang beragama dalam jati diri. Begitupun dalam memilih jalan dalam suatu pendapat, harus sesuai dengan keinginan tanpa adanya unsur kebencian. Seperti saat kita memilih pendapat dalam agama ketika adanya problem yang menyangkut suatu perbedaan.

Satunya berargumen, tidak boleh. Yang satu lagi, boleh. Satunya lagi, boleh asal bla, bla, bla ….
Ya, sebenarnya sih, semua pendapat memang berbeda, tapi pada dasarnya tertuju pada tujuan yang sama. Cuma beda jalan saja.
Seperti yang terdapat pada salah satu hadis, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: ditanyakan kepada Rasulullah SAW: “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? maka beliau bersabda: ‘Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)’,” (HR Bukhari).

Nah, apakah yang tidak ber-Hanafiyyah termasuk agama yang salah? Apakah tidak setoleran golongan Hanafiyyah? Tentu tidak! Semua itu tergantung dari sikap yang memeluknya. Kapan kita bersikap ‘A’ kapan kita harus bersikap ‘B.’ Tergantung di mana kaki kita berpijak, di situlah cara kita menunjukkan sikap. Tidak semua orang tahu kalau kita memang tahu akan sesuatu, dan tidak semua orang perlu tahu akan sikap kita yang sudah dibilang berilmu. Percuma kalau tanpa adanya realita.

Contohnya seperti ini: Di satu tempat, kita memang dimuliakan dan dijadikan panutan. Belum tentu di tempat lain, mendapat tanggapan yang sama. Begitu pun sebaliknya.

Lalu, bagaimana etika kita ketika beragama dengan sesama? Ya, intinya dalam hidup itu jangan terlalu berkoar-koar menunjukan suatu bidang yang kita kuasai. Pun jangan terlalu ciut saat dihadapkan dengan sesuatu baru yang menurut kita tidak mampu. Lakukan saja! Perlahan juga akan memahami dan bisa menguasai. Itu pun pasti.

Obituari Ust. Syujak: Suka Lucu tapi Bukan Komedian

Previous article

Pelantikan Pengurus Asrama Putri 1444-1445 H, Gus Kholil: Pengurus Harus Memiliki Semangat Mengabdi

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Senandung