Guru: Pelita Ilmu dan Penghormatan Abadi
Penulis: Rudi Hartono, M.Pd.
Bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November, peringatan tersebut sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap jasa guru yang telah ikut andil mencerdaskan anak bangsa. Di balik itu, tersimpan makna spesial bagi umat Islam. Islam sangat memuliakan guru, bahkan menjadikan guru sebagai bagian dari pewaris para nabi.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Aku adalah hamba bagi siapa yang mengajariku satu huruf.”
Ungkapan tersebut bukan sekadar bujukan, tetapi mencerminkan sebuah pengabdian yang luar biasa terhadap guru. Dalam pandangan Sayyidina Ali, bahkan satu huruf yang diajarkan oleh guru sangat layak mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya. Di dalam Islam menghormati guru bukan karena pangkatnya, tapi karena cahaya ilmu yang ia punya.
Guru, terutama mereka yang mengajarkan ilmu agama adalah penerus perjuangan Rasulullah. Mereka tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan jiwa. Dalam konteks ini, guru bukan sekadar pengajar, tetapi murobbi atau pembina jiwa.
Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan bahwa murid atau santri tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat tanpa ketaatan terhadap gurunya. Beliau mengajarkan bahwa keberkahan ilmu tidak semata-mata dari seberapa banyak hafalan atau tulisan, tetapi dari hubungan batin antara murid dan guru yang dibangun dengan ketaatan dan ketulusan.
Di tengah arus globalisasi, guru di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Di berbagai daerah terpencil (pedesaan), tak sedikit guru yang telah lama mengabdi, namun upah yang diterima belum sepadan dengan sumbangsih dan dedikasi mereka. Meskipun demikian, mereka tetap berdiri tegak di depan kelas, menyulut semangat anak-anak desa agar tetap bersemangat dalam menuntut ilmu. Para guru di pesantren terus berjuang dengan gigih membentengi akidah, menanamkan akhlak mulia, dan melestarikan budaya Islam di tengah derasnya arus globalisasi yang melanda.
Di tengah keterbatasan itu, para guru tetap berdiri sebagai penjaga peradaban. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan yang hakiki. Dari para gurulah negeri ini bisa terus berdiri.
Hari Guru bukan hanya hari untuk memberi ucapan dan bunga, tapi momen untuk merenung, sejauh mana kita telah menghargai dedikasi guru? Mari kita jaga adab dan ketaatan kepada guru, mendoakan yang terbaik untuk mereka, dan yang terpenting adalah meneladani perjuangan mereka.
“Barangsiapa memuliakan gurunya, maka Allah akan memuliakan hidupnya.” Selamat Hari Guru Nasional 2025. Semoga Allah senantiasa menjaga, memuliakan, dan meninggikan derajat para guru.