Artikel

DAHSYATNYA SEBUAH PENGABDIAN

0

Oleh: Nyai Hj. Nur Mahmudah, S.Pd.I *)

Istilah “Pengabdian atau Khidmah” bukanlah hal yang asing di kalangan santri, terlebih yang bermukim di pesantren. Persoalannya, faedah pengabdian masih diragukan oleh sebagian masyarakat dan wali santri bahkan banyak orang yang beranggapan kalau pengabdian itu menurunkan derajat diri seseorang dan merupakan pekerjaan yang hina. Lain halnya bagi seseorang yang tau pentingnya sebuah pengabdian, mereka percaya pengabdian memiliki kekuatan magis. Bagi santri sendiri, pengabdian atau ngabdi itu sebuah “kesenangan” bahkan ada yang menganggap itu sebuah kewajiban.

Sekecil apapun sebuah pengabdian yang kita lakukan dengan kesungguhan hati akan menjadi sebuah balasan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Pengabdian juga menjadi sebuah jalan untuk kita menggapai barokah dari sang guru. Banyak cerita tentang pengabdian seorang santri ketika masih berada di sebuah pesantren, mereka menggapai kesuksesan berkah dari pengabdiannya.

Beberapa cerita kesuksesan seorang santri sebab pengabdiannya, diantaranya: ada seorang santri yang bertugas setiap pagi membuang wadah yang berisi air dan telah bercampur ludah sang kiai (sakit batuk). Awalnya terasa geli karena belum terbiasa, belum lagi kalau air bercampur ludah tersebut terkena injak akan terasa licin di kaki. Selang beberapa waktu, santri tersebut bercerita kepada ayahnya kalau dirinya diberi tugas oleh kiai untuk membersihkan wadah bercampur ludah. Ternyata sang ayah senang dengan kegiatan sang anak. “Naaak kamu beruntung, tidak semua santri mempunyai kesempatan menjadi khadam (pelayan) kiai yang sedang sakit. Menurut ilmu kesehatan penyakit batuk itu mudah menular. Apa kamu batuk? Tidak!!! Bisa kamu buktikan barokah itu lebih besar dari pada ilmu, itu salah satu berkah dari pengabdianmu. Teruslah mengabdi,” cetus ayahnya.

Termasuk lagi, santri yang cerdas biasanya identik dengan sering membaca kitab, buku, dan sering menghafal. Tidak dengan santri yang satu ini, ternyata selain belajar, tiap ada waktu luang di pondok dia ada di dapur umum untuk melayani tamu-tamu gurunya. Lalu, kapan waktunya dia belajar? Ternyata dia belajar di kelas dengan mengingat keterangan guru di kelas dan ketika malam sunyi. Pelajaran hari ini yang dirasa sulit di ulang kembali waktu malam hari, dikala teman-temannya tertidur pulas, sebentar saja. Bangganya, siapa yang mengajari untuk seperti ini?  Ternyata juga dukungan orangtuanya. Si bapak hanya memberi masukan, saat di kelas agar dia belajar sungguh-sungguh sehingga ketika di pondok dia bisa mengabdi dan tidak perlu belajar lagi, mungkin hanya mengulang waktu tengah malam. Akan tetapi, luar biasa ridho seorang guru dan orangtua itu dasyat. Alhamdulillah nilainya bisa rangking pertama atau kedua persemester, kadang dia ikut kelas kilat artinya dalam satu tahun dia bisa melangkahi dua kelas.

Ceritanya lagi, ada santri sebelumnya hanya sebagai tukang masak dan terima tamu para pengasuh, ternyata ketika dia melanjutkan pendidikannya keluar, baik tingkat SLTA atau kuliah seringkali mereka diminta menjadi seksi konsumsi atau terima tamu bahkan sering mereka ada di bagian doa, aktif di pengajaran dan pendidikan.

Ada lagi santri yang mengabdi sebagai tukang belanja bunga untuk di letakkan di atas tempat tidur dhelem (Sebutan untuk rumah para kiai). Setiap sore santri ini berjalan kaki ke pasar hanya untuk membeli bunga mawar, bunga melati, bunga sedap malam, dan bunga kantil kuning kemudian dironce dengan model kesukaan ibu nyai. Begitulah kegiatan rutinnya tiap sore selama dua tahun. Setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren ternyata ilmu itu dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, misalnya untuk merias manten. Alhasil dia menjadi perias yang digandrungi banyak pelanggan karena dulu ibu nyai juga memberi amalan yang ada di dalam Alquran, yaitu beberapa ayat dari surah Yusuf.

Selain itu, mengabdi juga dapat mendekatkan kita dengan guru-guru kita. Melalui wasilah bisa melentikkan dan melebatkan bulu mata, sehingga dekat dan bisa bersilaturrahmi dengan gurunya. Misalnya, putra dan putri gurunya membutuhkan keahliannya ketika dia mondok dulu. Tidak hanya dekat dengan guru, tetapi dia juga menyenangkan hati sang guru.

Masih banyak cerita para santri yang memperoleh buah manis dari pengabdiannya. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik bersama. Jadi, bukan sebuah jaminan orang pandai akan sukses dan mengalir barokahnya. Kadangkala yang biasa saja, tapi banyak mengabdi ialah yang banyak dibutuhkan masyarakat. Mereka menjadi berguna di masyarakat karena sudah terlatih sendiko dawuh (mengikuti kata guru dan siap melaksanakannya).

Masih banyak sekali wasilah dan cara asalkan terpatri di hati kita ikhlas melakukannya maka akan barokah. Banyak jalan mencari barokah, asalkan kita ikhlas maka ketika kita pulang ke masyarakat akan kita rasakan dahsyatnya efek sebuah pengabdian.

*) Penulis adalah ibu pengasuh YPP. Miftahul Ulum

BERDOA TANPA BATAS

Previous article

SANTRI UNGGUL, INDONESIA MAKMUR

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel