Artikel

Benarkah Matematika Ajarkan Nilai Agama?

0

Oleh: Ust. Ahmad Wahyudi, S.Pd.I

Kebanyakan orang menganggap pelajaran matematika itu sulit untuk dipahami. Satu mata pelajaran ini cukup meresahkan sebagian besar peserta didik bahkan terkadang membuat mereka putus asa.

Tak masalah kurang pandai matematika, esok di akhirat malaikat tidak menyoal penjumlahan dan perkalian, begitu sebuah ungkapan terlontar. Secara sederhana memang benar begitu. Akan tetapi, jika mau merenung dan lebih memahami setiap cabang ilmu maka niscaya akan ditemukan titik temu antara ilmu hitung matematika dan ajaran agama. So, mulai sekarang mari lupakan mindset bahwa matematika sukar sekali. Ubahlah keyakinanmu dan katakan, “matematika itu mudah dan menyenangkan”. Caranya? Pahami tentang seberapa manfaat matematika bagi kehidupan sehari-hari.

Belajar matematika sudah dimulai bahkan sejak sebelum anak mengenyam dunia pendidikan. Biasanya anggota keluarga getol (gigih) mengajarkan anak balita untuk berhitung secara urut sebagaimana mereka mengenalkan urutan huruf-huruf hija’iyah. Pasti anak akan diajari cara menunjukkan angka satu (menggunakan jari telunjuk), kemudian terus berurutan hingga angka 10. Anak akan dikenalkan pada bilangan 7 jika ia sudah paham berapa itu 6.

Selanjutnya, pada usia sekolah anak akan diajarkan kaidah dasar matematika mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, lalu pembagian. Sekali lagi pembelajaran ini diberikan pada anak secara runtut. Tidaklah diajari pembagian sebelum anak paham perkalian. Begitu pula tidak akan membahas perkalian dengan anak yang belum mengerti tahap penjumlahan dan pengurangan.

Secara tidak sadar, cara orangtua dan guru mengenalkan bilangan dan menyampaikan materi secara berurutan telah mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan pada anak. Diharapkan anak mampu memahami kaidah kehidupan sesuai tingkatannya sehingga anak memiliki rasa tanggungjawab pada diri sendiri dan lingkungannya.

Pada suatu waktu tidak menutup kemungkinan bisa saja anak kesulitan menyelesaikan materi yang sedang dipelajari maka orangtua dan guru harus membantunya. Adapun cara membantu anak yang paling baik adalah mengarahkannya untuk terus berusaha dan memberikan arahan agar ia lebih mudah memecahkan masalahnya. Dengan demikian, rasa percaya diri anak akan semakin menguat bersamaan dengan semangatnya yang terus meningkat. Akhirnya, sikap sosial dan kemandirian anak akan terus membaik. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang ulet, percaya diri, giat, sabar, dan pantang menyerah. Semua sikap tersebut merupakan sebagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam agama islam.

Seandainya penanaman nilai-nilai sikap mulia ini dimaksimalkan maka bisa diyakini tidak akan lagi ada kecurangan. Anak akan lebih percaya pada kemampuannya sendiri dibanding harus nyontek. Ia pun pasti enggan melakukan pelanggaran sebab keyakinan pada hal yang benar dan sesuai ajaran agama sudah tertanam kokoh pada kepribadiannya. Demikian itu pentingnya tekun belajar matematika.

Pada dasarnya, matematika sungguh sangat dibutuhkan dalam langkah menyempurnakan agama islam, misalnya untuk menentukan takaran zakat, perhitungan hilal (awal bulan Ramadhan dan Syawal), dan muamalah. Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan kita sehari-hari tak terpisahkan dengan ajaran agama.

Begitulah matematika, sangat menarik dan kaya akan faedah. Belajar matematika sekaligus juga mendalami ilmu agama. Tak ada apapun yang sulit.

*)Penulis adalah guru Matematika di MI Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi.

ANGKA KASIH SAYANG

Previous article

SYAHID LANTARAN RINDU, HAH?!

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel