Tajin Sora; Bukan Tanpa Alasan, Ini Sanadnya
Oleh: Ning Siti NurAzizah, S.Ag
Tradisi Tajin Sora pada Masyarakat Madura ini ternyata bersanad kepada salah satu nabi terdahulu.
Tradisi Tajin Sora, juga dikenal sebagai Bubur Suro, adalah tradisi masyarakat Madura yang dilakukan setiap Bulan Muharram (Madura; Sora, Jawa; Suro). Penyajian Tajin tersebut sebagai salah satu ungkapan syukur dan doa keselamatan menyambut tahun baru Islam. Bubur ini, yang disebut Tajin Sora, biasanya dibagi-bagikan kepada tetangga, keluarga, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan.
Tajin Sora memiliki makna mendalam dalam perayaan Tahun Baru Islam. Makanan ini melambangkan keberagaman rempah-rempah yang ada di Madura sekaligus simbol harapan agar tahun yang akan datang dipenuhi keberkahan hidup.
Di sisi lain, Tajin Sora ini ternyata memiliki ketersambungan dengan Nabi Nuh a.s. Dikutip dari Ta’liq Kitab I’anatu Tholibin (Juz 2 hal: 302) konon, ketika kapal besar Nabi Nuh a.s. berlabuh di bukit Jūdiy tepat pada tgl 10 Muharram, Ummat Nabi Nuh a.s. yang ada di dalam kapal kehabisan bekal dan mereka mengeluh kelaparan.
Kemudian Nabi Nuh memerintahkan mereka untuk mengumpulkan sisa-sisa biji-bijian yang ada. Sebagian orang membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kacang adas, dan sebagian yang lain membawa segenggam kacang arab hingga terkumpullah 7 jenis biji-bijian. Setelah terkumpul Nabi Nuh meletakkan biji-bijian itu dalam satu wadah lalu memasaknya untuk seluruh umat yang ada di dalam kapal. Mereka semua pun makan hingga merasa kenyang berkat Nabi Nuh as.
Inilah maksud dari Firman Allah :
وَقِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahannya:
“Dan difirmankan: ‘Wahai Nuh! Turunlah (dari bahtera) dengan keselamatan dari Kami dan keberkahan atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan (di dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami’.” (Q.S Hud : 48)
Itulah makanan pertama yang dimasak di muka bumi setelah banjir besar. Maka manusia pun menjadikannya sebagai tradisi pada hari ‘Asyura. Dalam hal itu terdapat pahala yang besar bagi siapa pun yang melakukannya dan memberikan makanan kepada fakir miskin.