Risalah Cinta Ning Evi Ghozaly

GUS ZAKI HADZIK, GURU TERBAIK ITU TELAH PULANG

0

Penulis: Ning Evi Ghozaly

Ba’da Isya ini saya membuka efbi, dan terkaget membaca lini masa penuh ucapan belasungkawa atas berpulangnya KH. Muhammad Zaki Hadzik. Pengasuh Pondok Pesantren Al Masruriyah, Tebu Ireng Jombang. Saya buka beberapa group WA, sama.

Saya memanggil beliau Gus Zaki. Kenal lewat fesbuk, entah tahun berapa. Suatu saat saya mosting foto sedang ziarah ke makam Gus Dur, beliau langsung nginbox mempersilakan mampir. Ndalem beliau memang tepat di depan Pondok Pesantren Tebu Ireng, yang kalau kita mau ke makam Gus Dur ya tentu melewatinya.

::

Saya diperkenalkan pada istri beliau, Ning Santi. Cantik, kalem. Gus Zaki juga memanggil semua putra putrinya, dan diminta salim pada saya. Makdeg. Dari sini saya merasa bukan saja diterima sebagai sahabat, tapi juga sebagai saudara. Dan memang, begitulah sikap beliau pada semua orang. Pada siapapun, tak pernah membedakan perlakuan. Selalu ramah, hangat dan menyenangkan. Guyonannya juga selalu segar.

Pada sowan Jombang yang kesekian, saya diminta mengisi materi untuk santri Al Masruriyah. Saya tidak berani menolak. Tapi untuk menyanggupi juga gamang. Sebab pagi hingga siang hari itu, saya harus belajar bersama ibu-ibu di PP. Al Hikam, sore sowan Tambak Beras, ba’da maghrib ngisi untuk asrama Al Faros dan santri putri Tebu Ireng. Besoknya sudah harus pulang, “Kalau begitu, semalam apapun Ning Evi harus kesini”.

Saya hanya tersenyum, karena saya pikir guyon. Pkl 21.00 saya baru berpamitan pada Bunyai Farida Sholahuddin Wahid, lalu fota foto dengan santri, ngobrol dengan Ning istri Gus Fahmi…sampai Al Masruriyah sudah pkl 22.00.

Sepi. Santri sudah istirahat. Ternyata serius, Gus Zaki dan Ning minta pada pengurus agar semua santri dibangunkan. Pelatihan tengah malam. Duh, kenangan tak terlupakan.

::

Sejak saat itu, setiap ke Jombang saya sempatkan sowan Gus Irfan dan Gus Zaki.

Semangat beliau luar biasa. Jika berdiskusi tentang pendidikan dan pesantren, Gus Zaki tahan berjam-jam. Tentu, didampingi Ning yang terus tersenyum meneduhkan. Cita-cita beliau untuk dakwah dan agama, sangat tinggi. Mendengarkan tiap ngendikannya, saya selalu mendapat ilmu berlimpah. Diselingi humor khas kyai NU, analisa beliau selalu tajam dan bernas. Maka tiap sowan, bismillah saya niatkan mengaji dan memohon doa.

Sering juga beliau memberi contoh dengan menceritakan keteladan para sesepuh Tebu Ireng. Tadzim beliau pada guru kyai dan para pendahulu, termasuk Gus Dur, selalu diungkap dengan, “Doakan kami bisa meniru dan meneruskan perjuangan beliau semua nggih”.

Sampai akhirnya beliau mendirikan sekolah SMPT Al Chodidjah, “Tolong, Ning Evi berkenan membantu ya”.

Jujur, saya belum bisa membantu optimal. Mendampingi para murid dan guru disanapun, saya baru ingah ingih. Padahal tiap saya datang, sambutan beliau sekeluarga selalu membuat saya malu. Saya merasa punya “hutang” pada Gus Zaki 😢

::

Terakhir bertemu beliau, ketika acara Silatnas Bunyai Nusantara di Surabaya tahun lalu. Gus Zaki adalah ketua RMI (Rabithah Maahid Islamiyah) Jawa Timur, dan silatnas adalah bagian dari gawe RMI.

Saya hadir terlambat karena harus ke Jogja lebih dulu. Tapi lagi-lagi, sambutan beliau membuat saya merasa makin kerdil. Tawadlu’nya itu. Duh. Kami sempat membicarakan beberapa hal, saya matur dan mengenalkan pada sahabat. Gus Zaki menyampaikan satu dua poin penting, lalu mengajak saya berfoto bersama Ning sebelum saya pamit ke Banyuwangi.

Saya tidak menyangka jika itu menjadi pertemuan terakhir 😢

Setelahnya, tiap mau sowan lagi, selalu gagal. Berkali juga beliau dan keluarga menyampaikan keinginannya main ke Lampung.

Kini, beliau telah berpulang. Gus Zaki, salah satu guru terbaik telah dipanggil kembali oleh Rabb yang sangat mencintainya.

Sedih, sangat. Ada beberapa kitab besar dan beberapa kaos bergambar KH. Hasyim Asyari, datuk beliau, yang diberikan pada saya, suami dan anak-anak. Sajadah dan buku-buku. Juga kumpulan wirid kecil dan ijazah doa-doa. Kami akan merawatnya sekuat yang kami bisa. InsyaAllah.

::

Sugeng tindak, Gus. Sugeng tindak, guru terbaik.


Bandar Lampung, 01 Juli 2020.

Hidupkan Sunnah, Santri MU Adakan Shalat Gerhana

Previous article

SELAMAT BERJUANG, DOKTER

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.