Mengabdi dan Mengaji
Oleh: Ustd. Nur Hidayati, S.Pd
Hari ini teman-teman santri kembali mengikat janji. Janji untuk memasrahkan diri guna mengabdi dan mengaji. Ya, hari ini ketua kamar dan pengurus asrama putra maupun putri Miftahul Ulum (MU) Bengkak sudah tiba di pondok tercinta, sehari lebih awal dari jadwal kedatangan santri pada umumnya.
Panggilan pengabdian menuntut mereka untuk lebih menyiapkan mental pasca liburan. Liburan kali ini lumayan panjang, sekitar sebulan penuh para santri kembali ke lingkungan rumahnya masing-masing yang beragam coraknya.
Kegigihan para pengurus mulai teruji sejak surat edaran mekanisme kedatangan santri disebar. Pasalnya, pihak pesantren mewajibkan santri menunjukkan surat hasil rapid negatif Covid-19. Hal ini dimaksudkan sebagai langkah preventif terhadap penyebaran virus mematikan tersebut.Akan tetapi, ternyata ada miscommunication dengan pihak Puskesmas setempat yang secara tiba-tiba memberikan syarat agar wali santri lebih dulu divaksin baru kemudian test swab antingen anak diproses.
Hal tersebut sebenarnya bukan perkara yang teramat fatal jika masing-masing individu mau menyederhanakannya. Boleh saja walinya dengan sukarela mensukseskan program vaksin, toh di luar sana masih banyak penduduk yang berburu vaksin bahkan rela membayar dengan sekian jumlahnya. Lah ini malah dapat gratis. Demikian pula, jika diantara wali santri tersebut ada yang tidak berkenan divaksin boleh saja mengajak anak untuk melakukan rapid test di tempat lain yang juga menyediakan jasa.
Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Beberapa wali santri justru menuding ini kesalahan pesantren dan puskesmas. Mereka menuntut pertanggungjawaban terhadap efek demam yang seyogyanya menjadi gejala wajar pasca melakukan vaksin. Bahkan ujaran kalimat kurang baik mulai terlontar. Sangat miris sekali.
Dalam keadaan seperti ini, mari kita renungkan kembali dawuh-dawuh pengasuh dan ulama-ulama terdahulu. Perbanyak instrospeksi diri sebelum berangkat ke pondok lagi.
Untuk kalian wahai teman-teman santri, ayo tata niat semurni mungkin. Kalian tentu lebih paham apa yang sebenarnya terjadi dan sedang kita hadapi, di tengah kekalutan masa pandemi kepada siapa lagi dan dimana lagi tempat bersembunyi dan menyelamatkan diri. Saatnya kita kembali dan memasrahkan diri pada ilahi dengan mengikuti petuah atau petunjuk para murobbi.
Teruntuk kalian para wali santri yang dihormati, mohon sayangi anak-anak dengan cara dan akhlak yang terpuji. Kalianlah sebaik-baiknya teladan bagi para santri. Jika kalian belum pasrah sepenuhnya terhadap kebijakan-kebijakan yang ditetapkan kiai. Lantas, dari manakah santri akan mendapat kepercayaan diri untuk kembali semangat mengabdi dan mengaji.
Stop cara curang dalam berpendapat, bismillah siap berangkat.
*) Penulis adalah Alumni YPP Miftahul Ulum Tahun 2021