Features

MOMOK MENAKUTKAN, AKANKAH MENJADI AKHIR PENGABDIAN?

0

Penulis: Kholifatur Rosyidah, S.Pd.

Pernahkah kalian para santri mendengar sebuah pertayanyaan? Biasanya lebih sering diperuntukkan bagi santri yang masih mukim di pesantren setelah lulus Pendidikan Madrasah Aliyah (MA) atau sederajatnya. Jika disimpulkan begini kira-kira “Lama di pesantren, ngapain aja?” Ya, pertanyaan itu yang sering membuat santri lawas tidak ingin berlama-lama di pesantren. Hal tersebut juga sedang dialami penulis saat ini. Terkadang semua ini membuat saya mengernyitkan dahi dan berfikir, apakah nyantri tidak boleh terlalu lama? Apakah tidak pernah terfikir bahwa nyantri itu menyenangkan, seru, banyak pengalaman meski terkadang penuh sesak dengan berbagai macam tantangan?

Sejak awal nyantri di Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) kami menata niat serapi mungkin. Kami niatkan untuk benar-benar menuntut ilmu, membahagiakan kedua orangtua, mengharap barokah dari sang murobbi dan ridho Ilahi serta menjadi santri yang ‘alim ‘allamah. Oleh karena itu, dirasa penting oleh penulis selalu berupaya agar semua itu tercapai tanpa mengenal batasan waktu.   

Salah satu proses yang kami tempuh untuk mendapat ridho dan barokah ialah berkhidmah kepada guru, yang selalu dilakoni meskipun terkadang hati terasa lelah. Akhirnya, rutinitas tersebut menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis. Kami bersyukur karena bisa dekat dan sowan kepada para kiai, para masyayikh, khususnya majelis keluarga YPP MU. Hal itulah yang membuat hati berbunga-bunga sehingga tidak ingin berpisah dari pesantren tercinta.

Sedikit bercerita, setelah dianggap mumpuni, kami berkhidmah sebagai pengurus asrama. Tidak lama selang lulus pendidikan MA, saya juga berkhidmah di lembaga formal dan in-formal. Mengabdi menjadi pengurus adalah prioritas utama khidmah kami di pesantren. Banyak sekali pengalaman, pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik di antaramya belajar menjadi orangtua, mengasah diri menjadi pribadi yang lebih dewasa, dan melatih hati untuk selalu sabar dan tabah dalam mengayomi santri serta wali santri yang berbeda-beda karakternya. Jadi, di pesantren itu banyak sekali rutinitasnya.

Perasaan jengkel, marah, emosi, terkadang bercampur aduk menjadi satu. Namun, berkat dukungan orang-orang terdekat, kedua orangtua, teman-teman sepengurusan, senasib dan seperjuangan, khususnya majelis keluarga YPP MU perlahan perasaan itu mulai hilang, tenggelam dalam gurauan. Setiap bersedih kami selalu mengingat dawuh Pengasuh YPP MU, “Mondhuk Ntar Ngaji Ben Ngabdhi, mon ejeleni ikhlas insyaallah barokah (Nyantri itu tujuannya adalah mengaji dan mengabdi, Insyaallah barokah jika dijalani dengan Ikhlas)”. Dawuh tersebut disampaikan oleh Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan ketika mengaji kitab. Dawuh itulah yang menjadi azimat dan penguat untuk mencapai tujuan penulis.

Semakin lama nyantri, semakin banyak pula perhatian. Banyak sekali pertanyaan, saran bahkan sindiran yang tidak bisa kami jawab kecuali dengan senyuman. Kapan kamu nikahnya? Jangan di pesantren terus, sudah tunangan? Dimana calonnya? Dst. Kami hanya berfikir, bukankah jodoh, maut, rezeki itu Allah SWT yang menentukan? Menjadi hamba-Nya, kita hanya bisa berusaha dan berdoa maka jangan pernah kita kaitkan lama nyantri kita dengan hal yang sudah Allah gariskan. Penulis selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik dan berdoa agar Allah sudi menuliskan takdir terbaik dalam hidupnya.

Menjadi santri (mondok) tidak terikat dengan lama dan tidaknya mukim di pesantren? sebab pada prinsipnya, santri itu selamanya santri. Lalu mengapa hal tersebut menjadi masalah? Bukankah mendoakan dan memberi semangat untuk mereka itu lebih baik? Agar mereka manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berkhidmah dengan sungguh-sungguh karena tidak ada yang lebih berarti bagi seorang santri dibandingkan ridho murobbi.

Semoga lelah ini akhirnya menjadi lillah, penulis selalu mengharap bisa memperoleh ridho guru dan orangtua guna meraup keberkahan hidup, menjadi santri yang husnul khatimah dan bermanfaat.  Amiin.

*) Penulis adalah santri aktif YPP MU; sekaligus guru di lembaga Raudlatul Athfal Khadijah 46

Menjadi Kepala Madrasah Sekaligus Pionir

Previous article

JANGAN JADIKAN GURU SEBAGAI PROFESI!

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Features