Perbuatan yang Lebih Berat (Lebih Besar Dosanya) Dibanding Menghancurkan Ka’bah Menurut Ulama Al-Azhar
2 mins read

Perbuatan yang Lebih Berat (Lebih Besar Dosanya) Dibanding Menghancurkan Ka’bah Menurut Ulama Al-Azhar

12

Penulis: Ika Nurjannah, S.Pd.I

Menjaga perasaan hati orang lain adalah hal yang mulia. Hal tersebut juga merupakan anjuran yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau tidak pernah menyakiti bahkan beliau bersabar atas cacian, olokan, dan hinaan. Selain anjuran Nabi, mengolok-olok merupakan larangan Allah SWT, sebagaimana diterangkan didalam kitab Tashir Jalalain hal. 186, surah al-Hujarat, ayat 11.
 (يا أيها الذين آمنوا لا يسخر } الآية نزلت في وفد تميم حين سخروا من فقراء المسلمين كعمار وصهيب والسخرية الإزدراء والإحتقار { قوم } أي رجال منكم { من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم } عند الله

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan suatu kaum), yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah.

Ayat di atas diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina.

Bahkan seorang ulama Al-Azhar mengutuk keras perbuatan melukai hati orang lain dan menganggapnya lebih berat (lebih besar dosanya) menyakiti hati orang mukmin ketimbang menghancurkan ka’bah. Sebagaimana yang dikatakan Syekh Ramadan Abd El Muez,

يقولون كسر خاطر المؤمن أشد من ( هدم الكعبة ) تدرون ليش؟! لان الكعبة بناء بناه سيدنا ابراهيم ، اما القلب فهو عين الله فويل لمن هدمه ، عشان كذا كسر الخاطر أسوأ من (هدم ألف كعبة) دارو القلوب وحِنو عليها وما يفهم معن هالكلام الا الاشخاص الاتقياء الانقياء اللي يخافون الله فيمن احبوا.

Mereka berkata, “Melukai hati seorang mukmin lebih berat (lebih besar dosanya) daripada menghancurkan Ka’bah.” Tahukah kalian kenapa? Karena Ka’bah adalah bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, sedangkan hati adalah tempat perhatian Allah. Maka, celakalah orang yang merusaknya! Oleh karena itu, melukai hati lebih buruk daripada menghancurkan seribu Ka’bah. Jagalah hati-hati itu dan perlakukanlah dengan penuh kasih sayang, karena hanya orang-orang yang bertakwa dan berhati bersih yang memahami makna dari perkataan ini, yakni mereka yang takut kepada Allah terhadap orang yang mereka cintai.

Dalam hadits arbain hadits ke 35 rasulullah bersabada:
بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم .
Artinya: Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim.

Oleh karna itu, belajarlah dari kaca yang pecah, suara jatuhnya memang sudah tidak terdengar, tapi serpihannya bisa melukai siapapun orang yang menyentuhnya. Demikian pula dengan ucapan yang menyakitkan, setelah dikeluarkan ia memang berakhir begitu saja, tetapi rasa sakit itu akan selalu ditahan oleh hati yang mendengar.

*) Penulis adalah guru aktif MTs Miftahul Ulum Bengkak dan saat ini aktif di Miful Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *