Dari Tuhan yang Dipikirkan ke Tuhan yang Dirasakan Menuju Tuhan yang Menginspirasi Pembebasan
Oleh: Nur Hidayati, M.Pd
Judul ini bukan sekadar permainan kata atau keindahan diksi semata. Lebih dalam daripada itu, Abuya Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag telah melakukan kajian mendalam sebelum menyampaikan orasi ilmiah hari ini.
Wakil Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi tersebut memang sejak lama fokus di bidang ilmu filsafat. Hari ini (03 Juli 2025), beliau dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri KH Ahmad Shiddiq (UINKHAS) Jember bidang Ilmu Filsafat Agama.

Di hadapan Senat dan seluruh undangan, beliau mengakui bahwa secara aksiologis bahasan tersebut sama sekali bukan hal baru. Akan tetapi, secara etis beliau menggiring kebaruan yang khas ala dirinya, agama membuat manusia bahagia dan membahagiakan sekitarnya.
Agama yang tidak dapat memberikan rasa bahagia maka pasti ada yang salah. “Bukan rahmat, justru menjadi laknat,” paparnya dengan tegas di atas podium.
Dalam surah as-Saff ayat 3, sangat besar kemurkaan Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Abuya Fawaiz bukanlah golongan munafik, ketika beliau mengatakan bahwa agama (bukan hanya Islam) haruslah membuat kita bahagia dan membahagiakan, beliau sekaligus menjadi contoh nyata yang selalu menebar kebahagiaan di manapun, kapanpun. Bahkan ketika beliau menyampaikan orasi ilmiah, aula Gedung Kuliah Terpadu UINKHAS Jember menjadi penuh tawa dan kejenakaan dalam keseriusan.
Untuk meraih kebahagiaan dalam beragama, Abuya Fawaiz mengulang apa yang pernah ditegaskan oleh Gus Dur, “agama itu inspirasi, bukan aspirasi.” Dengan demikian, agama bukan sebatas pelayan kepentingan.
Profesor pertama di YPP MU Bengkak tersebut menyebutkan bahwa manusia merupakan pusat dalam Relasa Tropatri yang melibatkan manusia-tuhan-alam.
Sebagai nasihat untuk semua penganut agama, Abuya Fawaiz memberikan rambu agar kita membiarkan Tuhan yang terserap dalam diri manusia, bukan manusia yang terserap dalam ketuhanan sehingga menghilangkan sisi kemanusiaannya.