Pembelajaran dengan Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning untuk Membangun Generasi Emas. Benarkah?
5 mins read

Pembelajaran dengan Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning untuk Membangun Generasi Emas. Benarkah?

10

Oleh: Ust. Suyono, S.E *)

Saat ini dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya melakukan pelatihan atau workshop pembelajaran dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning (DL). Pelatihan ini dimaksudkan agar pendidik mulai menerapkan KBC dan DL ini dalam proses pembelajaran sehingga dilahirkan generasi emas. Dua pendekatan ini digabungkan untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada cinta dan pemahaman yang mendalam. Deep learning sendiri diprakarsai oleh Kementrian Dasar dan Menengah (Kemendasmen), sementara kurikulum berbasis cinta ditetapkan oleh Kementrian Agama (Kemenag).

Kurikulum Berbasis Cinta adalah pendekatan pendidikan yang menekankan nilai kasih sayang, kepedulian, dan kemanusiaan dalam proses belajar mengajar. Intinya, kurikulum ini tidak hanya fokus pada aspek kognitif (pengetahuan), tetapi juga menumbuhkan empati, akhlak, rasa saling menghargai, dan cinta terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, serta Tuhan. Singkatnya, Kurikulum Berbasis Cinta ini mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses membentuk pribadi yang berakhlaq, penuh kasih, berkarakter, dan peduli pada kehidupan di sekitarnya.

Deep Learning sendiri adalah sistem pembelajaran yang digunakan untuk menguatkan pemahaman siswa melalui pendekatan yang lebih dalam. Artinya, Deep Learning merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan berpikir kritis, eksplorasi, dan partisipasi aktif melalui pendekatan dan pemahaman yang dalam.

Contoh aksi dalam pembelajaran:
Tahap I, Pembukaan 10 menit, guru memberikan salam, menyapa siswa dengan senyum, dan sapaan hangat.
Tahap II, Mengkaitkan materi atas dasar nilai cinta karena didalam cinta ada maaf, toleransi, dan solusi.
Sebisa mungkin seorang guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar dan aktivitas pembelajaran lebih menarik

Apakah KBC dan DL termasuk kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka (Kumer)?

Sekali lagi Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kab. Banyuwangi, Drs. Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag, MM menegaskan bahwa keduanya bukan kurikulum baru melainkan sebuah pendekatan alternatif untuk menyempurnakan kurikulum lama. Jadi, kurikulum yang dipakai saat ini tetap menggunakan kurikulum merdeka, tetapi dalam pelaksanaannya dua pendekatan di atas lah yang dipakai dalam proses pembelajaran.

Mengapa memakai KBC dan DL? Kenapa kedua pendekatan ini menjadi penting??

Sampai saat ini pemerintah belum menemukan format yang pas dalam pendidikan, dalam artian pendidikan yang komperhensif, pendidikan yang benar-benar membentuk karakter peserta didik sehingga pemerintah terus berbenah dan terus menggali agar dunia pendidikan di Indonesia benar-benar melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter atau kita sebut saja generasi emas.

Tidak benar jika dikatakan setiap ganti menteri pasti akan ganti kurikulum. Faktanya yang terjadi adalah format kurikulum selama ini terus dikembangkan. Jika memang harus ada yang diperbaiki maka akan segera diluncurkan kurikulum baru. Terkadang yang terjadi adalah kurikulum masih dalam tahap sosialisasi atau belum diaplikasikan secara sempurna, tetapi di sisi lain akselerasi kehidupan sosio kultural masyarakat sangat cepat sehingga diperlukan upgrade secara terus menerus.

Perlu diketahui bahwa antara sistem pendidikan dengan segala dimensinya itu harus kejar dengan sosio kultural masyarakat. Jika kurikulum tidak menyesuaikan dengan perkembangan zaman maka perjalanan pendidikan akan mengalami ketimpangan. Misalnya, pada era digitalisasi saat ini kita masih menggunakan Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) maka pendidikan akan timpang atau bahkan tidak akan berjalan karena sosio kultural masyarakat sudah level 10 sementara kurikulum pendidikan masih dilevel 7.

Tugas guru sebenarnya adalah mendidik bukan mengajar yang mana keduanya merupakan hal yang memiliki perbedaan fokus. Fokus mengajar adalah penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sedangkan mendidik berfokus pada pembentukan kepribadian, karakter, dan nilai moral. Kalau hanya untuk menjadi pintar dan terampil, saat ini sudah banyak media canggih yang lebih pintar dari guru, bahkan dapat menghadirkan tutor atau tutorial yang dibutuhkan. Akan tetapi, dari sekian banyak media yang canggih itu tidak akan dapat menggantikan tugas seorang guru, yaitu mendidik. Untuk menjadikan peserta didik memiliki karakter, berkepribadian baik, dan berakhlak mulia tentu tetap dibutuhkan tuntunan seorang guru.

Melalui kurikulum berbasis cinta dan deep learning ini diharapkan seorang guru mampu membuat peserta didik berpikir dan menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh seorang guru adalah hal yang sangat penting dan itu akan bermanfaat untuk mereka. Kesimpulannya, inti dari pembelajaran berbasis kurikulum cinta dan deep learning ini adalah menumbuhkan kesadaran pada peserta didik bahwa pencapaian terbaik itu bukan hanya sekedar nilai akademik dan keahlian, tetapi lebih dari itu semua adalah menumbuhkan kecerdasan emosional dengan akhlak yg baik, tanggung jawab terhadap diri sendiri, berfikir kritis dengan seribu solusi, dan empati terhadap lingkungan sekitar dengan pemahaman yang mendalam.

*) Penulis adalah pendidik aktif pada lembaga MTs Miftahul Ulum Bengkak, mengajar Mapel IPS. Beliau juga aktif menjadi pengajar di Madin Miftahul Ulum Bengkak B-05 dengan fan I’lal dan sorrof. Penulis juga menjabat Bendahara I YPP Miftahul Ulum Bengkak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *